Gaya Hidup Agregasi    Sabtu, 15 Desember 2018 / 06:42 WIB

Masyarakat Indonesia Salah Mengartikan Diet?

MEMILIKI tubuh yang langsing dan ideal, tentu menjadi impian bagi banyak orang. Namun, untuk mewujudkan hal tersebut ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan.

Dibutuhkan komitmen yang kuat untuk mengatur pola makan dan mengubah gaya hidup, yang selama ini kita kenal dengan istilah diet. Sayangnya, diet seringkali disalahartikan sehingga memicu timbulnya paradigma yang salah di tengah masyarakat. Oleh karena itu, Ahli Nutrisi Indonesia, Jansen Ongko, M.Sc, R.D, mengimbau agar masyarakat tidak tergiur dengan beberapa jenis diet yang tengah booming di media sosial.

"Diet itu konotasinya sekarang sudah negatif. Sedikit makan untuk menurunkan berat badan. Padahal, diet yang baik itu mengonsumsi makanan yang pas dengan porsinya, tidak berlebihan juga tidak dikurang-kurangkan," tutur Jansen Ongko, di Cikupa, Banten, Jawa Barat, Rabu (12/12/2018).

Lebih lanjut, Jansen menjelaskan, diet juga harus diimbangi dengan olahraga yang rutin. Untuk menurunkan berat badan, yang harus diturunkan itu kadar lemaknya. Proses pembakaran lemak sendiri tidak akan berjalan maksimal jika seseorang hanya mengurangi atau menghindari makanan tertentu.

"Kalau mau menurunkan berat badan untuk orang yang obesitas bukan ngurangin makanannya dulu. Tetapi bakar dulu lemaknya. Saya selalu bilang ke klien saya, 'Kamu bebas makan apa saja tapi harus olahraga'. Artinya, 'you just need to eat right," ungkap Jansen.

Hal ini juga berkaitan dengan asupan gizi dibutuhkan oleh tubuh. Menurut Jansen, sumber gizi utama yang harus dipenuhi adalah protein dan cairan.

Secara garis besar, makro nutrisi seperti air dan protein sangat penting untuk menjaga kesehatan tubuh. Jika salah satunya tidak terpenuhi, maka diet yang selama ini dijalani akan sia-sia.

"Ini berlaku juga untuk orang yang olahraga. Kalau enggak mau makan protein akan susah juga, karena untuk regenerasi sel, menaikkan massa otot, mengembalikan stamina itu membutuhkan protein," tutupnya. (*)