DIY Editor : Agus Sigit Rabu, 12 Desember 2018 / 12:32 WIB

Mau Bersaing di 4.0, Indonesia Perlu Takut Pada Cina

SLEMAN, KRJOGJA.com - UMKM menjadi salah satu andalan bangsa Indonesia dalam menghadapi revolusi industri 4.0 yang saat ini sudah dimulai. Rencana pembangunan jangka menengah nasional (RPJMN) 2015-2019 sebagaimana ditetapkan dalam Perpres Nomor 2 Tahun 2015 pun mengarahkan agar UMKM memiliki daya saing. 

Hal tersebut menjadi pembahasan hangat dalam acara diskusi publik yang diselanggarakan oleh Jaya Sejati Mandiri (JSM) dengan mengusung tema “Peran Pengusaha dalam Mengembangkan UMKM: Peluang dan kendalanya” yang digelar di The Rich Jogja Hotel Jl. Magelang Km. 6 Yogyakarta (12/12/2018). Diskusi tersebut melibatkan beberapa narasumber berkompeten seperti Dr Panutan S Sulendrakusuma dari Lemhanas RI, Dr Abidarin Rosidi dari FE AMIKOM Yogyakarta, Buntoro Ketua APINDO DPP DI Yogyakarta, Andi Palupi dari Perwakilan Bank Indonesia Yogyakarta serta dimoderatori oleh Esti Susilarti.

Ketua APINDO DPP DIY Buntoro mengatakan pihaknya mendukung kebijakan pemerintah dalam mengembangkan UMKM dan siap melakukan pembinaan teradap pelaku UMKM di era digitalisasi guna mensejahterakan kehidupan masyarakat khususnya di wilayah DIY. Apindo juga mengingatkan pentingnya pendampingan kepada pelaku UMKM dari invasi produk-produk Cina yang saat ini membanjiri pasar di Indonesia. 

“Kita harus meningkatkan kualitas sumber daya manusia, meningkatkan akses pembiayaan dan skema pembiayaan, meningkatkan nilai tambah produk dan jangkauan pemasaran, penguatan kelembagan usaha serta peningkatan kemudahan kepastian dan perlindungan hukum. Untuk itu diperlukan sinergi antara pemerintah, pengusaha, pakar ekonomi, pelaku UMKM serta stake holder lain untuk memajukan UMKM dari persaingan global,” ungkapnya. 

Negara-negara lain seperti Korea Selatan dan Singapura menurut dia memiliki ketakutan pada persaingan sehingga memacu diri untuk berkembang maju. “Nah, Indonesia ini harus punya ketakutan juga, mungkin Cina agar kita bisa berkembang serius maju di ranah industri. Barang Cina sangat mudah masuk dan membanjiri Indonesia, bagaimana kita bisa paling tidak bersaing,” tandasnya. 

Apindo menurut Buntoro memerlukan roadmap untuk memaksimalkan industri dalam negeri. “Kami siap menjadi contoh, karena semua wilayah Indonesia perlu menumbuhkan industri,  bukan hanya di Jogja saja tapi juga daerah lain,” tegasnya. 

Dr Panutan S Sulendrakusuma mengungkap Indonesia diprediksi masuk dalam 10 besar ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030. Peta jalan making Indonesia 4.0 di dorong oleh perkembangan revolusi industri 4.0, bonus demografi dan kebutuhan untuk menyediakan lapangan pekerjaan tambahan 10 juta. 

“Indonesia akan berfokus pada 5 sektor utama untuk penerapan awal dari teknologi ini, yaitu makanan dan minuman, tekstil dan pakaian, otomotif, kimia dan elektronik,” lanjutnya. 

Narasumber lain Dr Abidarin Rosidi dari FE AMIKOM Yogyakarta menyatakan bahwa di era digitalisasi berpotensi memberikan peningkatan net tenaga kerja hingga 2,1 juta pekerjaan baru pada tahun 2025. Saat ini beberapa jenis model bisnis dan pekerjaan di Indonesia sudah terkena dampak arus era digitalisasi, contohya toko konvensional menjadi toko online, taksi konvensional bergeser menjadi taksi berbasis online. 

“Ancaman yang akan dihadapi di era digitalisasi yaitu akan berkurangnya sekitar 1-1,5 miliar pekerjaan sepanjang tahun 2015 – 2025 karena digantikan posisi manusia dengan mesin otomatis. Responnya ya SDM kita harus bisa merespon kemajuan teknologi dengan skill antara lain kemampuan untuk memecahkan masalah, melakukan koordinasi, negosiasi dan persuasi, kemampuan listening, logical thinking dan monitoring, kemampuan untuk mengambil keputusan dengan pertimbangan yang matang, serta cognitive flexibility, creativity, logical reasoning, problem sensitivity, mathematical reasoning dan visualization,” tegasnya. (Fxh)