KOLOM Editor : Danar Widiyanto Kamis, 04 Oktober 2018 / 19:40 WIB

Sindrome Orangtua Pilot Helikopter

SEORANG juru parkir sibuk mengatur sepeda motor dan mobil di sebuah pasar di Yogyakarta. Usianya tak lagi terbilang muda, hampir 60 tahun. Dia lulusan salah satu SMAN favorit. Pun alumni perguruan tinggi negeri masyhur. Mengapa lulusan sekolah dan perguruan tinggi ternama di kota pelajar kehidupan sosial-ekonominya kurang berhasil? 

Tukang parkir itu, meminjam istilah Ifa Misbach, psikolog Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung, korban ‘Mother Helicopter Sindrome’. Dia anak tunggal. Sedari kecil sangat disayang dan dimanja ibunya. Ayahnya sudah lama wafat. Hanya figur ibu yang jadi role model. Ibu sangat protektif padanya. Anak tidak boleh takut, jatuh, susah, menderita, dan sengsara. Ibaratnya, semua urusan anak itu, diambil alih sang pilot helikopter yang tak lain ibunya. Si Ibu menjadi pencuri casting bagi peran-peran anaknya di masa belia maupun remaja. 

Urusan makan, mencuci pakaian, dan bersih-bersih rumah, pada masa lalu, yang seharusnya sebagian didelegasikan pada anak buat melatih kemandirian, diambil alih ibu. Anak cemerlang dalam nilai akademik itu tidak mampu menyesuaikan diri dengan kehidupan nyata di masa dewasa. Lajur-lajur syaraf kemandirian yang seharusnya terbentuk di masa belia dilumpuhkan ibunya. Inilah bahaya over protektif orangtua terutama untuk anak tunggal. Anak itu korban kasih sayang ibu yang berlebihan.

Korban Bahaya

Alarm senantiasa harus diwaspadakan bagi para orangtua single parent. Anak tunggal keluarga single parent punya segudang alasan untuk menjadi korban bahaya laten ibu yang merangkap sebagai pilot helikopter. Sindroma nan senantiasa mengincar keluarga kelas menengah atas well educated. 

Gejalanya anak kurang percaya diri, penakut, bingung mengambil keputusan, gampang bersedih, dan tidak mandiri. Di rumah anak cenderung sangat disayang ibu, kakek, dan neneknya. Urusan bangun tidur saja yang repot pembantu. Sarapan yang urus neneknya. Tak perlu turun ke meja makan. Neneknya yang mengantar sarapan ke kamarnya di lantai atas. 

Tantangan merupakan hadiah terbesar orangtua untuk anak mereka. Ibu harus tega terhadap anak tunggalnya. Kesulitan dan penderitaan itu melatih lajur syaraf keberanian mengambil tindakan. Jangan terlalu memanjakan anak dengan fasilitas yang dibeli orangtua. Anak jadi tidak mengerti makna kegigihan, keuletan, dan ketabahan memburu sesuatu yang bermakna karena sudah disediakan orangtua. 

Orangtua harus banyak berlatih meregulasi kecemasan dan ketakutan. Kecerdasan emosi berupa kemampuan mengontrol impuls-impuls negatif itulah kunci keberhasilan mendidik anak pada periode mesin pembelajar (5-12 tahun). Juga pada jendela pembelajar pemberontak (13-24 tahun). Ir Ciputra, maestro properti Indonesia, merupakan preseden orangtua yang sukses meregulasi diri dalam mendidik anak. Junita, Chandra, dan Cakra, tiga anak Ciputra, saat kuliah di San Fransisco selalu merasa tegang. Tidak bisa rileks. Mereka selalu dirundung kecemasan luar biasa. 

Sering gugup dan takut dimarahi. Situasi dan kondisi yang mengganggu kegiatan belajar. Mereka tidak mau kembali ke Indonesia. Psikolog yang menolong ketiga anak itu bilang kalau cara mendidik Ciputra terlalu keras. Realitas itu menampar batin Ciputra. Ia mulat salira hangrasa wani. 

Berani introspeksi untuk mengubah diri. Orangtua dan ketiga anaknya dipertemukan psikolog
dalam sesi rekonsiliasi saat menjalani terapi primal scream. Mereka saling bicara terbuka. Anak-anak rupanya selama bertahun-tahun tertekan akibat cara mendidik orangtua yang
keras dan menuntut kesempurnaan. Komunikasi Sehat Sikap Ciputra berubah total mendapati anak-anaknya tidak bahagia. Ia bersyukur mendapati realitas menyakitkan itu sebelum anak-anak menembus jauh masa dewasa. Ciputra berusaha memperbaiki pola komunikasi lebih sehat dan hangat dengan anak-anak. Bahkan langgam Ciputra memimpin perusahaan diperbarui. Ia menyadari pentingnya hubungan mendalam antarmanusia tanpa mengabaikan sikap perfeksionis pada pekerjaan.

Ada begitu banyak anak menderita tekanan batin tanpa diketahui orangtua. Anak-anak harus dididik percaya diri dan dipenuhi emosi positif. Terlebih pada tahun politik menjelang dan sesudah Pileg dan Pilpres 2019. Banyak contoh buruk manusia berkepribadian meledakledak, tegang, manipulatif, dan kekanakkanakan. Generasi muda Indonesia harus tetap dijaga kesehatan jiwanya di tengah preseden buruk ketidakwarasan politik.

J Sumardianta, Guru Sosiologi SMAKolese De Britto Yogyakarta.