KOLOM Editor : Danar Widiyanto Rabu, 03 Oktober 2018 / 18:58 WIB

Bencana dan Kemiskinan

BENCANA adalah mimpi buruk bagi siapa pun. Bencana gempa bumi dan tsunami yang menerjang Kota Palu dan Donggala, Sulawesi Tengah bukan hanya menyebabkan lebih dari seribu orang tewas. Tetapi juga menyebabkan kehidupan masyarakat yang menjadi korban menjadi jauh lebih sulit. Semua warga masyarakat yang menjadi korban bencana niscaya mengalami masamasa yang menyesakkan dan penuh air mata. Tetapi yang paling menderita tentu adalah warga masyarakat miskin. Bisa dibayangkan, apa yang bakal terjadi ketika masyarakat miskin tiba-tiba harus menghadapi bencana alam yang memporak-porandakan tempat tinggal dan usahanya. 

Keluarga miskin adalah keluarga yang secara ekonomi hidup dalam kondisi paspasan atau bahkan kekurangan. Mereka rentan, tidak berdaya, terisolasi, dan sering mengalami serangan penyakit yang menjadi roda penggerak kemiskinan ke arah yang makin kronis. Keluarga miskin yang menjadi korban bencana seperti yang terjadi dan dialami keluarga miskin di Lombok, Donggala dan Palu, niscaya taraf kehidupannya akan menurun drastis. Mungkin lebih sengsara karena kesempatan untuk mengembangkan usaha acapkali mentah kembali di tengah jalan. Semua yang dimiliki hancur terkena terjangan tsunami dan gempa bumi.

***
Sejumlah dampak yang terjadi ketika bencana tiba-tiba menyergap kehidupan masyarakat terutama masyarakat miskin adalah: Pertama, bukan hanya melahirkan tekanan kemiskinan dan kehidupan ekonomi keluarga yang makin memburuk, serta terjadinya proses pendalaman kemiskinan. Tetapi juga menyebabkan keluarga miskin kehilangan aset produksi dan kerusakan tempat tinggal yang ujungujungnya menyebabkan utang mereka makin meningkat. 

Kedua, tidak sedikit keluarga miskin akibat bencana kemudian usahanya menjadi terhenti, modalnya hilang, dan terpaksa sebagian di antaranya harus berganti pekerjaan, atau melakukan migrasi untuk mengadu nasib mencari pekerjaan di kota besar. Studi yang dilakukan penulis menemukan bahwa terjadinya seringkali menyebabkan keluarga miskin terpaksa gagal panen, mereka kehilangan aset produksinya, kehidupan sehari-hari terganggu karena genangan air yang tak kunjung surut, penyakit mulai berkembang. Di sisi lain utang meningkat dan ujung-ujungnya kehidupan keluarga-keluarga miskin itu menjadi lebih sengsara, karena mengalami proses pendalaman kemiskinan. 

Ketiga, upaya yang dilakukan keluarga miskin untuk bertahan hidup pascaterjadinya bencana. Selain berusaha mengatasi dengan kemampuan sendiri juga melakukan berbagai langkah penghematan. Seperti mengurangi kualitas menu makanan dan frekuensi makan sehari-hari. Tidak jarang mereka juga mengandalkan pada dukungan kerabat, pemerintah dan bantuan atau uluran tangan dari para dermawan yang peduli. 

Untuk jangka pendek, keluarga miskin yang menjadi korban bencana biasanya mengandalkan pada utang dan mengencangkan ikat pinggang. Namun, dalam perkembangannya kemudian mereka biasanya akan berusaha mencari pekerjaan, bekerja lebih keras dan menghidupkan kembali usaha yang ditekuni. Utang sendiri, meski pun seringkali menjadi jalan keluar yang paling realistis dilakukan untuk mengatasi kebutuhan hidup yang tidak bisa ditunda-tunda lagi.

***
Penanggulangan dan penyelamatan masyarakat miskin yang menjadi korban bencana tidaklah mungkin dilakukan sepotong-potong, apalagi hanya mengedepankan penanganan dalam situasi darurat. Program yang dirancang dan dikembangkan di lapangan dalam rangka mengeliminasi dampak bencana, benar-benar membutuhkan keterlibatan aktif masyarakat. Juga koordinasi yang baik di antara semua pihak, termasuk pemerintah, organisasi nonpemerintah, swasta dan bahkan dengan badan-badan internasional. 

Meski pun saat ini di berbagai daerah telah berkembang semangat otonomi dan kemandirian, namun yang namanya penanggulangan bencana seyogianya tidak dilakukan secara parsial dan sektoral. Apalagi dengan paradigma yang sifatnya fatalistik-responsif seperti yang biasa dikembangkan di masa lalu. Paradigma penanggulangan bencana dan penanganan korban bencana saat ini dan ke depan harus lebih bersifat preventif dan didukung potensi swakarsa masyarakat, terutama masyarakat miskin yang menjadi korban bencana. 

Mempersiapkan masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana agar mampu merespons situasi darurat. Dan segera ke luar dari malapetaka yang dialaminya secara mandiri, adalah jalan ke luar yang lebih menjanjikan dan berkelanjutan. Daripada hanya mengandalkan pada pemberian layanan yang sifatnya darurat dan parsial.

Prof Dr Bagong Suyanto, Guru Besar Kemiskinan FISIP Universitas Airlangga.