DIY Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 04 Desember 2018 / 12:42 WIB

JAFF ke 13 Hadirkan Film Kolaborasi Sutradara 3 Negara


YOGYA, KRJOGJA.com - Satu hari sebelum penutupan JAFF ke 13, Senin (03/11) di studio Empire XXI. Panitia menyajikan tiga buah film yang di produksi oleh tiga orang sutradara dari tiga negara dan tiga latar belakang yang berbeda. Tiga buah film tersebut dirangkum dalam satu tema besar, Asian Three Fold -  Mirror 2018 : Journey. 

Film yang baru di rilis pada 26 Oktober 2018 lalu di Tokyo International Film Festival ini menggaet banyak perhatian pengunjung. sebagian besar kursi penonton nampak penuh, penonton juga nampak antusias dengan tidak meninggalkan studio sebelum film usai. 

Film pertama di Sutradarai oleh Degena Yun, seorang pengarah adegan dari negeri China, berjudul 'The Sea'. Kisah mengenai sepasang ibu dan anak perempuannya yang melakukan perjalanan panjang membawa abu kremasi suami atau ayah mereka untuk ditaburkan di lautan. Dalam perjalanan panjang mereka, ada banyak hal menarik yang juga sarat akan pelajaran hidup yang dapat dipetik. 

Selanjutnya adalah film garapan Daishi Matsunaga yang bertajuk 'Hekishu' berkisah tentang perjalanan seorang pengusaha asal Jepang yang melihat realita masyarakat Myanmar ketika rumah mereka digusur oleh pembangunan. Selain melihat aksi para aktris dan aktor, penonton juga disuguhi pemandangan kehidupan sehari – hari masyarakat Myanmar dan beberapa bentuk kain khas wilayah Myanmar.

Ketiga adalah film yang diproduksi oleh Sutradara asal Indonesia, Edwin berjudul 'Variabel No.3.' Bekerja sama dengan aktris dan aktor kenamaan Indonesia, yaitu Nicholas Saputra, Oka Antara dan Agni Pratistha. Kisah yang diperankan tiga aktor tersebut adalah sepasang suami istri yang sedang berlibur ke Jepang. Kemudian bertemu dengan  sesosok laki – laki misterius yang berperan sebagai variabel nomor tiga. 

"... And why i decided to go to shoot in Tokyo is actually cheeper than ehehe...” tutur Edwin saat menjelaskan alasannya mengenai pemilihan latar cerita dari filmnya. 

Menurut pengakuan Edwin, salah satu bagian aturan dalam memproduksi film ini adalah berkolaborasi dengan filmmaker dari negara dan kebudayaan yang berbeda. Jadi ia dapat membuat film di negara manapun  atau membuat film di Indonesia berkolaborasi dengan pemain film atau crew dari negara lain. 

Tidak hanya tampil dalam film ketiga, Nicholas Saputra juga hadir dalam dua film sebelumnya. Sebagai sebuah film yang terangkum dalam satu judul besar “Journey”, Nicholas Saputra berperan sebagai seseorang yang cukup berpengaruh karena kehadirannya memberikan efek pada scene selanjutnya. 

Menurut Daishi sendiri, membuat film di Tokyo sama susahnya dengan membuat film di negara lainnya. Sedikit berbeda dengan film yang ia buat di Myanmar, di negara tersebut ketika sudah mendapatkan ijin dari petugas berwenang, filmmaker bisa mengambil gambar dimana saja tanpa ijin lebih lanjut."Seperti adegan di gerbong kereta, itu dilakukan begitu saja tanpa ijin.” Ucap Daishi melalui penerjemah bahasa yang mendampingi. 

Sama seperti rangkaian pemutaran film dalam acara JAFF, panitia juga menghadirkan sesi tanya jawab di sesi akhir setelah film usai. Salah satu pertanyaan datang dari Danitri (23) mengenai proses kreatif yang terjadi diantara tiga sutradara yang memiliki perbedaan latar belakang dan negara. 

Edwin menjawab dengan menjelaskan bahwa sudah biasa bagi filmmaker untuk bekerja bersama dengan seseorang yang berbeda latar belakangnya. Hanya saja, dalam produksi film ini ada hambatan lebih, salah satunya adalah dalam hal bahasa. Hambatan lainnya adalah tingginya tingkat privasi yang dijaga oleh orang Jepang. Sehingga dalam setiap shoot film harus mendapatkan ijin dari warga sekitar. 

Jika film 'Hekishu' dan 'Variable No 3' di wakili oleh masing – masing sutradaranya, film “The Sea” diwakili oleh Ma Sui sebagai bagian sinematografi. Ma Sui sedikit berbicara tentang kesulitannya bekerja bersama Nicholas Saputra atau sutradara dan crew lainnya karena memiliki perbedaan cerita dan budaya. 

Meskipun dihiasi dengan hambatan dalam bidang bahasa, namun film produksi kolaborasi film maker dari tiga negara ini berhasil menggambarkan kata ‘Journey’ sesuai dengan intepretasi maisng – masing. (Mutiara Chika)