Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 30 November 2018 / 18:41 WIB

BTN Adakan Akad KPR Massal di Semarang

SEMARANG, KRJOGJA.com - PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN),  menggelar  akad massal untuk pembelian kredit kepemilikan rumah (KPR) di Semarang Jawa Tengah.
Kali ini yang melakukan akad massal KPR mencapai  19.760 akad, yang mayoritas berasal dari kaum millenial yang berumur kisaran 21- 30 tahun.

“Akad massal ini mematahkan persepsi kalau mellenial tidak mau memikirkan rumah, buktinya hari ini banyak kaum muda yang memikirkan untuk membeli rumah. Kali ini akad massal rumah di Semarang ini mencapai 19.760 akad,” kata Direktur BTN Budi Satria di sela-sela Akad Massal BTN, di Semarang, Jawa Tengah (30/11).

Dikatakan, dalam akad massal KPR ini tidak hanya diikuti oleh warga Sematang saja, tetapi juga diikuti oleh masyarakat yang berasal dari DI Yogyakarta, Solo, Karang Anyar, dan bahkan dari daerah Kudus.

Dijelaskan, sejak BTN meluncurkan kredit rumah untuk kaum millenial atau KPR Gaeess  September lalu, dari Oktober hingga November 2018 transaksinya mencapai Rp 720 miliar  atau sekitar Rp 500 miliar per bulan. Karena itu, hingga akhir tahun 2018 ini diperkirakan transaksi KPR millenial ini mencapai Rp 1,5 triliun.Sedangkan tahun 2019 diperkirakan transaksi KPR millenial ini akan mencapai Rp 750 miliar per tahun.

"Segmen ini khusus apalagi penjualannya juga bisa on line dan juga memilih tempatnya, memang target kami hanya Rp 500 miliar per bulan. Dari Oktober ke November transaksinya sudah mencapai Rp 720 miliar. Tahun depan kita perkirakan transaksinya Rp 750 miliar per bulan ,” tegasnya seraya mengatakan program ini masih  termasuk rangkaian ulang tahun ke 42 KPR BTN.

Menurutnya, untuk KPR ini uang mukanya hanya 1 persen dengan tenor  hingga 30 tahun, dengan harga KPR mulai dari Rp 150 juta per unit untuk yang subsidi dan KPR non Subsidi sekitar Rp 250 juta hingga 300 juta per unit.

Dijelaskan Budi, adapun strategi penjualan KPR ini, BTN menggandeng pengembang  atau developer di setiap daerah. Juga dilakukan penjualan secara on line, juga kerja sama dengan instansi seperti TNI, Polri.

BTN juga memperluas pasar ke sektor non formal, ada perusahaan taksi, taksi on line dan asosiasi pedagang. Dan juga yang berbasis komunitas.

Sejuta rumah

Untuk program sejuta rumah, Dirut BTN, Maryono mengatakan, pencapaian program sejuta rumah BTN dari tahun ke tahun terus meningkat, jika pada tahun 2015 KPR yang disalurkan perseroan baru mencapai 474.099 unit senilai Rp 52,452 triliun, maka tahun 2016 penyaluran KPR mengalami kenaikan signifikan menjadi 595.566 unit senilai Rp 63,995 triliun. Pada 2017 sebanyak 667.312 unit senilai Rp 71,538 triliun.

Untuk tahun ini BTN optimistis penyaluran KPR bisa tembus 750.000 unit. Hingga akhir September 2018 KPR yang sudah disalurkan sebanyak 574.444 unit senilai Rp 54,933 triliun.
Sementara untuk penyaluran KPR yang dilakukan BTN mulai tahun 2015 terus mengalami peningkatan. Jika ditotal sejak 2015 hingga akhir September 2018, BTN telah menyalurkan KPR sebanyak 2.311.421 unit senilai Rp 242,918 triliun.

Jumlah tersebut terdiri dari KPR subsidi sebanyak 1.571.740 unit senilai Rp 106,523 triliun dan KPR non-subsidi mencapai 739.681 unit senilai Rp 136,395 triliun.  “Dengan adanya program sejuta rumah  kini memiliki hunian yang layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) tidak lagi sekedar mimpi,” tegasnya.

Menurut Maryono, selain bisa mengurangi backlog perumahan, program sejuta rumah juga telah membuat ekonomi rakyat terus menggeliat. 

Misalnya ketika dibangun perumahan di kawasan tertentu, maka ekonomi di daerah tersebut pun bertumbuh, mulai dari kenaikan harga tanah, bermunculannya sentra ekonomi seperti pasar tradisional dan pasar malam hingga menjamurnya dagangan kuliner di komplek perumahan tersebut. Belum lagi bisnis material bangunan yang banyak permintaan dari para konsumen yang ingin merenovasi rumahnya menjadi lebih cantik.

"Jika investasi properti meningkat, kebutuhan rumah masyarakat terpenuhi. Setidaknya 170 industri turunan lainnya ikut terdongkrak dan banyak lapangan pekerjaan tersedia, yang pada akhirnya bisa mendorong pertumbuhan ekonomi,” kata Maryono.
Lebih lanjut dikatakan Maryono, berkah program sejuta rumah juga dirasakan BTN dari peningkatan kinerja yang sangat signifikan. Jika pada tahun 2015 laba bersih perseroan hanya Rp 1,85 triliun, maka di 2016 melonjak menjadi Rp 2,619 triliun dan pada akhir tahun 2017 kembali tumbuh menjadi Rp 3,027 triliun.

Sementara untuk tahun 2019 mendatang, Maryono mengatakan, BTN akan fokus pada bisnis untuk meningkatkan kinerja. Salah satu strategi yang akan dilakukan BTN adalah dengan  menargetkan pertumbuhan laba perseroan sekitar 16-19 persen pada tahun 2019. Adapun untuk target kredit dan dana pihak ketiga (DPK) BTN menargetkan pertumbuhan sekitar 15 persen. 
“Target pertumbuhan yang masuk dalam rencana bisnis bank (RBB) tersebut merupakan target konservatif dengan mempertimbangkan beberapa kondisi. Antara lain kenaikan BI 7 Days Repo Rate yang diekspektasikan akan berlanjut, dengan proyeksi 6 persen di akhir 2018 dan 6,5 persen di tahun 2019,” tegasnya. ( Lmg)