KOLOM Editor : Ivan Aditya Selasa, 27 November 2018 / 21:11 WIB

Ulama dan Gelombang Politik

MENJELANG kontestasi politik digelar selalu ada peristiwa silaturahmi yang berupa sowan atau kujungan dari para aktor politik kepada ulama, kyai, ustadz atau tokoh agama. Tujuannya tak lain untuk mendulang suara karena para tokoh agama ini dinilai memiliki pengaruh kuat kepada masyarakat. Bahkan dewasa ini tidak sedikit para tokoh agama dan para ulama ikut dalam mengambil peran dalam kontestasi politik maupun ikut terjun langsung kedalam politik atau maju menjadi pasangan calon bersaing dengan aktor politik dengan kubu-kubu lain.

Fenomena ini dapat kita rasakan dalam kontestasi politik pemilihan presiden 2019 yang akan datang. Kedua kubu calon melibatkan ulama untuk mendrongkak dan mendulang suara masyarakat, disatu sisi mengunakan Ijtima Ulama dan disisi lain mengusung salah satu ulama menjadi wakil presiden.

Hal ini dapat membingungkan masyarakat, mengenai siapakah ulama yang dapat menjadi suri tauladan dan dijadikan panutan. Bagi masyarakat kata 'Ulama' merupakan sebuah jabatan yang sakral, letak sakralnya terdapat pada ketinggian ilmunya dan tinginya akhlaqnya. Menurut ajaran Islam, Ulama memiliki kedudukan yang sangat tinggi dan berperan penting dalam kehidupan umat, agama, dan bangsa. Seperti salah satu hadist yang berbunyi 'Al-ulama waratsatul annbiya' yang artinya 'Ulama adalah pewaris nabi'.

Ulama selain disegani oleh masyarakat karena mempunyai kompetensi keilmuan yang kuat juga mempuyai pengaruh besar dalam kehidupan masyarakat. Seperti yang dikatakan oleh M Natsir dalam bukunya capita selecta, “Bagi masyarakat, fatwa seorang ulama yang mereka percayai berarti satu kata keputusan yang tak dapat dan tak perlu dibanding lagi. Sering kali telah terbukti, bagaimana susahnya bagi pemerintah negeri menjalankan satu urusan, bilamana tidak disetujui oleh alim"ulama di daerah yang bersangkutan. Sebaliknya pun begitu pula."

Karena ulama mempunyai pengaruh yang sangat kuat dimasyarakat tidak sedikit pihak-pihak yang memanfaatkan ulama dijadikan alat untuk mendapatkan kepentingan mereka baik oleh partai politik maupun pemerintah. Dalam hal ini tidak sedikit Ulama yang kemudian masuk kedalam wilayah politik tersebut.

Pada saat ini ulama kini sudah mengambil peranannya dalam dunia poltik, namun sayangnya didalam  politik dewasa ini identik dengan perilaku menyimpang dari yang haq, kebohongan.dan kecurangan. Dan tidak sedikit para Ulama yang berjuang didalam ranah politik kebanyakan hanya sibuk mengurusi pengikutnya sendiri dan hanya diam jika ada kemungkaran didepannya.

Ulama yang ingin berjuang dalam ranah politik semestinya menjadikan politik sebagai jalur ibadah dan pengabdian kepada umat. Mewujudkan aspirasi umat dan menentang segala bentuk kediktaktoran, meski hal itu dapat mengakibatkan kesengsaraan hidup pada dirinya dan keluarganya. Seperti yang dilakukan oleh salah satu tokoh ulama yang berjuang di ranah politik yaitu M Natsir.

M Natsur dalam berjuang diranah politik tidak mementingkan kepentingan pribadi dan hanya memikirkan kepentingan masyarakat dan umat. Ketika ditawari jabatan sebagai menteri oleh Soekarno, ia menolak karena dirasa akan merugikan masyarakat Indonesia. Selain itu, Walaupun M Natsir pernah menjabat sebagai perdana mentri tidak lantas menjadikan ia pribadi yang hedon, tetap sederhana bahkan bajunya penuh dengan tambalan-tambalan. Maka jika ada ulama yang terjun ke dunia politik, bisa memetik pelajaran dari M Natsir.

Tetapi melihat politik dewasa ini sepertinya terlalu utopis ulama yang terjun kedunia politk dapat mengikuti dan meniru apa yang dilakukan oleh M Natsir, karena politik saat ini hanya mementingkan kepentingan pribadi saja. Jika ulama terjun kedunia politik praktis dikhawatirkan dapat memecah belah masyarakat. Ulama yang dibutuhkan saat ini dalah ulama yang mampu meredam bahkan mendinginkan suasana politik. (Rizki Oktavian Nurjaman. Mahasiswa semester 7, Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta)