Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 27 November 2018 / 02:12 WIB

Rupiah Melempem, Harapan Bisnis Tak Surut

JAKARTA, KRJOGJA.com - Berdasarkan Business Barometer: Indonesia CEO Survey yang dilakukan oleh Oxford Business Group (OBG), para CEO yang disurvei tetap merasa optimis terhadap prospek bisnis di Indonesia. 

Namun, mereka memberikan tanggapan yang berbeda-beda terhadap upaya pemerintah dalam menarik investor untuk membiayai proyek infrastruktur menjelang pemilihan pada bulan April 2019.  Sebagai bagian dari survei tentang perekonomian dalam negeri, OBG selaku perusahaan riset dan konsultasi global mengundang 112 pemimpin perusahaan (CEO, COO, CFO, dan yang setara) dari berbagai sektor industri di Indonesia untuk melakukan wawancara tatap muka dan menanyakan beragam pertanyaan untuk mengukur sentimen bisnis. 

Hasil survey menunjukkan bahwa bahwa 80% responden menilai kondisi bisnis di Indonesia selama beberapa tahun mendatang akan menjadi positif atau sangat positif. Tingkat optimisme ini lebih tinggi dibandingkan dengan 76% responden dari hasil survei kami yang diterbitkan pada awal tahun ini.

Namun, hanya 43% responden yang menyatakan bahwa pemerintah Indonesia telah berhasil dalam melibatkan sektor swasta untuk mendukung pengembangan proyek-proyek infrastruktur dalam negeri. Sekitar 23% responden memberikan penilaian netral, sedangkan 29% lainnya menilai bahwa pemerintah tidak berhasil atau sangat tidak berhasil dalam meningkatkan public-private partnerships. 

Para responden juga memiliki tanggapan yang berbeda-beda mengenai kemudahan akses perkreditan di Indonesia. Sebesar 48% responden menyatakan bahwa akses perkreditan di Indonesia mudah atau sangat mudah, sedangkan 38% lainnya menyatakan sulit.

Saat ditanya mengenai jenis keterampilan apa yang seharusnya dimiliki oleh tenaga kerja dalam negeri, para responden menilai bahwa kepemimpinan (32%), teknologi komputer (21%), engineering (20%), dan research & development (16%) merupakan yang paling utama. Namun, para responden lebih menyoroti permasalahan mengenai banyaknya tenaga kerja dalam negeri yang tidak lulus SMP/SMA di Indonesia.

Survei ini juga menunjukkan adanya pergeseran persepsi para CEO mengenai faktor-faktor eksternal yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia dalam jangka pendek ataupun menengah. Para responden sangat khawatir terhadap kemunculan kebijakan proteksionisme dalam perdagangan dan kenaikan harga barang impor. Hal ini berbeda dengan survey sebelumnya di mana responen merasa sangat khawatir terhadap fluktuasi permintaan (demand) dari Tionghoa.

Seiring dengan berlanjutnya perselisihan antara AS-Cina dan kabar rancu mengenai dihapusnya Indonesia dari daftar pembebasan tarif ekspor ke AS yang terdapat dalam Generalised Scheme of Preferences, sebanyak 30% responden menilai bahwa kebijakan proteksionisme dalam perdagangan merupakan risiko paling utama yang dapat mempengaruhi perekonomian Indonesia. (*)