DIY Editor : Agus Sigit Rabu, 21 November 2018 / 15:52 WIB

Mereka Setia Menanti 'Rayahan' Gunungan, Ternyata Ini Sebabnya

YOGYA, KRJOGJA.com - Perayaan Maulid Nabi dalam rangka memperingati kelahiran Nabi Muhammad SAW di Yogyakarta selalu dimeriahkan dengan grebeg maulud. Grebeg maulud dimeriahkan salah satunya dengan keluarnya gunungan dari kraton Yogyakarta sebagai filosofi perwujudan sedekah raja kepada rakyatnya.
 
Masyarakat Yogyakarta mungkin sudah tidak asing dengan istilah Grebeg yang dalam satu tahun kalender jawa setidaknya terdapat tiga grebeg, yakni Grebeg Maulud, Grebeg Syawal, dan Grebeg Besar. 

Hari ini, Rabu (21/11) Grebeg Maulud diselenggarakan di alun-alun utara Yogya dengan suasana sangat meriah diawali dengan parade prajurit kraton lengkap beserta senjatanya, diikuti panji-panji kraton, tabuhan dari alat musik prajurit dan diakhiri 'rayahan' gunungan di halaman masjid gedhe Kauman. 

"Dengan tujuh Gunungan yang diarak dari pagelaran ke tiga titik tempat. Lima disimpan di halaman masjid, satunya disimpan di kantor gubernur, dan satunya disimpan di puro Pakualaman" ucap Suhartono selaku keamanan kraton Yogya. 

Demi mendapatkan berkah gunungan, masyarakat rela menunggu dari pagi demi menunggu mendapatkan isi gunungan. "Saya setiap tahun menghadiri acara grebeg maulud ini, bagi saya apapun yang berasal dari gunungan yang sudah diberi doa oleh sultan harus dibawa, saya petani mempercayai kalo udah dapet ini untuk hasil tani saya akan lebih melimpah," ujar Slamet Raharjo, petani dari Maguwoharjo.

Jika tidak bisa mendapatkan barang yang ada di gunungan itu secara langsung keberkahan pada makanan yang ada di gunungan itu tetap ada walau sudah jatuh dan terinjak-injak, menurut Sadiem seorang ibu yang tidak bisa berdesakan dikala sedang berebut gunungan. "Ngalap berkah, karena kalo dapet ini keinginannya bisa tercapai, dan buat petani menurut kepercayaan saya akan melimpah hasil taninya, walau sudah dibawah dan terinjak-injak nilai berkahnya tidak berkurang sedikitpun karena buatnya lama," Katanya.

Sadiem pun mengakui bahwa kepercayaannya ini menghasilkan hal positif, ia selaku petani mengaku hasilnya baik dan melimpah dikala menyebarkan hasil gunungan ini di ladangnya. "Menurut kemantaban keyakinan saya, walau gak harus subur tapi kalo dijual ada saja hasilnya," tuturnya menutupi. (*)