Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 20 November 2018 / 10:10 WIB

Pengguna Medsos Belum Peka Berita Fakta

SOLO, KRJOGJA.com  - Dikarenakan pengguna media sosial (medsos) belum menyadari kalau berita yang diunggah harus berdasar fakta, penyebaran hoax atau berita bohong yang terjadi sekarang ini  semakin parah. Kondisi ini salah satunya disebabkan karena minimnya minat literasi masyarakat terhadap media sosial. 

 Banyak masyarakat yang hanya membaca judul berita yang disebar secara masif tanpa memahami isi dari berita tersebut.  "Masyarakat yang mempunyai gadget, punya whatsapp, telegram, aplikasi perpesanan ternyata tidak begitu suka membaca sebuah berita. Misalkan ada link berita mereka juga tidak mau membukanya, melainkan hanya mengambil judulnya saja," ujar Blogger kenamaan Solo, Blonthank Poer saat diskusi bertajuk "Pengaruh Media Sosial Terhadap Dinamika Sosial-Politik di Indonesia," di wedangan Cendana Wangi di kompleks Pasar Gede, Solo, Senin (19/11/2018). 

Selama ini, Blonthank melanjutkan, banyak masyarakat yang tidak mencoba mencari tahu terkait informasi yang beredar. Tentunya ini akan semakin menjadi masalah ketika masyarakat tidak mempunyai kepekaan terhadap setiap informasi yang beredar. Kondisi ini menurut Blonthank, menunjukkan bahwa literasi masyarakat masih sangat rendah. "Kita juga tidak cukup peduli dengan yang terjadi di sekitar kita. Memberitahu warga di lingkungan terdekat, terkait informasi yang beredar," ucapnya. 
 

Padahal, informasi tersebut belum bisa dipastikan kebenarannya. Kondisi akan semakin parah jika terjadi pada masyarakat awam. Mereka akan begitu percaya saat ada informasi yang beredar disertai dengan link berita yang ada.

Apalagi, menurut Blonthank membuat website itu begitu mudah. Dan sekarang banyak link yang mempunyai kemiripan dengan link media online yang sudah terpercaya. "Padahal membuat web itu sangat mudah, misalkan dengan dot com, dot co dan orang awam tidak tahu soal itu," terangnya. Maka dari itu, Blonthank berharap dengan adanya diskusi ini setidaknya akan memantik kepedulian masyarakat untuk lebih selektif dalam menerima informasi. 

Pembicara lainnya Giri Lumakto, media sosial di Indonesia terbelah menjadi dua kubu, sesuai munculnya dua kandidat presiden/ wakil presiden di tahun politik 2019. "Perseteruan di media sosial kadang aneh, selalu mencaci maki yang lawan orientasi politik. Namun herannya kalau keduanya kenal di dunia nyata, permusuhan akut dunia maya itu bisa hilang, malah kedua pemilik akun yang beda orientasi politik di dunia nyata itu itu bisa ngopi bareng dan ketawa-ketawa seolah lupa perseteruan di dunia maya," ujar pembicara dari kalangan akademisi itu. (Hwa)