Pendidikan Editor : Danar Widiyanto Minggu, 18 November 2018 / 16:51 WIB

Perlu Kajian Dampak Jangka Panjang tentang Penggunaan Alat Kontrasepsi

USAI penutupan Konferensi Internasional Dua Tahunan Asia Tenggara mengenai Kependudukan dan Kesehatan 2018, Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Muhammad Rizal Martua Damanik mengungkapkan Indonesia perlu melakukan penelitian soal efektivitas alat kontrasepsi ‘zaman now’.

“Nah, bagaimana efektivitas alat kontrasepsi sekarang. Hasil analisisnya gimana sih. Dampak penggunaannya seperti apa. Katakanlah seorang pasien sudah menggunakan IUD (Intrauterine Device) selama 10 tahun itu jadinya (efek) kayak gimana,” ungkap Damanik saat ditemui di di Singhasari Resort, Kota Batu, Malang, Jawa Timur pada Jumat, 9 November 2018.

Di negara-negara lain, sudah dilakukan kajian terhadap penelitian mengenai dampak penggunaan alat kontrasepsi jangka panjang. Contohnya, jurnal Modification of the Associations Between Duration of Oral Contraceptive Use and Ovarian, Endometrial, Breast, and Colorectal Cancers, yang dipublikasikan di JAMA Oncology pada April 2018 memaparkan, penelitian soal efek jangka panjang penggunaan alat kontrasepsi oral terhadap kejadian kanker ovarium (leher rahim), endometrium (lapisan rahim), payudara, dan kolorektal (usus).

Amerika Serikat juga sudah melakukan penelitian jangka panjang tentang penggunaan alat kontraspesi. Penelitian menggunakan data NIH-AARP Diet and Health Study-National Cancer Institute, pada 1995-1996, yang dilanjutkan memantau partisipan yang sama sampai 2011.

Sebanyak 100.000 partisipan yang diteliti tersebar di enam negara bagian dan dua wilayah metropolitan. Seluruh partisipan adalah wanita yang menggunakan kontrasepsi oral. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan kontrasepsi jangka panjang secara konsisten dikaitkan dengan penurunan risiko kanker ovarium.

“Kami mengamati pengurangan risiko terbesar (penggunaan kontrasepsi oral) untuk kanker endometrium di antara wanita yang berisiko alami penyakit kronis,” tulis peneliti Michels.(*)