DIY Editor : Danar Widiyanto Minggu, 04 November 2018 / 12:30 WIB

'MEJIKUHIBINIU', Pementasan Teater Monolog yang Unik dan Kritis

YOGYA, KRJOGJA.com - Keberadaan seni pertunjukkan teater masih jarang diminati oleh masyarakat Indonesia dan dianggap hanya konsumsi kalangan tertentu, padahal tidak demikian. Beragam pertunjukkan teater tentunya menyimpan beragam makna dan pesan yang tersirat. Bersama Teater Eska UIN Sunan Kalijaga, Trocoh Teater mempersembahkan pentas Monolog 7 Rupa MEJIKUHIBINIU pada Sabtu (03/11/2018) pukul 20.00 WIB di Gelanggang Eska UIN Sunan Kalijaga.

Pentas Monolog 7 rupa ini merupakan karya dari Hamdy Salad, seorang penyair dan juga merupakan Dosen Creative Writing di Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Yogyakarta dan disutradarai oleh Suryadin Abdullah yang digarap selama kurang lebih dua bulan. Selama kurang lebih 60 menit, Satu aktor dengan penjiwaan yang mendalam menampilkan monolog dengan 7 karakter sekaligus. 

“Kurang lebih sih 40 hari untuk mendalami karakternya, trus kesulitannya itu dalam memerankan 7 karakter, sulit harus menjadi 7 karakter ini, aku emang biasa monolog, tapi aku terbiasa dengan satu kursi dan satu lampu dengan satu cerita,” ungkap Zadin (25), selaku aktor yang memerankan.

Penampilan monolog dengan tema Mejikuhibiniu ini membahas tentang kapitalisme, kekuasaan dan kemerdekaan. Pentas ini tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pesan-pesan kepada para penonton yaitu gambaran bahwa ideologi yang selama ini kita jalani dan tidak kita sadari sebenarnya hadir dan saling berkaitan satu sama lain. 

“Kami mengusung tema mejikuhibiniu ini untuk memperlihatkan realitas yang sudah tercampur aduk ideologi, naskah ini punya sisi pandang lain untuk menyikapi itu, mejikuhibiniu itu diambil dari warna pelangi yang merupakan simbolik dari 7 karakter yang hadir,” tutur Suryadin Abdullah (24), selaku sutradara. 

Sudah berpuluh-puluh tahun kita memetik buah kemerdekaan, tetapi kita tidak pernah tahu bagaimana rasanya kemerdekaan. Kepada siapa kita harus tunduk? Kepada siapa kita harus percaya? Itulah cuplikan pertanyaan - pertanyaan menggelitik dalam pementasan ini. Pementasan teater ini tidak hanya digelar di Yogyakarta, tetapi juga di 6 Kota lainnya seperti Kebumen, Purwokerto, Kudus, Semarang, Magelang dan Solo. 

"Keren, penampilan hari ini itu aku bener-bener merhatiin banget. Dari penampilan sebelumnya, ini tuh dapet banget monolognya gitu.” ujar Titi Soleha (21), salah satu penonton yang hadir. Antusias penonton sangat bagus dilihat dari banyaknya yang hadir dan memenuhi gelanggang teater. Acara ini diakhiri dengan sarasehan bersama. (Betty Rofiatun Nisa)