DIY Editor : Danar Widiyanto Minggu, 28 Oktober 2018 / 22:30 WIB

Ketika Generasi Penerus Pencak Silat Unjuk Kebolehan di Hadapan Wisatawan

YOGYA, KRJOGJA.com - Halaman Museum Serangan Oemoem 1 Maret di titik 0 kilometer Yogyakarta tampak lebih ramai dari biasanya, Minggu (28/10/2018). Ratusan pesilat muda dari 27 tim perguruan silat berkumpul untuk mengikuti Gelar Lomba Koreografi Pencak Anak. 

Lebih menarik lagi, kali ini ada satu peserta undangan yang datang jauh dari Berlin Jerman. Selama seminggu terakhir mereka memang tengah berguru silat di kawasan Ledok Sambi Pakem dan memutuskan ikut tampil dalam lomba tersebut. 

Gerakan lincah dan kompak dengan rancangan koreografi menarik ditampilkan pesilat anak yang juga calon generasi penerus pesilat Indonesia. Wisatawan dan masyarakat yang berada di seputaran titik 0 kilometer pun tersita perhatiannya hingga bersedia menonton sembari duduk lesehan di halaman monumen tersebut. 

Ketua Panitia Penyelenggara, Suryadi mengatakan lomba koreografi pencak anak dibuat untuk semakin mempopulerkan silat kepada masyarakat secara luas. Tahun ini tercatat 27 tim ikut serta yang berasal dari berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Cilacap, Wonosobo, Magelang, Muntilan serta tuan rumah Yogyakarta. 

“Kami ingin memberikan pengalaman bagi anak-anak dalam berproses mementaskan koreografi silat. Harapannya, nanti jauh kedepan mereka bisa membuka mata masyarakat bahwa pencak silat bukan hanya soal pukul memukul saja tapi ada seni budaya didalamnya,” ungkapya di sela lomba. 

Suryadi menyampaikan satu juara nantinya akan mendapatkan piala bergilir KGPAA Paku Alam X. Dukungan penuh Pemda DIY, Pemkot Yogyakarta serta IPSI DIY membuat penyelenggaraan acara tersebut terus berjalan di setiap tahunnya. 

Sementara perwakilan Tangtungan Project, Arief Baskoro menambahkan perguruan Bongot Harimau dari Berlin Jerman ikut ambil bagian dalam perlombaan kali ini. Selama ini para atlet di Jerman hanya mempelajari pencak sebagai olahraga dengan karakter fight atau tanding saja tanpa memahami makna sebenarnya seni beladiri asli Indonesia ini. 

“Mereka ikut lomba ini sebagai wujud bahwa mereka niat mempelajari pencak silat sesuai hakekatnya. Sebelumnya mereka menjalani camp silat dan belajar banyak dari guru-guru berbagai perguruan di tanah air,” tandasnya. (Fxh)