DIY Editor : Danar Widiyanto Minggu, 28 Oktober 2018 / 19:50 WIB

Ungkap Kegelisahan Ruang Berekspresi, Seniman Yogya Tampil di Titik Nol

YOGYA, KRJOGJA.com - Minggu (28/10/2018) Indonesia memperingati 90 tahun lahirnya hari Sumpah Pemuda. Berbagai aksi dilakukan untuk memaknai lebih dalam peringatan tonggak awal bersatunya pemuda sebagai sebuah bangsa dengan bahasa yang sama, Indonesia tersebut. 

Di masa industri 4.0 ini, anak-anak muda Indonesia dituntut untuk menguasai teknologi. Internet dengan industri digital di dalamnya membawa perubahan peradaban yang membutuhkan kemauan belajar dan berkreasi dari generasi muda. Namun terkadang, kemajuan teknologi dengan segala kebaikannya tetap memunculkan permasalahan yang dihadapi insan muda Indonesia. 

Di titik 0 kilometer Yogyakarta, seniman-seniman Yogyakarta seperti Jogja HipHop Foundation (JHF), Pragina Gong, Gamelan Mben Surup hingga Jogjakarta Video Mapping Project tampil menunjukkan bakat berkesenian. Para seniman turut memperingati Sumpah Pemuda sekaligus merespon kegelisahan kurangnya ruang berekspresi untuk menjadi diri sendiri. 

Kreator aksi, Ari Wulu mengatakan ide awal menggelar peringatan Sumpah Pemuda di kawasan titik 0 kilometer muncul dari We The Youth yang berkolaborasi bersama Komunitas Gayam dan organisasi pemuda di 10 kota Indonesia. Di tiap kota menurut Ari, para pemuda akan merespon kegelisahan atas permasalahan yang dihadapi dan berusaha mengurai bersama-sama. 

“Di Jogja kita merasa gelisah karena belum punya gedung pertunjukkan dengan fasilitas profesional, galeri yang terbuka dan mudah diakses serta berbagai sarana pendukung lain dalam berkreasi. Namun kemudian, pemuda di Jogja lantas tak berhenti di situ karena kekurangan tersebut kemudian memunculkan gagasan kreatif yang lantas melahirkan ruang alternatif secara swadaya,” ungkapnya di sela acara. 

Di sisi lain, Yogyakarta dinilai punya kegelisahan lain di mana kebutuhan ruang publik yang semakin besar tidak berbanding lurus dengan ketersediaan dari tahun ke tahun. Taman kota yang belum ada, ruang untuk pejalan kaki, fasilitas bagi difabel hingga angkutan umum memadahi dirasa menjadi kebutuhan mendesak untuk direalisasikan. 

“Yogyakarta sekali lagi sebagai kota budaya, seharusnya bisa menjadi lebih beradab dengan memperhatikan kebutuhan atas ruang publik untuk manusianya. Sungguh tidak mudah merumuskan permasalahan yang dihadapi anak muda Jogja saat ini karena di setiap keterbatasan muncul gagasan dan solusi yang menyenangkan,” sambungnya. 

Saat aksi berlangsung, para seniman dan masyarakat yang berada di titik 0 kilometer sempat mendeklarasikan Sumpah Pemuda sebagai bentuk peringatan sekaligus memaknai lebih dalam arti sumpah yang mempersatukan pemuda Indonesia tersebut. (Fxh)