DIY Editor : Agus Sigit Senin, 15 Oktober 2018 / 05:12 WIB

Belajar Seni Menata Kehidupan dari Rock Balancing

“CARI yang gede, yang pipih, yang besar!”. Teriakan seperti itu acapkali terdengar di sepanjang aliran Kali Code, bagian Kampung Jetisharjo tepatnya. Terdengar juga berkali-kali bunyi bebatuan jatuh bersamaan dan cipratan air diikuti oleh teriakan riuh rendah orang-orang.

Mereka bukannya sedang berkelahi ataupun sedang main lempar-lemparan batu di kali, melainkan sedang mengikuti salah satu cabang lomba dalam acara Festival Blusukan Kangen Kampung, lomba susun batu atau Rock Balancing yang digelar di Kampung Wisata Code Cokrodiningratan, Yogyakarta (14/10/2018).

Rock Balancing atau seni menyusun batu menjadi bertingkat-tingkat memang sedang populer akhir-akhir ini. Bukan hanya konsentrasi tinggi yang diperlukan untuk menumpuk batu setinggi mungkin, namun juga dibutuhkan strategi dan ketepatan memilih batu yang sesuai agar menara batu yang telah disusun tidak jatuh berantakan.

Jika itu yang terjadi peserta harus mengulang kerja kerasnya dari awal lagi. Kerja sama tim tentu saja diperlukan untuk menyelesaikan lomba.

Baca Juga : 

Rock Balancing, Bukan Mistis Tapi Seni

Rock Balancing, Hobi yang Bisa untuk Terapi

Para peserta rock balancing berasal dari kalangan mahasiswa, masyarakat, hingga dari kalangan dosen magang. Peserta  dibagi menjadii 20 tim dengan satu tim berisi 3 orang.

Mereka diberi waktu selama kurang lebih dua jam untuk menumpuk batu setinggi dan sekokoh mungkin. Mereka saling membagi tugas, ada yang bertugas mencari batu yang dianggap paling ideal untuk ditumpuk, ada yang berusaha menjaga keseimbangan dengan melindunginya dari arus air ataupun angin. 

Peserta yang memiliki konsentrasi tinggi mungkin adalah mereka yang ditugaskan menumpuk batu. Satu, dua, tiga hingga empat batu pertama memang mudah, tapi untuk batu selanjutnya peserta harus mencari strategi kunci agar tumpukan batu bisa bertahan.

“Yeaaaa!!” Terdengar sorakan dan tepuk tangan dari sebelah utara kali. Kehebohan ini berasal dari peserta yang sudah berlama-lama dan bersusah payah menyusun batu hingga tinggi, namun ambruk seketika tidak lebih dari dua detik saja. Mereka merayakan kegagalan tersebut dengan tawa-tawa kecil, meski tentu saja ada rasa kesal.

Para penonton pun tidak kalah antusiasnya menyaksikan. Ikut tegang melihat peserta menyusun batu dengan hati-hati. Ikut berteriak apabila ada susunan batu salah satu kelompok runtuh.

Selain diuji dengan terik matahari Jogja yang menyengat, para peserta ini juga harus berhati-hati karena bebatuan kali yang mereka injak tidaklah seperti batuan aspal. Batuan kali memang sudah terkenal licin dan ‘bahaya’. Beberapa kali para peserta ada yang terpeleset dan nyaris jatuh, kalau saja tidak segera berusaha menyeimbangkan tubuh ataupun memegang lengan teman setimnya.

“Pertama kita gak tahu yang mana yang cocok. Batunya kan harus yang steady, yang tegak itu seperti apa, kita gak ngerti,” ungkap Riyanita Puspasari, dosen magang di Jurusan Teknik Industri UGM yang menjadi salah satu peserta. Riyanita tertawa malu saat ditanya sudah berapa kali menara batu timnya ambruk. “Udah berkali-kali, gak keitung,” pungkasnya dengan nada geli.

Terakhir, kalau boleh saya berfilosofi, Rock Balancing adalah representasi dari bagaimana seharusnya kehidupan dilalui. Menata menara batu seperti halnya menata hidup, berproses dari  titik terbawah, perlahan-lahan naik sampai akhirnya mencapai puncak tertinggi. Jika jatuh, kita hanya perlu menertawakannya, dalam artian tidak usah berlarut dalam kesedihan dan kemudian memulai lagi dari awal, dengan bekal pengalaman gagal sebelumnya. (Garin Essyad Aulia/KR Academy)