Peristiwa Editor : Ivan Aditya Sabtu, 06 Oktober 2018 / 07:51 WIB

Dolar Perkasa, Inflasi Barang Impor Tetap Terjaga

JAKARTA, KRJOGJA.com - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution mengatakan depresiasi nilai tukar rupiah di tahun ini masih belum berakibat signifikan terhadap inflasi akibat barang-barang impor (imported inflation). Hal itu diyakininya setelah melihat data Badan Pusat Statistik (BPS).

Menurutnya, imported inflation terlihat dari komponen inflasi inti (core inflation), yakni inflasi barang-barang secara umum di luar pangan bergejolak dan barang yang diatur pemerintah (administered prices). Data BPS per September 2018 menunjukkan inflasi inti ada di angka 2,38 persen secara tahun kalender.

Angka ini masih lebih baik ketimbang depresiasi rupiah terhadap dolar AS yang sudah menembus 10,24 persen pada periode yang sama. Meskipun memang, angka inflasi inti ini masih lebih besar ketimbang pergerakan Indeks Harga Konsumen (IHK) September yang meningkat 1,94 persen secara tahun kalender.

"Kalau dilihat core inflation, yang imported kan ada di dalam situ. Kalau year-to-date ini masih di kisaran 2 persen, jadi memang ada kenaikan tapi tidak banyak," tutur Darmin.

Ia menilai angka inflasi inti masih terbilang aman lantaran masih di bawah 3 persen. Hanya saja, ia masih perlu mengkaji seberapa jauh sumbangsih imported inflation terhadap inflasi inti secara keseluruhan.

Meski disebut belum berdampak signifikan terhadap inflasi, depresiasi rupiah tentu membuat nilai impor semakin melejit. Data BPS menunjukkan, nilai impor Januari hingga September yang sebesar US$124,19 miliar ini malah bertumbuh 24,52 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.

Menurut dia, impor migas adalah salah satu biang keladi pertumbuhan impor yang kian menanjak. Selain karena depresiasi rupiah, peningkatan impor migas juga disebabkan karena harga minyak dunia yang ikut melejit. BPS mencatat impor migas antara Januari hingga Agustus ada di angka US$19,77 miliar atau melonjak 28,29 persen dibanding tahun lalu US$15,41 miliar. (*)