DIY Editor : Ivan Aditya Senin, 17 September 2018 / 11:57 WIB

Harga Gabah di DIY Turun

YOGYA, KRJOGJA.com - Rata-rata harga gabah di DIY pada Agustus 2018 di tingkat petani turun 6,31 persen dari harga Rp 4.617 di Juli 2018 menjadi Rp 4.325,84/kg dan di tingkat penggilingan turun 6,24 persen dari Rp 4.667 di Juli 2018 menjadi Rp 4.375,84/kg. Tidak dijumpai observasi harga gabah di bawah Harga Pembelian Pemerintah (HPP) baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan di DIY selama Agustus 2018.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) DIY Johanes De Britto Priyono MSc menyampaikan, rata-rata harga gabah setiap bulan mengalami fluktuatif, harga tertinggi selama tiga bulan terakhir untuk gabah kualitas Gabah Kering Panen (GKP) di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan terjadi pada Agustus 2018. Gabah kualitas rendah selama tiga bulan terakhir menunjukkan fluktuasi harga yang signifikan baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan, harga tertinggi terjadi pada Juli 2018.

”Dibandingkan Juli 2018, rata-rata harga gabah kualitas GKP naik 0,60 persen dari Rp 4.789,58 menjadi Rp 4.818,18/kg di tingkat petani dan naik 0,59 persen dari Rp 4.839,58 menjadi Rp 4.868,- 18/kg di tingkat penggilingan. Sedangkan rata-rata harga gabah kualitas rendah turun 7,70 persen dari Rp 4.457,69 menjadi Rp 4.114,- 29/kg di tingkat petani dan turun 7,62 persen dari Rp 4.507,69 menjadi Rp 4.164,- 29/kg di tingkat penggilingan,” papar JB Priyono di Yogyakarta.

Dituturkan, harga gabah tertinggi di tingkat petani senilai Rp 5.500/kg pada gabah kualitas GKP dengan varietas Mentik Wangi terjadi di Sleman. Sebaliknya, harga gabah terendah di tingkat petani senilai Rp 3.950/kg pada gabah kualitas rendah dengan varietas Ir 64 terjadi di Bambanglipuro Bantul.

Berdasarkan hasil observasi gabah sebanyak 89 transaksi di DIY selama Agustus 2018 pada tiga kabupaten yaitu Kulonprogo, Bantul, dan Sleman, sebanyak 4 observasi (4,49 persen) berkualitas Gabah Kering Giling (GKG), 22 observasi (24,72 persen) berkualitas GKP dan sisanya 63 observasi (70,79 persen) berkualitas rendah.

”Jumlah observasi harga gabah kualitas GKG dan GKP mencapai 26 observasi atau 29,21 persen dari keseluruhan jumlah observasi selama Agustus 2018. Dari sejumlah observasi tersebut, tidak ditemui kasus harga gabah baik di tingkat petani maupun di tingkat penggilingan yang berada dibawah HPP di DIY,” tandas JB Priyono.

Untuk transaksi penjualan gabah kualitas rendah sebanyak 63 observasi atau 70,79 persen dari keseluruhan observasi transaksi penjualan gabah selama Agustus 2018, yang berpotensi mengalami kasus harga 1,12 persen berasal dari Kabupaten Kulonprogo, 67,42 persen dari Bantul, dan 2,25 persen berasal dari Sleman. (Ira)