DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 15 September 2018 / 14:57 WIB

MASYARAKAT PERLU DIEDUKASI

Perdagangan Berjangka Komoditas, Potensi Berkembang di Yogya

ANIK dan Anita mendengarkan dengan serius. Penjelasan mengenai investasi ini cukup menarik. Andri bisa menjelaskan dengan gamblang mengenai apa yang harus dan hendak dilakukan bila berinvestasi. Bayangan-bayangan keuntungan pun mulai merambah benak. Anik yang kini mukim di Magelang dan sudah bermain saham kecil-kecilan, mulai menghitung. Hanya Anik kemudian terhenyak ketika disebut investasi awal Rp 100.000.000. Meski tiga tahun silam mengawali investasi lebih dari itu, kini ia merasa tidak sanggup lagi. Suami yang sudah dua tahun ini stroke, memerlukan perhatian dan cash money yang bisa tiba-tiba.

Berbeda dengan Anita. Penjelasan Andri tidak menyurutkan langkah berinvestasi  memikirkan masa depan. Namun Anita – karyawan swasta di Yogya --  juga tidak akan gegabah, meski Andri sudah dikenal sejak kuliah. Anik meminta waktu untuk berfikir. “Setelah itu, saya melihat dulu  kredibilitas dari PT Rifan Financindo Berjangka (RFB), perusahaan pialang ini. Saya cek ke situs Bursa Berjangka Jakarta dan Bappepti,” papar  Anita mengenang pengalamannya. Melihat aktivitas transaksi dan kinerjanya, Anita memperoleh informasi bila perusahaan ini sebagai perusahaan pialang yang bonafid. Aturannya ketat dan transparan, disebut Anita sebagai hal yang disukai.

Informasi ini membuat Anita percaya bila RFB karena perusahaan pialang ini legal, dan memiliki track record yang baik. Ketika berinvestasi saya kemudian  didampingi minimal  tiga partner dari tim RFB. Selain itu data market research yang disajikan selalu update, sehingga membantu saya sebagi nasabah untuk melakukan keputusan investasi yang tepat.

Upaya yang dilakukan Anita dengan mempelajari terlebih dulu perusahaan yang menawarkan investasi, tentulah merupakan langkah cerdas yang dilakukan. Mengenal dan mengetahui kredibilitas perusahaan tersebut menjadi penting. “Saya tentu tidak ingin gambling bila ingin berinvestasi,” ungkapnya. Apalagi berinvestasi pada perdagangan berjangka komoditi (PBK), Sebab bursa berjangka Bursa berjangka adalah tempat/fasilitas memperjualbelikan kontrak atas sejumlah komoditi atau instrumen keuangan dengan harga tertentu yang penyerahan barangnya disepakati akan dilakukan pada saat yang akan datang. Kontrak itu dibuat antara pihak-pihak yang saling tidak tahu lawaan transaksinya.

***

SELAMA ini Yogyakarta lebih dikenal sebagai kota pendidikan, kota budaya dibanding kota dagang. Dan selama ini untuk berinvestasi orang lebih ‘melirik’ ke Kota Solo yang  dibanding Yogyakarta. Sebagai sama-sama ‘keturunan Dinasti Mataram’ yang dipisahkan oleh Perjanjian Giyanti, konon, aura bisnis lebih terasa di Solo,  ‘saudara kembar’ Yogya. Investasi dan bisnis di Solo juga sudah lebih lama dikenal.

Namun zaman berubah. Bisnis dan perdagangan tidak selalu harus menghadirkan fisik toko, ruko dan menggelar dagangan. Bahkan kini tidak sedikit kalangan muda pun memulai berbisnis ketika masih berstatus mahasiswa. Kini sebagai kota pendidikan, Yogyakarta kini dilirik dan memiliki investor potensial yang tidak sedikit. Dalam catatan bursa efek menurut Chief Business Officer (CBO) RFB Teddy Prasetya beberapa waktu lalu,  Yogya memiliki lebih dari 35.900 investor potensial. Jumlah yang dinilainya merupakan daya tarik sekaligus peluang yang dilirik RFB sehingga melakukan ekspansi ke Yogya.

Yogyakarta adalah salah satu kota dengan pertumbuhan ekonomi yang menjanjikan. Di kota ini para pelaku bisnis menjamur, terutama di sektor perdagangan, parawisata, transportasi dan komunikasi. Skala kegiatan usaha di Yogyakarta juga semakin luas dengan hadirnya beragam Usaha Kecil dan Menengah (UKM) yang tersebar di berbagai wilayah hingga ke tingkat kabupaten. “Ini adalah potensi untuk industri Perdagangan Berjangka Komoditi (PBK),” ungkap  Kepala Cabang PT RFB Yogyakarta, Dewi Diananingrum.

Bahkan animo ingin tahunya soal perdagangan berjangka termasuk PBK, cukup bagus. Menurut Dewi,setiap hari  15 - 20 orang yang kita temui untuk diberi penjelasan tentang investasi ini. “Hanya  saja memang tidak secepat di Jakarta. Rata-rata rentang waktu untuk mempelajarinya 1 bula,” tambahnya. Sehingga kerapkali, lanjut Kepala Cabang PT RFB Yogyakarta, ketika ada moment yang cukup bagus dilewatkan begitu saja.

Ekonom UII Suharto SE MSi pun mengakui hal tersebut. Secara umum, peluang investor di Yogya potensial. Bagi PBK, lebih menarik lagi karena lebih mudah diprediksi fluktuasinya dibanding non-komoditi. “Faktor pendorong lain adalah tingginya kaum muda dalam bisnis terutama di sektor kreatif. Mereka secara umum terdidik dan lebih melek investasi,” ungkap Suharto. Apaolagi didukung potensi dana yang cukup besar dan merata di kalangan pelaku usaha muda.

“Yogyakarta dalam arti Daerah Istimewa Yogyakarta bisa dikatakan potensial untuk PBK. Apalagi banyak proyek di DIY  utamanya bandara dan jalan tol. Nanti akan banyak orang kaya baru di sini. Ini potensi besar yang bisa dilirik,” tambah Dosen FE UII. Meski  seperti disebutkan Kepala Biro Pengawasan Pasar Berjangka dan Fisik Badan Pengawas Perdagangan Berjangka Komoditi (Bappebti) pada Kementerian Perdagangan, Pantas Lumban Batu dalam pelatihan wartawan, bursa berjangka  masih belum optimal dimanfaatkan para pelaku usaha sebagai lindung nilai bagi usahanya.

Padahal, lanjutnya, industri perdagangan berjangka di Indonesia aman untuk investasi mengingat sejumlah perangkat hukum sudah tersedia sehingga masyarakat tak perlu khawatir bertransaksi. Setidaknya ada tiga payung hukum dalam menjalankan perdagangan berjangka, yaitu UU Nomor 10 Tahun 2011 Perubahan atas UU Nomor 32 Tahun 1997 tentang Perdagangan Berjangka Komoditi, UU Nomor 9 Tahun 2011 Perubahan atas UU Nomor 9 Tahun 2006 tentang Sistem Resi Gudang, serta Keputusan Menteri Perdagangan Nomor 650/MPP/Kep/10/2014 tentang Pasar Lelang Forward Komoditi Agro.

***

TENTU bisa dipahami.  Sekalipun  menjanjikan, namun investasi,  bermain saham dan sejenisnya bukan hal gampang bagi masyarakat awam. Kehati-hatian menjadi factor pertama yang harus dilakukan untuk ikutserta dan masuk di dalamnya. Bagi pemain awal apalagi yang baru pertamakali  bermain saham, apa yang dilakukan Anita dalam kisah awal, sejatinya belum cukup untuk ikutserta. Hanya langkah awal Anita dengan melihat kredibilitas pialang, sudah tepat.

Industri PBK sendiri diakui Dewi Diananingrum masih terbilang awam bagi masyarakat, meski sudah hampir 18 tahun hadir di Indonesia. Untuk itu pihaknya  terus melakukan edukasi ke masyarakat tentang perusahaan pialang yang legal dan potensi investasi di PBK.

Langkah Dewi adalah langkah strategis mengenalkan, memasarkan PBK. Seperti dikatakan pakar FE UII, Suharto, sosialisasi dan edukasi bagi masyarakat tentang peluang sekaligus risiko investasi bursa berjangka komoditi adalah solusi meng-go-public-kan PBK. Sebagai imbangan, pemerintah daerah harus makin kreatif  membuka ruang usaha dan bisnis di daerah ini menjadi menarik dan bernilai tambah. “Terutama terkait sektor pariwasata dan sektor ekonomi kreatif lainnya,” tambah Suharto. (Fadmi Sustiwi)