Peristiwa Editor : Agus Sigit Rabu, 12 September 2018 / 10:25 WIB

Lir-Ilir Pesona Warga Portugal

Lir-ilir, lir-ilir
Tandure wis sumilir
Tak ijo royo-royo, tak sengguh temanten anyar
Bocah angon, bocah angon penekna blimbing kuwi
Lunyu-lunyu penekna, kanggo mbasuh dodotira
Dodotira-dodotira, kumitir bedhah ing pinggir
Dondomana, jlumatana kanggo seba mengko sore
Mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane
Yo surak-o surak horeee…..

BAGI masyarakat Jawa khususnya, tembang ‘Lir-ilir’ bukanlah tembang yang asing. Bukan karena biasanya dilantunkan ibu-ibu saat menidurkan anak. Atau dinyanyikan anak-anak sembari bermain di bawah sinar rembulan purnama. Di balik itu, Lir-ilir adalah sebuah dakwah. Tembang ciptaan Sunan Kalijaga tersebut hakikatnya mengajak umat Islam untuk semangat, bekerja keras agar hidup bahagia. Bisa dikatakan, Lir-ilir memiliki peranan penting dalam penyebaran Islam di Nusantara.

Namun tentu tidak bagi warga Portugal. Lir-ilir adalah nyanyian yang asing di telinga. Walau demikian, masyarakat Portugis mampu menikmati lantunan Lir-ilir dan terpesona luar biasa.  Bahkan musisi Portugal, Elizabeth Davis menyebut bila perpaduan music di antara dua budaya – Indonesia – Portugal – menghasilkan keindahan luar biasa.

Adalah KBRI di Portugal yang memiliki inisiatif memadukan dua budaya yang ada dalam puncak peringatan HUT ke-73  Kemerdekaan RI lewat Indonesian Music Festival 2018.  Dengan menghadirkan musisi kenamaan Dwiki Darmawan, KBRI juga mengajak musisi kondang Portugal berkolaborasi. Jadilah Dwiki berkolaborasi dengan musisi-musisi ternama Portugal, antara lain Maria João Grancha, João Farinha, dan Pedro Jóia. Maria João Grancha dikenal sebagai penyanyi jazz ternama Portugal yang biasa diiringi oleh alunan piano João Farinha. Pedro Jóia sendiri merupakan salah satu maestro gitaris terbaik yang pernah dimiliki Portugal.

Pergelaran di Museu de Arqueologia yang berdiri di pusat sejarah Mosteiro dos Jerónimos, Lisabon, dibuka  Pedro Jóia yang membawa lagu-lagu Fado, sebuah <I>genre<P> musik yang merupakan akar dari musik keroncong Indonesia.

“Dan Dwiki tampil di  puncak, dengan beberapa lagu Indonesia. Mulai 'Cik-cik Periuk, Lir-ilir, Paris Barantai' dan 'Rintak Rebana' yang dikemas dengan berkolaborasi dengan musisi-musisi Portugis. 'Standing ovation' pengunjung itu mengharukan hati selama beberapa menit di akhir konser,” ujar Dubes RI untuk Portugal, Ibnu Wahyutomo. Sebuah pergelaran langka sekaligus mempromosikan kopi Nusantara. (Fsy)