Jateng Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 09 September 2018 / 11:37 WIB

Kedelai Impor Naik, Pengrajin Tempe Kurangi Produksi

BOYOLALI, KRJOGJA.com -Nilai tukar Rupiah yang melemah di hadapan Dollar Amerika membuat pengrajin tempe mengurangi takaran produksi. Selama ini, pengrajin tempe mengandalkan bahan baku kedelai impor, sebab kapasitas dan kualitas kedelai lokal kurang memuaskan. 

"Harga kedelai lokal lebih mahal dibandingkan kedelai impor. Butiran kedelai lokal juga lebih kecil, mengembangnya juga sebesar kedelai impor," kata Agus Sanyoto (35), salah satu perajin tempe di Kampung Gatak, Kelurahan Siswodipuran, Kecamatan Boyolali Kota, akhir pekan lalu. 

Karena mengandalkan bahan baku impor, imbas menguatnya Dollar Amerika membuat bahan baku makin mahal. Kenaikan harga kedelai impor terus naik dalam hitungan hari. Ia menghitung, harga kedelai impor sebesar Rp7.450/kg, meningkat sehari sebelumnya di harga Rp7.200/kg. Dalam kondisi tersebut, jumlah produksi pun dikurangi, dari semula sekitar 4,8 kuintal per hari menjadi 4,5 kuintal saja. Dengan harga tempe sebesar Rp2.000 hingga Rp5.000 tergantung ukuran, opsi menaikkan harga tempe tak berani ia lakukan karena takut ditinggal pembeli. 

"Yang bisa kami lakukan ya mengurai takaran produksi saja," imbuhnya. 
Prediksinya, bila harga kedelai mencapai Rp8.000/kg, akan ada pengrajin tempe yang tak berproduksi. Sebab harga bahan baku yang tinggi tak akan menutup margin biaya produksi. (Gal)

Imbas kenaikan harga kedelai pun membuat kalang kabut pengolah produksi tempe. Yulianto, salah satu pedagang gorengan di Siswodipuran, Boyolali Kota, sudah mendengar dari pemasoknya jika ada kemungkinan harga tempe bakal naik. Bila benar terjadi, tak mungkin ia menaikkan harga gorengannya yang dihargai Rp500/potong. "Yang bisa dilakukan ya dengan mengecilkan gorengannya. Tidak mungkin untuk menaikkan harganya," (Gal)