Hiburan Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 07 September 2018 / 10:52 WIB

Belajar Nasionalisme Lewat Film Sultan Agung

BOGOR, KRJOGJA.com - Persaudaraan Ibu PDI Perjuangan mengajak pelajar SMU di Cibinong menonton bersama film Sultan Agung, Kamis (07/09/2018). Melalui nobar film karya Hanung Bramantyo ini diharapkan dapat meningkatkan nasionalisme pelajar yang menjadi generasi penerus bangsa.

Film buatan Hanung Bramantyo ini mengisahkan sepak terjang Sultan Agung menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai berai oleh politik VOC, di bawah panji Mataram.

"Jadi dengan menonton film ini bisa kembali menggugah semangat nasionalisme dan perjuangan ,sehingga anak-anak bisa mencontoh kepahlawanan Sultan Agung" kata Ketua Persaudaraan Ibu-Ibu PDI Perjuangan Maria  Hasto Kristiyanto di Bogor.Ikut hadir Ibu Pramono Anung, Ibu Idham Samawi danpenulis naskah Sultan Agung, Bagas Puji Laksono.

Bagas mengatakan di Film ini hanya berfungsi mengembalikan ingatan anak-anak muda mengenai sosok Sultan Agung.  Tokoh Sultan Agung yang selama ini digambarkan sebagai sosok yang ambisius dan kejam dalam literatur Belanda, salah satunya karena keputusannya menyerang Batavia. 

"Film ini tidak mudah, kejadiannya seperti ini harus mencari literatur,karena banyak hal yang belum bisa menerangkan tentang Batavia 1628-1629.Ini kejadian riil,Sultan Agung menyatukan negara" ujar Bagas.

Adapun Lembayung, kata Bagas sosok fiktif dan lantaran tidak punya suami, tidak punya anak sehingga setia membayarkan  kesetiaan pada Sultan Agung. "Kita tahu Sultan Agung Hanyakrukusuma segera disandang Raden Mas Rangsang tepat selepas ayahnya, Panembahan Hanyokrowati, wafat. Bukan perkara mudah baginya untuk menggantikan peran sang ayah, terlebih saat itu ia masih remaja. 

Sultan Agung memiliki tugas besar yakni harus menyatukan adipati-adipati di tanah Jawa yang tercerai-berai oleh politik VOC yang dipimpin Jan Pieterszoon Coen di bawah panji Mataram. Di sisi lain, hati Sultan Agung tak lepas dari pergolakan. Ia harus mengorbankan cinta sejatinya kepada Lembayung dengan menikahi perempuan ningrat, yang bukan pilihannya. Tentu bukan perkara gampang bagi Sultan Agung untuk menerima perempuan ningrat tersebut di hatinya. 

“Kemarahan Sultan Agung kepada VOC memuncak ketika ia mengetahui bahwa VOC tidak memenuhi perjanjian dagang dengan Mataram dengan membangun kantor dagang di Batavia,” demikian Bagas. (Ati)