DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 01 September 2018 / 10:38 WIB

Pemuda Nglipar Sulap Lidah Buaya Jadi Minuman

ALAN Efendhi (30) warga Jeruklegi Katongan Nglipar berhasil mengolah tanaman lidah buaya menjadi minuman kemasan. Apa yang dilakukan pemuda ini mampu menginspirasi warga Jeruklegi lainnya untuk turut mengikuti jejak Alan mengolah tanaman lidah buaya.

Pilihan untuk mengembangkan lidah buaya berawal dari petualangan atau hobinya menjelajahi gunung di Jawa Timur. Ia menemukan banyak sekali tanaman lidah buaya di Gunung Semeru tahun 2014 silam.

Baca juga :

Konsumsi Lidah Buaya Bisa Picu Gagal Ginjal?

Anda Harus Punya Stok Lidah Buaya, Ini Alasannya

“Melihat begitu banyak tanaman lidah buaya, akhirnya tertarik untuk mencari tahu tentang bagaimana mengembangkan dan mengolah menjadi barang ekonomis,” kata Alan Efendhi.

Awal mengembangkan usaha, Alan langsung membeli bibit dari wilayah Sidoharjo sebanyak 500 buah. Bibit tersebut awalnya hanya ditanam di lingkungan rumah sendiri bersama keluarganya. Akhirnya usai memasuki musim panen, lidah buaya tersebut kemudian diolah menjadi minuman kemasan atau Nata De Aloevera.

“Ternyata minuman yang diolah dari lidah buaya ini cukup banyak diminati. Hingga akhirnya melakukan sosialisasi dan masyarakat di Jeruklegi juga berminat untuk mengembangkan tanaman lidah buaya. Awalnya memang tidak mudah, tetapi masyarakat bersemangat untuk mengembangkan lidah buaya,” ujarnya.

Hingga kini di Dusun Jeruklegi, banyak masyarakat mengembangkan tanaman lidah buaya. Karena memang produksi atau minuman kemasan yang diproduksi banyak mendapatkan pesanan dari banyak pihak. Bahkan usaha yang dirintis masyarakat Jeruklegi juga mendapatkan perhatian atau dukungan dari Pemerintah Kabupaten Gunungkidul.

“Untuk kelompok pembudidaya di Jeruklegi sebanyak 100 orang. Sebagian menjadi tenaga untuk membuat produk. Selain itu untuk menyampaikan pengetahuan atau ilmu tentang lidah buaya juga ada tim inti berjumlah 24 orang. Tiap tim inti ini memberikan pemahaman atau membawahi 5 orang untuk budidaya lidah buaya,” ucapnya.

Alan juga mengajak para pemuda untuk mencoba produk kreasi baru. Bahkan dengan ujicoba yang cukup lama Karang Taruna berhasil membuat makanan ringan berbahan kulit lidah buaya.

Sisa dari bahan yang dibuat Nata De Aloevera. Banyak yang bisa dibuat selain minuman dan keripik di antaranya menjadi dodol, teh celup, permen jelly, kerupuk, selai, es krim, sirup dan yang lainnya.

“Sekarang ini penjualan Nata De Aloevera baru menyuplai daerah lokal. Dalam satu hari rata-rata dapat dibuat 300 minuman kemasan yang sudah langsung habis dipesan. Untuk harganya kini dipatok Rp 2.500 per cangkir minuman,” jelasnya.

Sementara itu, untuk penjualan online sudah dilakukan oleh Karang Taruna. Sehingga mampu menyasar kota besar seperti Bandung, Palembang, Yogyakarta dan Jakarta. Untuk penjualan ini kebanyakan untuk makanan ringan dengan harga Rp 12.000.

“Keberhasilan mengembangkan usaha ini memang tidak lepas dari dukungan pemerintah, swasta saat dilakukan rintisan usaha ini. Mudah-mudahan ke depan akan mampu menjadi kawasan industri berbahan dasar lidah buaya,” harapnya. (Ded)