DIY Editor : Agus Sigit Jumat, 31 Agustus 2018 / 18:35 WIB

Gerakan Sekolah Menyenangkan Tawarkan Konsep Baru Pendidikan di Era Disrupsi

KULONPROGO, KRjogja.com - Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) menyelenggarakan kegiatan workshop yang mengupas tantangan dan kebutuhan pendidikan diera yang serba cepat berubah, Selasa (28/8). Agenda ini adalah kelanjutan kerja sama antara Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM), Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, dan Departemen Bahasa Seni Manajemen Budaya Sekolah Vokasi Universitas Gajah Mada (UGM).

Kegiatan ini dilatarbelakangi oleh banyaknya permasalahan pendidikan di Indonesia yang terus terjebak dalam sistem pembelajaran yang hanya mementingkan kuantitas dan angka-angka belaka, sehingga melupakan esensi pendidikan yang sesungguhnya yaitu bagaimana mempersiapkan generasi yang memiliki ketangguhan agar dapat beradaptasi dalam era disrupsi, dimana perubahan sangat cepat dan tidak terprediksi.

Workshop Gerakan Sekolah Menyenangkan dengan mengambil tema "Sekolah Menyenangkan untuk Pendidikan Indonesia yang Memanusiakan dan Memerdekakan" menghadirkan pemateri diantaranya Muhammad Nur Rizal (founder GSM sekaligus dosen DTETI UGM), Novi Poespita Candra (co-Founder GSM dan Dosen Psikologi UGM) serta beberapa Kepala Sekolah dari Sekolah Model GSM di Yogyakarta.

Acara ini berlangsung selama tiga hari dan dihadiri oleh sekitar kurang lebih 100 peserta yang terdiri dari guru, dan kepala sekolah SD serta SMP di Kabupaten Kulon Progo yang dibuka secara resmi oleh Kepala Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga Kabupaten Kulon Progo, Sumarsana di aula Sadewa Disdikpora Kulonprogo.

Dalam sambutannya, Sumarsana mengapresiasi dan mendukung dilaksanakannya workshop GSM yang digelar. "Kunci kesuksesan pendidikan lebih ditentukan oleh guru. Ada tiga kategori guru, yaitu guru pendidik, guru pengajar, dan guru pencari nafkah. Harapannya guru-guru di Kulonprogo adalah guru yang sadar bahwa ia adalah guru pendidik yang menentukan wajah Indonesia dimasa depan," pungkasnya.

Muhammad Nur Rizal menyampaikan skill yang dibutuhkan diera disrupsi sudah bergeser dari content skill atau pengetahuan menjadi life skill seperti kemampuan memecahkan persoalan yang belum terdefinisi sebelumnya serta social skill yaitu kemampuan bernegosiasi, dan berkolaborasi. Dimana kemampuan itu harus dilandasi oleh semangat empati terhadap lingkungan dan manusia lain.

Sementara Novi Poespita Candra juga menyampaikan bahwa diera seperti ini sekolah harus merubah fungsi dari institusi yang hanya mentransfer pengetahuan menjadi rumah kedua yang menciptakan ekosistem baru untuk penumbuhan karakter dan kompetensi yg dibutuhkan.

"Inovasi pendidikan yang ditawarkan oleh GSM yang pertama adalah sistem pengembangan profesionalitas guru lebih inovatif. Sedangkan yang kedua adalah pengelolaan sekolah yang efektif dan dirasa nyaman dan menyenangkan", tambahnya.

Tujuan kedua sistem tersebut adalah melatih guru agar dapat mendidik siswanya memiliki keterampilan berpikir, bukan apa (materi) yang dipikirkan. "Sehingga orientasi belajarnya tidak hanya untuk meraih nilai akademik hafalan tinggi namun berubah untuk mengembangkan siswa yang cerdas, beretos kerja tinggi, bermoral, dan peduli lingkungan sosialnya," katanya. (*)