Wisata Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 31 Agustus 2018 / 15:25 WIB

Mengenal 'Keelokan' Pulau Mules yang masih Tertidur

MULES, bagi masyarakat Jawa mungkin dimaknai sakit perut. Namun, lagi-lagi kekayaan Indonesia dengan 17 ribu pulau dan ratusan bahasa menunjukkan hal yang sangat berbeda.  Bagi masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) Mules biasa digunakan untuk menyebut seseorang cantik yang asal katanya Mulas. Itu pula yang kemudian membuat masyarakat NTT menamai sebuah pulau cantik di Kabupaten Manggarai dengan sebutan Pulau Mules. 

Kecantikan Mules mulai disohorkan saat Kementrian Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Kemendes PDTT) merencanakan membangun jalan beton sepanjang 21 kilometer di pulau yang berjarak 30 menit berperahu dari Ruteng ini. Pun begitu, pembangunan homestay untuk para turis pun akan menambah daya tarik turis agar tak hanya stay di Kepulauan Komodo saja namun bergeser ke timur untuk menemukan surga lainnya. 

Birunya air laut, putihnya pasir pantai ditambah hamparan bukit batu yang hijau membuat siapa saja di sana seolah berada dalam setting film Jurrasicpark. Melemparkan kehidupan jauh ke masa purba dengan landscape alam yang sangat menarik. 

Begitulah yang disampaikan 10 mahasiswa UGM yang baru saja kembali mengekeplore pulau tersebut akhir bulan ini. Selama 13 hari para mahasiswa UGM dari organisasi Mahasiswa Pecinta Alam Gadjah Mada (Mapagama) melakukan eksplorasi di Pulau Mules yang luasnya sekitar 18 ribu hektare ini. 

Para mahasiswa pun mendapatkan banyak hal menarik yang kemudian diceritakan pada wartawan setibanya di Yogyakarta Jumat (31/8/2018). Koordinator tim eksplorasi, Pandu Arta mengungkap selama 13 hari mereka bermukim di Desa Nuca Molas yang berpenduduk sekitar 1400-an orang. Ada empat dusun yang kemudian dieksplorasi yakni Teladan, Konggang, Beji dan Labuan Taur. 

“Pulaunya sangat indah dengan potensi luar biasa. Kami melakukan eksplorasi termasuk panjat tebing di Desa Nuca Molas. Kami juga mengumpulkan data dan informasi terkait data sejarah,mata pencaharian, religi, teknologi, mitos, pemerintahan, pendidikan, sarana dan prasarana serta berbagai sistem yang ada di masyarakat,” ungkapnya Jumat (31/8/2018). 

Karakter masyarakat yang sangat bersahabat ditambah keinginan untuk maju menjadi nilai tambah yang didapat para mahasiswa di Pulau Mules. “Kemarin di sekolah dasar berbasiskan experiental learning, kami coba mengajarkan kepada siswa-siswi bagaimana cara untuk menjaga dan peduli lingkungan dengan cara berdiskusi, bermain dan bernyanyi,” sambungnya. 

Pengalaman menarik yang juga berhasil dikumpulkan adalah keberhasilan Mapagama memecahkan misteri lubang yang sudah berpuluh puluh tahun menjadi mitos di masyarakat Pulau Mules. “Kami berhasil menelusuri masuk ke dalam gua dan menemukan sesuatu yang menjadi misteri dari masyarakat di Nuca Molas, nantinya data yang kami peroleh tersebut akan menjadi salah satu bahan buku Eksplorasi Nuca Molas”, pungkas Pandu. (Fxh)