DIY Editor : Ivan Aditya Senin, 27 Agustus 2018 / 15:53 WIB

Mitos Kraton Yogyakarta Berdiri di Atas Cangkang Kura-kura

KRATON Yogyakarta didirikan bukan asal dibangun begitu saja. Dalam proses pendiriannya tentunya melalui berbagai tahapan spiritual layaknya yang sering dilakukan masyarakat Jawa. Termasuk didalamnya yakni soal pemilihan lokasi seperti tempat saat ini Kraton Yogyakarta berdiri.

Jika dilihat, permukaan tanah yang kini dijadikan tempat berdiri bangunan Kraton Yogyakarta merupakan gundukan yang lebih tinggi dibanding permukaan tanah di sekitarnya. Orang Jawa menyebut posisi ini sebagai Bathok Bulus atau cangkang kura-kura.

Baca juga :

Empat Ilmu Kanuragan Tersohor Tanah Jawa

Tinggi Tugu Yogya Menyusut 10 Meter

Letak seperti ini akan membuat Kraton Yogyakarta terhindar dari banjir meski hujan deras mengguyur. Letaknya yang tinggi membuat posisi Kraton Yogyakarta juga mudah terlihat oleh masyarakat kala itu.

Bahkan salah satu bangsal di kraton ada yang bernama Siti Hinggil atau tanah tinggi. Bangsal ini sering dipergunakan sebagai tempat bercengkerama Sultan sambil menikmati indahnya panorama Gunung Merapi dari kejauhan.

Dalam mitologi Jawa dikenal adanya konsep Palemahan (hubungan harmonis antara umat manusia dengan alam lingkungan), Pawongan (hubungan harmonis antara sesama umat manusia) dan Parahyangan (hubungan harmonis antara manusia dengan Pencipta). Dalam konsep tersebut Kraton Yogyakarta ternyata diketahui berada berada di tengah dua kekuatan alam, yakni Gunung Merapi di utara dan Pantai Selatan di sisi selatan.

Pantai Selatan disimbolkan sebagai Palemahan, Kraton Yogyakarta di tengah-tengah sebagai Pawongan sedangkan Gunung Merapi sebagai Parahiyangan. Posisi Pantai Selatan, Kraton Yogyakarta dan Gunung Merapi merupakan satu garis lurus yang ditarik dari selatan hingga utara.

Selain diapit Pantai Selatan dan Gunung Merapi di selatan dan utara, letak Kraton Yogyakarta juga diapit dua sungai besar yakni Sungai Code di timur dan Winongo di barat. Letak diantara dua sungai besar ini diyakini mampu mendatangkan kelancaran bagi masyarakat Mataram saat itu.

Seperti kehidupan kerajaan lain di nusantara, jaman dahulu keberadaan sungai merupakan denyut perekonomian masyarakat yang utama. Selain itu keberadaan sungai juga dianggap menunjang kesejahteraan masyarakat sebagai sumber pengairan. (Van)