DIY Editor : Ivan Aditya Senin, 20 Agustus 2018 / 11:14 WIB

Dampak Kekeringan di Gunungkidul Meluas

GUNUNGKIDUL, KRJOGJA.com - Krisis air bersih di Kabupaten Gunungkidul semakin meluas. Bahkan di Kecamatan Rongkop sebagian warga terpaksa membeli air bersih yang diambil dari sumbernya Kabupaten Wonogiri, Jawa Tengah.

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Gunungkidul mencatat hingga pertengahan bulan ini sudah mensuplai air bersih untuk 13 Kecamatan untuk 350 dusun sebanyak 1.334 tangki. ”Jumlah ini belum termasuk bantuan dari swasta yang membantu langsung kepada masyarakat,” kata Kepala Pelaksana BPBD Gunungkidul Drs Edy Basuki.

Baca juga :

Semarak HUT RI ke 73, Dispar Gunungkidul Gelar Paragliding

Penataan Pantai Selatan Gunungkidul Dimulai dari Baron

Selain dari BPBD, droping juga disalurkan dari masingmasing kecamatan. Saat ini telah tersalur sebanyak 1.001 tangki. Dari pihak BUMN dan swasta di antaranya dari PLN ada 150 tangki, IKG 565 tangki, pengusaha 67 tangki dan dari sebuah usaha perbankan ada 440 tangki.

Khusus dari BPBD pengalokasian dana untuk kegiatan droping air dijadwalkan hingga bulan Oktober mendatang dan diharapkan setelah Oktober sudah musim penghujan. Sehingga diharapkan kesulitan air pada Oktober mendatang khususnya pada tahun ini berakhir.

Berdasar data terakhir memasuki akhir bulan ini setidaknya sudah ada 55 desa mengalami kekeringan tersebar di 350 dusun yang melanda 31.807 kepala keluarga (KK) dengan jumlah total mencapai 117.116 jiwa. ”Kecamatan terakhir yang mengajukan droping Saptosari,” imbuhnya.

Ditambahkan Suwanto, warga Kecamatan Rongkop, krisis air bersih yang terjadi di dusunnya sejak awal Juli lalu. Sejumlah telaga maupun bak penampung air hujan sudah sejak lama kering.

Saat ini untuk mencukupi kebutuhan air, warga harus rela menunggu jatah atau membeli dari swasta dengan harga setiap tangki kapasitas 6.000 liter Rp 120.000-Rp 160.000 yang airnya diambilkan dari wilayah Kecamatan Pracimantoro, Wonogiri, Jawa Tengah. Tiap kepala keluarga selama musim kemarau ini sudah membeli air dari swasta sebanyak 4-6 tangki. ”Hasil panen pertanian sudah habis dijual untuk membeli air bersih,” ucapnya.

Edi Basuki mengakui, wilayah terdampak kekeringan kini bertambah. Seperti Kecamatan Saptosari, sebelumnya mobil tangki kecamatan dikembalikan ke BPBD, dan kini justru ada yang mengajukan droping. Lokasinya berada di Desa Krambilsawit dan tiga padukuhan. Jumlah warga terdampak kekeringan sekitar 900 jiwa.

”Memang dengan adanya permintaan droping dari wilayah Saptosari ini, menambah jumlah warga yang kesulitan air bersih. Jika sebelumnya sebanyak 116.000 jiwa kini mencapai 117.000 jiwa. BPBD tentu akan merespons dalam melaksanakan droping air di Saptosari,” katanya.

Bupati Gunungkidul Hj Badingah SSos menambahkan, penanganan kekeringan terus dilakukan dengan melaksanakan droping. Melalui BPBD droping menyasar warga yang memang benarbenar mengalami kesulitan air bersih.

Adanya bantuan dari swasta juga ikut mengurangi kekeringan di masyarakat. Pelaksanaan droping dari swasta, ada yang bekerja sama dengan BPBD dan langsung ke masyarakat. (Bmp/Ded/ Ewi)