Jateng Editor : Agus Sigit Rabu, 15 Agustus 2018 / 18:46 WIB

TANDAI PERINGATAN HUT KE-73 KEMERDEKAAN RI

Opera Kolosal 'Adeging Nagari' Gunakan Panggung Jalan Raya

SOLO, KRjogja.com - Opera kolosal 'Adeging Nagari Republik Indonesia' dengan setting panggung jalan raya, menandai serangkaian peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia. Gelaran seni antar genre, seperti musik, teater, tari, dan sastra ini, dijadwalkan berlangsung di Koridor Jalan Sudirman, Sabtu (18/8) depan, didahului dengan kirab pembangunan menempuh rute dari Stadion Sriwedari hingga Balaikota.

Sutradara Opera Adeging Nagari Republik Indonesia, Agung Kusumo, menjawab wartawan, Rabu (15/8), mengungkapkan, menuangkan sejarah perjalanan bangsa Indonesia ke dalam sebuah pergelaran dengan durasi sekitar 75 menit, memang menyiratkan kesulitan tersendiri. Terlalu banyak peristiwa sejarah yang mesti dituangkan, dan itu harus dirangkai dalam sebuah cerita yang diwujudkan dalam bentuk musik, sastra, tari, teater.

Kendati begitu, para kreator bersepakat memilih empat tonggak sejarah penting dalam rangkaian perjalanan sejarah bangsa Indonesia, mulai dari sumpah palapa era kejayaan kerajaan Majapahit, sumpah peuda, proklamasi, hingga zaman milenial yang terwakili dengan revolusi mental. Jeda sejarah antara satu tonggak ke tnggak lain memang cukup lama, terutama pada era Majapahit sekitar abad 12 ke sumpah pemuda tahun 1928. Karenanya untuk merangkai mozaik sejarah tersebut, disiasati melalui 'story tale' dari seorang dalang.

Menjawab pertanyaan seniman yang dilibatkan dalam pagelaran itu, Agung menyebutkan, didukung sekitar 150 personal, terdiri dari penari, pemain teater, kru musik kelompok Dedek Gamelan Orkestra, serta Artaxiad Gamelan Orkestra. Seluruh personal yang terlibat, tambahnya, merupakan seniman profesional, bahkan beberapa diantaranya telah melanglang ke negara manca.

Di sisi lian, Kepala Dinas Pariwisata, hasta Gunawan, menambahkan, gelaran dalam rangkaian peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Repbulik Indonesia tahun ini memang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Kali ini, tiga event digabungkan sekaligus secara berurutan, masing-masing pawai pembangunan yang dimulai pukul 13.00, berlanjut dengan Opera Adeging Nagari Republik Indonesia, dan ditutup pertunjukan musik dengan kemasan Apresiasi Musik kebangsaan, dengan venue saling berkaitan.

Pawai pembangunan yang diberangkatkan dari Stadion Sriwedari, jelasnya, akan melalui panggung Opera Adeing Nagari Republik Indonesia sekaligus didesain sebagai panggung kehormatan sebagai sentral performance seluruh peserta pawai, sedangkan Apresiasi Musik Kebangsan digelar di Balaikota sebagai titik akhir pawai pembangunan. "Jadi, begitu barisan akhir pawai pembangunan melewati panggung kehormatan, saat itu juga Opera Adeging Nagari Repubik Indonesia, dimulai," jelasnya. (Hut)