Jateng Editor : Agus Sigit Rabu, 15 Agustus 2018 / 18:32 WIB

Upacara Bendera 17an Merapi Dilarang, Ini Sebabnya

BOYOLALI, KRjogja.com – Tradisi upacara bendera peringatan kemerdekaan pada 17 Agustus di kawasan Pasar Bubrah di Gunung Merapi tahun ini ditiadakan. Berstatus waspada, hingga saat ini, Gunung Merapi masih ditutup untuk umum.

Kepala Resort Selo Balai Taman Nasional Gunung Merapi (BTNGM), Wahid Adi Wibowo, menjelaskan, pasca beberapa kali letusan freatik pada Mei lalu, sampai saat ini status merapi masih Waspada dan belum aman untuk pendakian. Sehingga aktivitas pendakian untuk umum, termasuk tradisi upacara bendera, juga sementara ditiadakan.

Meski pintu pendakian di Selo, Boyolali, dan Sapu Angin, klaten, secara resmi ditutup, pihaknya tetap melakukan pengawasan terkait kemungkinan adanya pendaki yang nekat mendaki, terutama melalui jalur-jalur tikus yang tersebar di beberapa titik, yakni di wilayah Musuk, Boyolali, dan Magelang. Selain petugas BTNGM, pihaknya juga akan mengajak pihak TNI/Polri serta masyarakat sekitar untuk menjaga agar jalur-jalur tikus tersebut tak bobol oleh pendaki ilegal. "Tiap jalur tikus akan dijaga dua atau tiga petugas dibantu relawan," katanya.

Diinformasikan, meski masih ditutup untuk pendakian, namun masih ada saja pendaki yang nekat naik. Pada bulan Juli lalu misalnya, petugas menangkap basah enam pendaki yang nekat naik Merapi dalam waktu yang berbeda. Satu rombongan berasal dari Riau, dan satu rombongan lain merupakan pendaki asal Rusia.

Vikkirahman, pendaki asal Semarang mengatakan, tiap perayaan kemerdekaan, animo tradisi upacara bendera di kawasan Merapi memang sangat tinggi. Tahun lalu misalnya, ia yang naik sendiri ke Merapi memperkirakan ada sekitar 2.500 pendaki yang ikut tradisi yang digelar di Pasar Bubrah tersebut. "Kalau pendakian ditutup, jalur-jalur pendakian memang harus benar-benar diawasi. Sebab bisa saja ada pendaki nekat, sebab banyak pendaki yang punya tradisi naik Merapi saat perayaan kemerdekaan," (Gal)