Jateng Editor : Ivan Aditya Selasa, 07 Agustus 2018 / 18:44 WIB

Petani Tembakau Lereng Sindoro Gelar ‘Wiwitan’

TEMANGGUNG, KRJOGJA.com - Tradisi 'Wiwitan' digelar  petani tembakau di lereng Gunung Sindoro di Desa Tuksari, Kledung, Kabupaten Temanggung, untuk mengawali mengawali panen tembakau. Tumpeng nasi ‘megono’, ingkung ayam, jajan pasar, ketan, bubur merah dan bubur putih dibawa petani ke ladang tembakau.

Kepala Desa Tuksari Warsidi mengatakan tradisi 'Wiwitan' digelar sebagai wujud harapan dan syukur dari petani tembakau. Syukur atas segala nikmat yang diberikan sehingga bisa merawat tembakau sampai besar dan mulai panen. Harapannya pada masa panen cuaca mendukung, sehingga kualitas tembakau rajangan baik dan dapat laku mahal untuk peningkatan kesejahteraan.

Baca juga :

Kurang Maksimal, Kualitas Tembakau Lereng Sumbing Turun Pamor?

Festival Tumbuk Tembakau, Jadi Awal Harapan Para Petani

"Daun tembakau di petik jika tanaman tembakau sudah kelihatan tua atau cukup umur. Saat petik awal ini petani menyelenggarakan wiwitan," katanya, Selasa (07/08/2018).

Dia mengatakan kegiatan ini sudah menjadi tradisi tahunan bagi petani di Desa Tuksari dan para petani lain di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Tradisi wiwitan ini digelar pada hari yang dianggap sakral, antara lain Kamis Paing, Rabu Pon, dan Kamis Kliwon. "Harapan kami harga tembakau tahun ini lebih bagus dari tahun lalu," katanya.

Kasi Kesra Desa Tuksari Suyudi mengatakan areal tanaman tembakau di Desa Tuksari 376 hektare meliputi lahan tegalan dan sawah. Dalam kondisi normal, katanya satu hektare lahan tembakau bisa menghasilkan sekitar 25 hingga 30 keranjang tembakau rajangan kering.

Dikatakan pada masa tanam tahun ini dengan kemarau panjang, tanaman tembakau cenderung kekurangan air sehingga pertumbuhannya tidak bisa maksimal, namun dengan cuaca seperti ini kualitas tembakau sangat baik. "Kami berharap cuaca terus mendukung untuk proses pembuatan tembakau rajangan," katanya. (Osy)