Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Minggu, 05 Agustus 2018 / 08:11 WIB

Rawat Kearifan Lokal dengan Festival Angklung di Menara Bambu

BANYUWANGI, KRJOGJA.com – Festival Angklung Paglak sukses digelar. Event ini adalah bagian dari Banyuwangi Festival. Menariknya, Festival Angklung Paglak digelar di hamparan hijau Bandara Banyuwangi, Sabtu (04/08/2018). Alunan musik dari material bambu mengalun merdu dari 38 menara bambu. Dalam bahasa setempat, menara disebut ”paglak”.

“Angklung paglak adalah salah satu kesenian tertua di Banyuwangi. Ini kearifan lokal warga yang luar biasa. Kita ingin menunjukkan bahwa kearifan lokal bukan masa lalu, tapi masa depan,” ujar Bupati Banyuwangi Abdullah Azwar Anas.

Paglak adalah menara bambu setinggi 6-7 meter dengan lebar masing-masing sisinya sekitar dua meter. Dari menara tersebut, musik angklung khas Banyuwangi dimainkan oleh 2 hingga 4 pemusik. Kesenian ini muncul sejak 1880 silam. Saat itu, angklung paglak dimainkan di tengah sawah saat musim panen. Masyarakat Suku Using yang kerap disebut sebagai warga asli Banyuwangi, biasanya saling membantu saat musim panen tiba. 

Saat ada warga yang sedang panen di sawahnya, warga lainnya guyup membantu. Nah, angklung paglak ini dimainkan sebagai undangan dari sang pemilik sawah kepada warga agar ikut membantu sekaligus menghibur para petani.

“Jadi festival ini bukan sekadar atraksi wisata. Tapi ada filosofi yang ingin disampaikan, khususnya ke anak-anak muda. Nilai-nilai gotong royong ala masyarakat saat musim panen ini penting diteladani. Kalau hanya disampaikan di dalam kelas, akan membosankan. Tapi kalau langsung dimainkan seperti ini anak-anak langsung tahu,” kata Anas.

Dalam festival ini, para pemusik angklung berusaha menghasilkan alunan musiknya yang terbaik. Satu per satu grup peserta menunjukkan kemahirannya memainkan alat musik pukul dari bambu tersebut. Semakin kencang pukulannya, maka menara bambu akan ikut bergoyang kian kencang. Inilah ciri khas kesenian ini.

Anas menambahkan, festival ini adalah salah satu strategi memajukan kebudayaan daerah. Di sejumlah negara, beragam atraksi seni-budaya telah menjadi indikator kebahagiaan warga dan kemajuan daerah.

”Jadi kemajuan daerah tidak semata-mata diukur dari ekonomi saja, tapi juga proses memajukan seni-budaya. Di Jepang dan Korea, budaya menjadi sumber kemajuan negara. Maka, selama enam tahun terakhir kita konsisten menggelar festival untuk memajukan budaya Banyuwangi,” kata Anas. (*)