DIY Editor : Ivan Aditya Rabu, 01 Agustus 2018 / 08:51 WIB

Orangtua Siswa Yogyakarta International School Tuntut Transparansi

SLEMAN, KRJOGJA.com - Sejumlah orangtua siswa Yogyakarta International School (YIS) menuntut transparansi pengelolaan keuangan sekolah. Meski sudah dibawa ke ranah hukum, namun pihak sekolah dinilai kurang kooperatif. Bahkan belakangan pihak sekolah diduga memalsukan nilai untuk beberapa mata pelajaran.

Kuasa hukum salah satu orangtua siswa YIS, Dimpos Sitompul SH MH mengatakan, pertemuan Selasa (31/07/2018) sebenarnya diagendakan ada visitasi dari Dinas Pendidikan. Namun pihak sekolah justru tidak kooperatif dan mengunci orangtua siswa yang masih di dalam lingkungan sekolah.

Baca juga :

Gempa 4,3 SR Guncang Gunungkidul

Sekolah Tergusur Jalan Tol, Siswa SDN 2 Protomulyo Belajar di Masjid

”Pihak Dinas datang untuk visitasi dan mediasi. Saya datang malah tidak diperbolehkan masuk. Pihak YIS mengatakan tidak ada surat pemberitahuan dari Dinas Pendidikan,” jelas Dimpos.

Menurut Dimpos, kliennya sudah membuat laporan resmi ke Polda DIY pada 26 Januari. Laporan ke Polda DIY ini karena pihak sekolah dinilai tidak transparan dalam mengelola uang yang disetorkan para orangtua siswa. Padahal kliennya sudah menyetorkan rata-rata Rp 120 juta pertahun sejak 2013.

”Kalau yang lapor resmi ke Polda baru satu orang. Tapi yang keberatan karena tidak adanya transparasi keuangan banyak, lebih dari 20 orangtua siswa,” beber Dimpos.

Dimpos mengaku, untuk proses penyelidikan dari Polda DIY, Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) menyatakan, untuk menetapkan tersangka harus dilakukan audit terlebih dahulu.

”Pihak YIS mengatakan sudah melakukan audit secara internal. Namun hal ini juga tidak disampaikan ke orangtua murid. Transparansi keuangan ini yang sebenarnya diinginkan orangtua,” tandas Dimpos.

Orangtua siswa YIS yang resmi melapor ke Polda DIY Erika (48) menambahkan, ada beberapa kejanggalan yang dilakukan sekolah. Misalnya tidak adanya Komite Sekolah yang sebenarnya bertujuan untuk mengawasi kegiatan sekolah. Termasuk pengelolaan keuangan yang harus dipaparkan melalui Komite Sekolah.

”Ada Association Parents YIS tapi sifatnya bukan untuk mengawasi. Tapi lebih ke panitia kegiatan akhir tahun dan coffee morning,” tutur Erika.

Selain itu Erika menilai ada kemunduran fasilitas yang diberikan sekolah berlabel internasional tersebut. Misalnya guru lokal jauh lebih banyak daripada guru asing. Selain itu, beberapa waktu lalu kepala sekolah dan guru berhenti mengajar.

Bahkan pihak sekolah juga diduga melakukan pemalsuan nilai untuk mata pelajaran Agama dan PPKn. Dua mata pelajaran tersebut harusnya wajib diberikan ke siswa tapi tidak diadakan. Namun ada nilai tersebut di ijazah. Selain itu ijazah kelulusan juga diberikan cukup lama. Anak Erika masuk YIS sejak 2013 dan sekarang sudah berada di Kelas IX.

”Anak saya sudah lulus sejak 2016 tapi ijazah baru keluar tahun ini. Setelah pertemuan ini pihak Dinas akan menerjunkan tim investigasi dan kami akan terus memantau perkembangannya,” kata Erika.

Pihak Dinas Pendidikan usai mediasi tidak mau berkomentar terkait hasil pertemuan. Hal serupa juga dilakukan pihak YIS yang tidak mau memberi tanggapan terkait permasalahan yang diungkapkan orangtua siswa. (R-2/Ria)