Ekonomi Editor : Tomi sudjatmiko Selasa, 31 Juli 2018 / 14:11 WIB

JAKARTA DAN YOGYA PILOT PROJECT

Berkat 'RISE', Santoso dan Sri Lestri bisa Tersenyum Lagi

KEDUA tangannya tetap saja menari-nari menyambung pola satu dengan pola yang lainnya. Tak lama kemudian, dengan kedua tangan itu menjahit dan terkadang memegang gunting guna memutus jahitan atau sekadaar membereskan hasil sambungan benang agar terlihat rapi.
 
Pria tersebut bernama Santoso (28). Jahitanya terlihat rapi dan beberapa produk andalannya seperti kemeja hingga busana wanita kekinian tak kalah dibandingkan dengan goresan karya desainer terkenal. Siapa sangka, meski memiliki keterbatasan fisiknya (disabilitas) dan sebagai penyandang tuna daksa, pria yang bermukim di kawasan Jalan Kaliurang, Sleman, Propinsi DIY ini mampu mempekerjakan dua orang guna memenuhi target pesanan pelanggan termasuk toko souvenir yang ada di kota gudeg ini.
 
"Saya mulai berani menerima pesanan agak banyak di awal tahun 2017 setelah mengikuti program Rich Independence dan Sustainable Entrepreneurship (RISE) yang merupakan program Corporate Social Responsibility (CSR) dari Maybank Foundation dan Maybank Indonesia. Sebelumnya hanya belajar dan menerima satu atau dua jahitan saja," ungkap  Santoso kepada KRJOGJA.com dalam suatu kesempatan beberapa waktu lalu.
 
Santoso di tengah keterbatasannya tetap giat berusaha menjalani hidup. Usahanya menunjukkan perkembangan usai mengikuti Program RISE yang digagas Maybank Foundation bersama Maybank Indonesia (Foto : Tomi Sujatmiko)
 
Menjadi seorang penjahit dilakukan oleh Santoso secara otodidak dan belajar dari seorang desainer ternama di Yogyakarta. Namun, jangan dibayangkan langsung mendesain atau ikut terjun langsung menangani pesanan dari pelanggan yang termasuk salah satu 'orang hebat' di kota ini. Tugas pertama Santoso hanya menggambar pola dan memasang kancing. Terkadang juga memperbaiki pemasangan kancing yang dinilai keliru.
 
"Saya belajarnya dari situ. Kadang-kadang pekerjaan untuk memperbaiki kancing yang salah, malah semakin salah. Belum lagi harus menerima kritikan dan omelan. Awalnya, sakit hati. Lama kelamaan menjadi kebal dan saya bertekad untuk terus belajar sampai bisa," ungkapnya seolah menerawang kisah pilu perjuangannya waktu dulu.
 
Santoso pernah merasakan 'diskriminasi' dan dipandang sebelah mata lantaran seorang penyandang disabilitas sering dianggap (bekerja) lamban dan tidak kompeten. Setelah dirasakan cukup menimba ilmu jahit-menjahit, di tahun 2014 dengan tekad baja berwirausaha membuka jasa jahitan secara mandiri. Usahanya diberi nama 'House of Satin' dan bertahan sampai saat ini.
 
"Penghasilan sebagai tukang benerin jahit tak kumpulin dan menjadi modal untuk menerima jahitan sendiri. Order pertama kali saat itu membuat kemeja (hem) setelah tiga bulan tanpa ada pesanan sama sekali. Meski agak lama pembuatannya, namun bisa diselesaikan juga. Rasanya sangat senang saat itu," imbuh Santoso.
 
Saat itu, semua dikerjakan sendiri karena belum sanggup membayar karyawan. Perlahan tapi pasti, usahanya mulai menunjukkan perkembangan. Pesanan demi pesanan mulai berdatangan dan dikerjakan sendiri. Namun, pesanan yang diterima masih sebatas pakaian pria dan wanita yang mudah dikerjakan sendiri. Termasuk menyerahkan hasil karya yang sudah jadi kepada pelanggan.
 
"Sejak dua tahun berusaha, rasanya belum ada perkembangan signifikan karena semua dikerjakan sendiri. Produksi juga terhambat dengan jenis karya yang terbatas. Di tahun 2016 mengikuti program RISE ini dan mendapatkan pengetahuan baru," paparnya.
 
Menurut Santoso RISE merupakan program pembinaan kewirausahaan (entrepreneur mentorship) dan keuangan kepada para penyandang disabilitas.  Program  ini terdiri dari program pelatihan selama 3 (tiga) hari dan dilanjutkan dengan program mentoring terstruktur kepada para penerima manfaat selama 3-6 (tiga-enam) bulan.  
 
Selama masa pelatihan, Santoso mengatakan para peserta penyandang disabilitas dibekali dengan pengetahuan pengelolaan keuangan, strategi pemasaran dan perubahan pola pikir (mindset) dalam mengelola usaha. Kemudian dalam program mentoring, para peserta akan didampingi mentor secara personal untuk meningkatkan pendapatan dan kapasitas usaha. 
 
Santoso mengakui usai mengikuti program ini, usahanya menunjukkan perkembangan signifikan. Dia mulai berani mematok target menjahit seragam untuk pesta pernikahan, para pengapit hingga busana para pengantinnya. Bahkan, menerapkan strategi 'blue ocean' yang memungkinkan menganalisa rantai pembeli baru dengan memproduksi souvenir berupa jaitan dengan pangsa pasar wisatawan mancanegara atau lokal. "Saat ini gerai di rumah semakin ramai dan sudah dibantu dua orang karyawan untuk memenuhi pesanan. Agar tidak mengurangi pelayanan, saya masih mengantarkan pesanan bila masih di dalam kota dan harga jahitan tetap kompetitif," katanya.
 
Santoso menambahkan tarif jasa yang ditawarkan kepada pelanggan bervariasi mulai Rp 150 ribu. Pelangganya pun semakin luas, tidak hanya di Yogyakarta. Ada yang dari Jakarta, Kalimantan sampai ke negeri jiran Malaysia. Yang lebih menggembirakan pendapatannya meningkat dari Rp 1,5 juta menjadi Rp 5 juta setelah digembleng dalam program RISE ini.
 
Cerita sukses lainnya terjadi pada Sri Lestari (40) asal Yogyakarta yang mampu berkarya membuat tas rajut meski harus duduk di atas kursi roda. Dia merupakan korban dari kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) semasa berumah tangga sehingga memutuskan untuk berpisah. Ibu dua orang anak ini tinggal di Yogyakarta bersama putranya. Sedangkan putrinya harus tinggal di Bandar Lampung. Kondisi ini menyebabkan depresi dan membuat Sri Lestari tidak percaya diri sehingga tidak fokus di awal mengikuti program ini.
 
Beruntung, selama menjalani pelatihan rasa percaya dirinya mulai tumbuh dan semangat bangkit dari keterpurukan. Ditambah kepribadian pantang menyerah dan ceria menjalani hidup baru. Akhirnya membuka usaha baru berupa berjualan tas dan sepatu rajut.
 
"Berbekal pengetahuan selama pelatihan berusaha membuat dan memasarkan produk kepada pelanggan yang tepat. Dari tidak bisa berbuat apa-apa, kini dalam sebulan mampu memperoleh pendapatan hingga Rp 5 juta. Bahkan, menerapkan sistem uang muka kepada pelanggan sehingga bisa berpoduksi tanpa menggunakan uang sendiri," ungkap Sri Lestari sumringah.
 
Pengalaman manis yang dialami Santoso dan Sri Lestari juga dialami oleh penyandang disabilitas lainnya. Program RISE sendiri awalnya berlangsung di Jakarta dan Yogyakarta pada tahun 2016 dan diberikan untuk 211 penyandang disabilitas. Di Yogyakarta, program  pelatihan diberikan kepada 110 penyandang disabilitas di Yogyakarta, 11-13 Agustus 2016. Peserta pelatihan diantaranya telah merintis dan membangun usaha di bidang konveksi, makanan, elektronika, dan sablon.  
 
Program ini menyusul program yang diberikan kepada 90 penyandang disabilitas di Jakarta pada April dan Mei lalu. Dari implementasi di Jakarta, sebanyak 40% peringkat terbaik dari penyandang disabilitas, yang mengikuti program ini, telah berhasil memulai/meningkatkan kapabilitas usaha. Tidak mengherankan program ini mendapat apresiasi dari Gubernur DIY Sri Sultan HB X disela peluncuran program RISE untuk kali kedua di Propinsi DIY.
 
Gubernur DIY Sri Sultan HB X berharap program  pelatihan termasuk pendampingan terhadap disabilitas bisa berkelanjutan karena menangani permasalahan yang dialami para disabilitas tidak semudah seperti yang dibayangkan dan membutuhkan penanganan khusus secara manusiawi. Program tersebut juga bisa dikembangkan guna meningkatkan harkat dan martabat disabilitas di Indonesia  terutama di DIY.
 
 
Gubernur DIY Sri Sultan HB X (tiga dari kanan) didampingi Presiden Direktur Maybank Indonesia Tazwin Zakaria (dua dari kanan) dan Head Communication and Branding Maybank Indonesia Esti Nugrahini (paling kanan) melihat hasil karya peserta disabilitas yang mengikuti Program RISE saat grand launching di Yogyakarta, Februari 2018 (Foto : Istimewa/ Maybank Indonesia)
 
"Usaha mulia yang digagas Maybank Fondation ini perlu diacungi tiga jempol karena upaya pelatihan sampai pendampingan para disabilitas agar mendapatkan hak untuk berwirausaha tidak semudah membalikkan telapak tangan. Saya harap metode ini bisa dikembangkan dinas dan dewan pendidikan guna memperkaya kompetensi yang ada selama ini," ungkap Sultan di sela peluncuran Program Reach Independence & Sustainable Entrepreneurship” (RISE) yang digagas Maybank Foundation bersama PT Maybank Indonesia Tbk di Hotel Grand Hyatt, Senin (26/02/2018).
 
Menurut Sultan upaya pendampingan wirausaha ini bisa menjadi salah satu solusi di hilir masalah penanganan disabilitas. Termasuk rekrutmen disabiliats ke group usaha yang ada. Melalui pembangunan manusia diharapkan para disabilitas bisa menjalankan profesinya di masyarakat luas.
 
"Berdasarkan penelitian di tahun 2015 di Balai Rehabilitasi Penyandang Disabilitas DIY, kaum disabilitas membutuhkan waktu untuk beradaptasi. Program magang yang disediakan terlalu singkat sehingga tidak bisa optimal. Saya berharap program RISE Maybank Foundation ini bisa mengatasi masalah-masalah tersebut," tutur Sultan.
 
Program RISE Berkelanjutan di daerah
 
Pada tahun 2017, Program RISE dilakukan di Bali guna membina sebanyak 94 penyandang disabilitas, Lalu di Tangerang bagi 119 penyandang disabilitas dan 110 penyandang  disabilitas di Bogor. Sedangkan di tahun 2018 kembali dilakukan di Yogyakarta  bagi 55 penyandang disabilitas dan 99 penyandang disabilitas di Malang.  Pelatihan RISE selanjutnya  di Medan diadakan 9-11 April di Panti Jompo  Karya Asih, JL. Robert Wolter Monginsidi Ujung, Anggrung, Medan Polonia. 
 
Program diikuti 75 penyandang disabilitas yang memiliki beragam lini usaha, mulai dari berjualan koran, usaha katering, pedagang warung/toko, jasa perbaikan elektronik, perajin genting, penjahit, pengepul barang bekas bahkan di antara peserta juga ada yang belum memiliki usaha namun mempunyai keinginan kuat untuk membuka usaha kecil-kecilan. Pelaksanaan program RISE di Medan ini merupakan keberlanjutan dari rangkaian program untuk memberikan pelatihan kepada 2.000 penyandang disabilitas yang akan dilakukan selama 2 (dua) tahun ke depan, di sedikitnya 7 (tujuh) kota di Indonesia. 
 
RISE selanjutnya berlangsung  di Kota Makassar terpusat di BP-PAUD & Dikmas Sulawesi Selatan, mulai 18 – 20 April 2018. Pelatihan RISE di Makassar diikuti 101 penyandang disabilitas yang memiliki beragam lini usaha, mulai dari penjahit, usaha bengkel, pedagang warung kelontong & sayuran, jasa perbaikan elektronik, peternak ayam, usaha kuliner, pangkas rambut hingga usaha pembuatan telur asin.  Lalu ada jasa guru TPA dan kursus menjahit, bahkan  di antara peserta juga ada yang belum memiliki usaha namun mempunyai  keinginan kuat untuk membuka usaha kecil-kecilan. Pelaksanaan program RISE di Makassar ini adalah rangkaian program untuk  memberikan pelatihan kepada 2.200 penyandang disabilitas yang akan dilakukan hingga 2019. Sedikitnya 13 kota di Indonesia bisa tercakup dalam program ini dan Makassar adalah kota ke 12 (dua belas), termasuk pelaksanaan pilot project di kota Jakarta dan Yogyakarta.
 
 
Pelaksanaan Program RISE di Makassar (Foto : Istimewa/Maybank Indonesia)
 
Program pemberdayaan komunitas disabilitas ini berlanjut di Kota Solo pada 7-9 Mei 2018 di Balai Rehabilitasi Sosial 'Bhakti Candrasa'. Program ini merupakan lanjutan dari rangkaian program RISE pada bulan ini, yang sebelumnya dilaksanakan di Wiladatika Recreation Park, Kota Depok, mulai 2 – 4 Mei 2018. Adapun pelatihan RISE di Depok diikuti 30 penyandang disabilitas, sementara di Solo diikuti 80 penyandang disabilitas yang memiliki beragam lini usaha.  Mulai dari usaha warung makan, penjual toko kelontong, jasa potong rambut, penjahit, pengrajin tangan (keset karakter), penjual busana, peternak kambing, pedagang buah, usaha duplikat kunci serta ternak burung puyuh, bahkan di antara peserta juga ada yang belum memiliki usaha namun mempunyai keinginan kuat untuk membuka usaha kecil-kecilan.
 
"Pemberdayaan ekonomi merupakan salah satu fokus corporate responsibility Maybank Indonesia. Sejalan dengan misi humanising financial services, kami memiliki komitmen untuk selalu berada di tengah komunitas serta tumbuh dan berkembang bersama komunitas, termasuk komunitas penyandang disabilitas," kata Presiden Direktur Maybank Indonesia, Tazwin Zakaria.  
 
Komitmen ini, Menurut Tazwin juga menjadi bagian dari upaya Maybank Indonesia untuk memberikan kontribusi positif dalam mendukung pemberdayaan komunitas penyandang disabilitas yang dilakukan melalui pengembangan ekonomi kreatif, selaras dengan upaya mendukung program pengembangan ekonomi kreatif di tanah air.
 
Tazwin menjelaskan dengan peningkatan kapabilitas usaha, para penyandang disabilitas bukan hanya dapat menciptakan lapangan pekerjaan baru bagi sesama komunitas penyandang disabilitas tetapi juga dapat mempekerjakan orang lain, termasuk dari masyarakat marjinal di sekitarnya sehingga dapat memberikan multiplier effect bagi masyarakat di sekitarnya.  Dalam pelaksanaan program ini, Maybank Indonesia dan Maybank Foundation menjalin kemitraan dengan People Systems Consultancy.
 
CEO Maybank Foundation Shahril Azuar Jimin menambahkan pelaksanaan program RISE sebelumnya telah dilakukan di Malaysia dan dikembangkan ke regional.  Implementasi program RISE di Malaysia yang dilaksanakan sejak September 2014 berhasil mencapai kesuksesan di mana pada April 2015, berhasil meraih 411,7 persen rata-rata kenaikan pendapatan dari 40 peserta terbaik.  
 
Pada saat tersebut, program RISE telah diikuti lebih dari 1.300 peserta di Malaysia dan Indonesia telah diputuskan menjadi negara untuk mengembangkan program ini selanjutnya.  Di regional, pada implementasi Tahap 2, program RISE diproyeksikan untuk menjangkau total 1.800 penerima manfaat yang berasal dari tiga negara, masing-masing 1.400 dari Malaysia, 200 dari Indonesia dan 200 dari Filipina.
 
Dia menjelaskan Program RISE telah menjadi contoh upaya Maybank untuk memenuhi program inklusi keuangan seperti dicanangkan oleh beberapa pemerintah di regional, khususnya bagi masyarakat pra-sejahtera dan kaum marjinal.  "Masih banyak penduduk ASEAN yang belum bankable (underbanked), termasuk para penyandang disabilitas yang kurang diuntungkan dengan inklusi keuangan dan mendapatkan fasilitas keuangan untuk meningkatkan produktivitas, untuk menabung dan mengumpulkan aset serta meningkatkan kesejahteraan," tandasnya.
 
Bahkan dalam implementasi tahap awal, program RISE Maybank Foundation ini telah diakui sebagai inisiatif yang memiliki potensi yang besar untuk membuat perubahan pada kehidupan kaum marjinal.  Hal ini tercermin dari program RISE yang mendapatkan penghargaan Silver Medal untuk Corporate Social Responsibility (CSR) pada The Global CSR Summit & Awards yang diselenggarakan di Laguna Bali Resort, Indonesia pada 21 April 2016.
 
Melihat tingginya respons positif dari penyandang disabilitas setelah mengikuti program pemberdayaan ini, termasuk pengakuan internasional atas keberhasilan yang diraih, hendaknya program ini tidak hanya terhenti di tahun 2019. Kiranya para pihak yang terlibat dalam RISE bisa melanjutkan kegiatan serupa dengan sasaran penyandang disabilitas ini lebih banyak lagi. Tentu saja dengan berbagai evaluasi yang diperlukan agar pemberdayaan ini lebih tepat sasaran. Hal yang perlu diingat, penanganan masalah sosial tidak hanya menjadi tanggungjawab pemerintah semata. Diperlukan kerjasama dan perhatian dari perusahaan guna menuntaskan masalah itu melalui aksi sosial perusahaan (Corporate Social Responsibility/CSR)
 
Maybank Indonesia bersama Maybank Foundation tidak hanya beroperasi dan menjalankan aktivitas bisnis semata,  namun telah berkiprah besar dalam menuntaskan salah satu masalah yang ada. Termasuk telah menjalankan amanat undang-undang dengan menyisihkan beberapa persen keuntungan perusahaan yang digunakan untuk kegiatan sosial melalui program pemberdayaan penyandang disabilitas bernama RISE ini. (tomi sujatmiko)