Hiburan Editor : Danar Widiyanto Senin, 09 Juli 2018 / 03:10 WIB

Kisah Puppeter Puno, Menangis Rindu di Belakang Panggung

PERTUNJUKAN teater boneka Papermoon Puppet Theatre tidak hanya berhasil menyentuh hati para penonton. Pada cerita ‘Puno: Letters to the Sky’ misalnya, kisah dedikasi untuk orang-orang yang sedang merindukan sosok kesayangan yang telah tiada itu membuat para puppeteer  –sebutan bagi pemain boneka– juga merasakan kesedihan yang mendalam. Bahkan beberap diantaranya pun sampai meneteskan air mata ketika sudah di belakang panggung.

Baca Juga: Festival Bregada Jaga Jadi Momentum untuk Melestarikan Kesenian Keprajuritan

Kisah 'Puno: Letters to the Sky' sendiri menceritakan tentang sosok ayah bernama Puno yang sangat dekat dengan perempuan bernama Tala. Kesehariannya selalu dihabiskan dengan melakoni kegiatan-kegiatan bersama putri sematawayangnya itu.  Bahkan, hampir 24jam waktu yang tersedia mereka gunakan untuk berbagi canda dan tawa.  Namun sayang, Puno harus meninggalkan Tala karena terlebih dulu dipanggil Tuhan.

Memainkan cerita haru, dituntut fokus di atas panggung dan ‘mematikan’ diri agar seolah-olah boneka yang dimainkan tampak hidup. Namun, bukan berarti hati para puppeteer tidak tersentuh saat membawakan kisah tersebut. Kepada KRjogja.com, puppeteer 'Puno: Letters to the Sky' yang terdiri dari Pambo Priyoja (28), Beni Sanjaya (29), Rangga Dwi Apriadinnur (26), dan Anton Fajri (34) membeberkan kisahnya yang harus menahan sedih dan baru bisa meluapkannya saat di belakang panggung. Adapula yang belajar memahami kehilangan setelah memainkan kisah ini.

Pambo Priyoja (28), pria yang bergabung dengan Papermoon Puppet Theatre sejak 2015 tersebut mengaku hatinya sangat tersentuh dengan cerita 'Puno: Letters to the Sky' . Ia sangat merasakan apa yang seolah dirasakan setiap boneka. Bahkan, Pambo pun menjadi memahami makna kehilangan dengan berbagai sudut pandang berkat perannya memainkan beberapa karakter boneka.

“Saya sangat merasakan kesedihan ini. Ketika saya memegang beda boneka itu yang saya rasakan juga beda, waktu saya pegang Red Cloud saya memahami bahwa meninggal atau kehilangan itu sesuatu yang agung. Ketika saya memegang kaki puno, ya kehilangan ini memang berat karena saya yang harus meninggal,” ujarnya usai pementasan, Minggu (08/07/2018) di IFI LIP Yogyakarta.

Caption: Tim Papermoon Puppet Theatre  usai melakoni pertunjukkan 'Puno: Letters to the Sky'. (Foto: Gumido)

Kisah haru yang dibawakan pun terkadang membuat Pambo terlalu bersedih ketika di atas panggung. Padahal itu sendiri ‘haram’ dilakukan bagi para puppeteer, sebab hal tersebut akan membuat ekspresi diri sendiri bakal lebih menonjol tinimbang boneka yang dimainkannya. Oleh karena itulah, ia harus mampu menahan kesedihan dan meluapkannya ketika usai pertunjukkan.

“Marah atau sedih itu harusnya kita salurkan ke bonekanya tapi seringkali kami terlalu sedih jadi ikut ekspresinya padahal itu sebenarnya tidak boleh,” imbuhnya.

Senada dengan Beni Sanjaya (29), cerita yang dirasa sangat personal dan mewakilkan perasaan orang-orang ini membuatnya selalu terharu disetiap pertunjukkan. Tuntutan memainkan karakter dan emosional boneka membuatnya harus terlebih dahulu mampu merasakannya. Tanpa itu, rasa dari sebuah cerita yang dibawakan tidak akan sukses menyentuh hati penonton. Kala memainkan boneka tersebutlah Beni seringkali teringat dengan orang-orang terdekatnya yang lebih dulu menghadap Tuhan. Bahkan, energi luar biasa yang didapatkan dari penonton saat pertunjukkan di Manila, Filipina membuatnya tidak kuat menahan haru dan meneteskan air mata di atas panggung.

“Waktu di Manila, Filipina energi sangat luar biasa, penonton banyak banget dan rasanya dapat banget.  energinya mempengaruhi permainan. Rasanya tu ‘eeh’ banget gitu, apalagi cerita ini juga didedikasikan untuk teman kita di Manila yang sebenarnya mau kolaborasi karya tapi lebih dahulu meninggal,” ujarnya sembari mengingat kenangan saat melakoni pementasan di negeri tetangga tersebut.

Lain lagi halnya dengan yang dialami Rangga Dwi Apriadinnur (26),  additional puppeteer ini selalu terbayang sosok ibunda yang telah tiada ketika berada di atas panggung. Ingatannya selalu kuat ketika memainkan boneka, terlebih pementasan karya seni merupakan salah satu impian yang dipersembahkan untuk ibu. Meskipun begitu, ia pun selalu berusaha fokus saat melakoni pertunjukkan.

“Baru di belakang panggung nangis, keingat pementasan dan ngelihat orang-orang nangis itu saya langsung ikutan nangis. Ini salah satu impian untuk ibu, dahulu ibu kurang menyetujui saya masuk kesenian, pertunjukkan ini salah satu cara menunjukkan ke Ibu, ini bu aku punya sesuatu yang mungkin bisa ibu banggakan. Sayang ibu udah enggak ada,” jelasnya diakhiri dengan hela nafas panjang.

Kisah 'Puno: Letters to the Sky' juga memberikan banyak pelajaran bagi Rangga. Berkat sosok Puno, ia pun meyakini bahwa orang-orang yang telah meninggal sejatinya tidak pergi begitu saja, melainkan masih ada di sekelilingnya.

Baca Juga: Puno Ada untuk Mereka yang Merindukan Mendiang Orang Kesayangan

Selaras, puppeter senior Anton Fajri (34) mengungkapkan bahwa 'Puno: Letters to the Sky' merupakan cerita yang sangat emosional dan sangat sedih. Alur cerita yang menyajikan sebuah kehilangan itu membuatnya teringat dengan orang-orang kesayangannya yang lebih dahulu menghadap Tuhan. Walakin, ia mentransferkan segala kesedihannya di atas panggung kepada boneka yang dimainkannya.

“Di belakang panggung sedih banget, teringat orang-orang yang lebih dahulu dipanggil, sahabat, keluarga, simbah, tapi ya tetap fokus di atas panggung. Kita harus mengontrol emosi, kalau terlalu sedih kita juga akan bocor karena yang hidup bonekan dan pemain harus mati,” tuturnya. (MG-10)