DIY Editor : Agus Sigit Kamis, 05 Juli 2018 / 10:13 WIB

Usai Show di 3 Negara, Papermoon Akhiri Perjalanan 'Puno' di Jogja

SLEMAN, KRJOGJA.com - Papermoon Puppet Theatre menampilkan sebuah karya PUNO 'Letter To The Sky' yang menceritakan tentang kisah kehilangan orang tersayang. Terinspirasi dari kematian seseorang, pementasan ini didedikasikan untuk mereka yang telah pergi. Selama lima puluh menit penonton akan disajikan cerita seorang gadis bernama 'Tala' yang berusaha menerima kepergian ayahnya, 'Puno'.

Pada akhir pementasan muncul puluhan pesan yang ditulis dalam Bahasa Indonesia, Inggris, sampai Filipina. Ada sebuah pesan yang tertulis 'Mas, sudah ngobrol sama mama papa?, tentang perasaan-perasaanmu selama hidup'. Pesan yang dituliskan oleh para penonton itu tertuang dalam sebuah perahu kertas untuk orang-orang yang telah tiada. Dikirimkan ke langit sebagai pengobat rasa rindu.

Pentas teater boneka yang dibuat Papermoon tahun ini sudah diselenggarakan di tiga negara di Asia Tenggara. Pentas perdana digelar di Bangkok, Thailand, dalam acara Bangkok International Children Theatre Festival, 19 - 20 Mei 2018. Selanjutnya di Singapura dalam acara 100 &100 more festival, 29 - 30 Mei 2018. Kemudian di Manila, 3 Juni di Spotlight Central Mekati dan 8 Juni 2018 di St. Benilde College.

Baca juga:
'Cerita Anak' Papermoon Membuat Saya Menangis!

Nil Maizar Pelatih Baru PS Tira
 

Ketiga pementasan itu merupakan bagian dari rangkaian Pentas Tour Asia Tenggara yang ditutup di Yogyakarta. "Ini sebuah kehormatan yang luar biasa. Karena akhirnya setelah sekian lama Papermoon akhirnya bisa pentas pulang kandang", kata Maria Tri Sulistyani selaku producer pada Rabu malam, (4/7/2018), di IFI LIP Yogyakarta. Di Yogyakarta sendiri pementasan 'Puno Letter To The Sky' akan berlangsung hingga Minggu 8 Juli 2018. Hanya saja, untuk tiket sudah habis.

Selama pementasan, papermoon menyampaikan jalannya cerita menggunakan bahasa tubuh. Boneka Tala dan Puno digerakkan oleh empat Puppeteers yakni, Anton Fajri, Beni Sanjaya, Pambo Priyojati,dan Rangga Dwi Apriadinnur.

Menurut Rangga di akhir pementasan, gesture adalah salah satu cara untuk menyampaikan cerita. Setiap penonton dapat memahami sendiri isi cerita dari melihat gerak boneka yang di mainkan.

Pentas penutup di Yogyakarta ini disambut baik para penonton. Terbukti dalam rencana enam kali pementasan akhirnya dibuat menjadi sepuluh kali pementasan yang tiketnya telah habis terjual dalam waktu dua hari. (Gumido)