DIY Editor : Agung Purwandono Selasa, 26 Juni 2018 / 09:01 WIB

Pasar Sepeda Gappsta, Saksi Jayanya Yogya Kota Sepeda

KRJOGJA.com - Yogyakarta pernah kondang dengan julukan Kota Sepeda. Hal ini tak lepas dari masyarakatnya yang menggunakan sepeda kayuh atau onthel untuk aktivitas sehari-hari.

Yogyakarta sebagai kota sepeda pernah digaungkan kembali pada tahun 2010 atau 8 tahun silam dengan program 'Sego Segawe' kepanjangan dari Sepeda Kanggo Kerjo lan Nyambut Gawe. Sayangnya, kondisi lalu lintas dan infrastruktur serta kebijakan yang ada dari pemerintah saat ini tidak banyak mendukung. 

Salah satu saksi Yogyakarta sebagai kota sepeda adalah Pasar Sepeda Gappsta yang berada di Jalan MT Haryono Yogyakarta. Pasar ini merupakan satu di antara pasar sepeda yang masih eksis hingga kini. 

KRjogja.com pun mencoba menelusuri lebih dalam pasar sepeda yang kini terlihat cukup sederhana di tepi Jalan MT Haryono tepatnya di seberang SMA N 7 Yogyakarta. Pasar Sepada Gappsta mulai ada di Jl MT Haryono tahun 1968 atau 50 tahun silam. 

Namun jauh sebelum menempati lokasi tersebut, pedagang sepeda menempati pasar sepeda di kawasan Alun-alun Pakualaman. "Awalnya Gappsta berada di kawasan Pakualaman hingga kemudian pindah pada tahun 1968," kata Wiyono (73) pengurus Pasar Sepeda Gappsta.

Seingat Wiyono, perpindahan tersebut karena lahan yang ada di gunakan untuk tempat bilyar. “Saat itu pecah jadi dua, saya bersama 21 orang pedagang berpindah ke Jalan MT Haryono sampai saat ini. Tapi yang masih ada tinggal 3 orang karena yang lain sudah meninggal dan tidak lagi bisa berjualan,” ungkap Wiyono Senin (25/6/2018). 

Dari depan, pasar ini sudah terkesan sangat tua dan seadanya ini tak menarik. Namun, ketika masuk lebih dalam, banyak harta karun yang bisa kita lihat dari sepeda-sepeda tua yang dijual para pedagangnya. 

Obrolan pun mulai mengalir dari sejarah panjang Pasar Sepeda Gappsta yang ternyata memiliki singkatan nama. Gabungan Pedagang Perantara Sepeda Yogyakarta, adalah kepanjangan yang kemudian dijelaskan cukup panjang oleh Wiyono kepada KRjogja.com. 

Saat awal berpindah itulah menurut Wiyono menjadi saat paling istimewa dan masa keemasan bagi perjalanan pedagang sepeda di Gappsta. “Saat itu kami jualan seperti dealer motor kalau zaman sekarang, semua orang pakai sepeda jadi memang dibutuhkan masyarakat, meski saat itu kondisi perekonomian sedang tidak bagus,” sambungnya. 

Baca Juga : 

Anak Muda Bantul Ini Produksi Jersey Sepak Bola yang Diakui Internasional
Dipelihara Dua Bulan, Joper Siap Dipanen
Mudik Bersepeda Bekasi ke Gunungkidul, Sandi Punya Pengalaman Seram

Sepeda jengki dengan lampu terpasang di bagian depan merupakan salah satu barang dagangan yang paling dicari pembeli saat itu. “Kalau orang yang mampu carinya merk dari Eropa seperti Gazelle, Humber, Raleigh, Simplex atau Fongers karena sepeda digunakan sebagai penanda status sosial dan itu terjadi betul saat itu,” kenangnya mengisahkan. (Fxh)

Baca kisah selanjutnya. 

Pernah Dicurigai Polisi, Wiyono Jual Sepeda Rp 16,5 Juta