DIY Editor : Agung Purwandono Senin, 25 Juni 2018 / 07:15 WIB

Mudik Bersepeda Bekasi ke Gunungkidul, Sandi Punya Pengalaman Seram

SELAMA 4 hari, 8-12 Juni yang lalu, Sandi Setiawan mudik ke Yogyakarta, tepatnya ke Semin Gununkidul dengan bersepeda. Ternyata bujangan ini sudah melakukan mudik bersepeda sejak 2015. Selama tiga tahun melakukan mudik, sandi banyak pengalaman.

Saat dijumpai di kediamannya di Semin, Gunungkidul Sandi banyak bercerita. Selama hampir seminggu dalam perjalanan banyak sekali pengalaman yang Sandi dapatkan.

Pengalaman ini tentunya tidak ia dapatkan ketika hanya mudik dengan sepeda motor seperti biasanya. Sambil mengingat-ingat kenangannya selama perjalanan mudik ia berkata “Mudik di jalan pakai sepeda itu nikmat”.

Diajak Berfoto dan Dapat Bekal Makanan

Kenikmatan itu karena banyak orang yang menyambutnya ramah dan sangat antusias. Sering kali Sandi diminta untuk berhenti karena masyarakat yang ingin berfoto ataupun memberikan bekal makanan bahkan bingkisan.

Sandi merasa dengan mendapat sambutan yang baik dan juga bisa menghibur pemudik lainnya dengan sepedanya yang memancarkan cahaya kelap kelip. Selain itu ketika dalam perjalanan ia bisa bertemu dengan banyak orang terutama para “goweser” ( sebutan bagi pecinta sepeda) yang tergabung dalam komunitas sepeda atau warga sekampung halamannya.

Dengan bertemu mereka Sandi bisa menjalin silaturahmi sehingga memperluas tali persaudaraan. “Ini yang membuat saya ketagihan sampai mudik pakai sepeda tiga kali, karena kalau pakai motor pasti hanya jalan terus saja,” ungkap Sandi.

Ia mengaku senang karena bisa berinteraksi dengan banyak orang dan merasakan berbagi.

Baca Kisah Sebelumnya : Fakta Mudik Bersepeda Bekasi - Gunungkidul

Selain itu menaklukkan medan yang menanjak dan tidak mudah menjadi tantangan untuk Sandi. Bagi dirinya lolos melewati tanjakan seperti tanjakan Gombel, Bawen di Semarang, dan Gunungkidul menjadi kepuasan tersendiri. Jalan yang jauh juga bukan hal yang remeh untuknya.

Tulisan “Mudik Santai Bekasi -> Gunungkidul” yang ia letakan di sepedanya menjadi motivasi tersendiri bagi Sandi ketika mulai merasa kurang bersemangat. Ditambah dengan dukungan dan semangat dari banyak orang membuat dirinya semakin gencar mengayuh sepedanya menuju kampung halamannya.

Hanya satu yang membuat Sandi merasa kurang, ia merasa kesepian dan jenuh saat naik sepeda dengan jarak sejauh itu. Tidak ada teman bicara sehingga seringkali dirinya menghibur diri dengan memutar musik melalui handphonenya atau bernyanyi-nyanyi sendiri di jalan.

Alami Kejadian Mistis

Sapaan orang ketika di jalan meskipun hanya sekedar suara klakson menjadi sangat berarti bagi Sandi karena ia menjadi seperti ada temannya. Ia juga kadang merasa takut ketika melewati jalan yang sepi. Sandi takut jika ada orang jahat atau kejadian-kejadian aneh.

Ia jadi teringat kejadian mistis dan seram yang sempat ia alami saat mudik dengan sepeda pada tahun 2016. Saat itu, pada tengah malam sepedanya tiba-tiba los atau lepas rantai di tempat yang gelap dan sepi.

Ia lalu menengok kanan dan kiri dan mendapati banyak bunga kamboja putih di sekitarnya. Ternyata dirinya terhenti tepat di depan kuburan.

Sandi sempat heran karena sepedanya tidak pernah lepas rantai sebelumnya. Akhirnya dengan perasaan takut, Sandi membenarkan sepedanya dan tetap melanjutkan perjalanan.

Biaya Mudik 3 Kali Lipat Naik Motor

Biaya untuk mudik dengan sepeda kayuh juga tidaklah murah. Untuk mempersiapkan sepeda ia sudah merogoh kocek lebih dari satu juta rupiah.

Sedangkan uang makan dan untuk keperluan hidupnya sehari-hari di jalan sudah habis lima ratus ribu rupiah. Jika dihitung-hitung oleh Sandi, mudik dengan sepeda menghabiskan dua sampai tiga kali lipat dari mudik yang biasanya dengan motor.

 Namun karena sudah niat dan Sandi sangat menikmati mudik santainya dengan sepeda, ia tetap meneruskan niatnya.

Cerita untuk Anak Cucu

Setelah 4 hari 4 malam di jalan, mudik bersepeda tahun 2018 ia selesaikan pada 12 Juni saat ia sampai di rumah. Keluarga menyambutnya dengan senang sekaligus lega.

Dahulu saat pertama kali mudik menggunakan sepeda keluarga sempat marah kepada Sandi terutama orang tuanya. Mereka khawatir akan keselamatan putra sulung dari dua bersaudara tersebut.

Namun setelah Sandi memberikan pengertian pada keluarganya, mereka mengizinkan sandi meneruskan keinginnannya. Bersepeda tidak ia lakukan saat balik ke Bekasi, ia justru naik motor yang sebelumnya ia paketkan ke kampung halaman. Sedang sepeda kayuhnya gantian ia paketkanke Bekasi.

“Jadi, sebelum saya punya istri, anak, dan juga belum punya banyak beban, saya ingin menikmati masa muda. Dengan begini saya setidaknya punya banyak cerita yang bisa saya bagikan ke anak-anak saya besok,” ujarnya tentang alasan mudik dengan sepeda.

Lalu Sandi membayangkan dirinya bercerita kepada anak-anaknya. “Disek Bapakmu pernah edan le, pernah ngepit seko Bekasi tekan Gunungkidul,” imbuhnya dengan gelak tawa. (Fatimah Arum Utari)