Gaya Hidup Agregasi    Sabtu, 16 Juni 2018 / 13:12 WIB

Sudah Tua Masih Jerawatan? Jangan Khawatir

DI masa remaja, timbulnya jerawat adalah hal yang wajar terjadi. Namun jerawat tetap bisa muncul hingga usia dewasa. Penyebabnya pun beragam, entah itu karena debu kotoran, makanan berminyak, cokelat, atau hormon.

Jerawat pada orang dewasa umumnya timbul lebih banyak di area pipi dan rahang. Walau begitu, kehadirannya tetap saja memiliki mengurangi tingkat kepercayaan diri.

Bahkan, sebuah penelitian baru-baru ini yang dilakukan oleh British Association of Dermatologists menyatakan 54% orang dewasa di Inggris merasa jerawat memiliki dampak negatif pada kepercayaan diri. Menurut seorang dokter kulit, Dr. Anjali Mahto, semua jerawat sebenarnya merupakan masalah hormonal.

“Masalah kulit sering dikaitkan dengan perubahan hormonal yang terjadi selama kehidupan seseorang khususnya pada periode tertentu seperti pubertas, kehamilan, dan menopause. Hormon dapat mendatangkan malapetaka pada kulit dalam cara yang agak tak terduga selama beberapa waktu terakhir," terangnya seperti yang dikutip dari Independent.

Jerawat muncul karena hormon androgen meningkatkan produksi sebum yang memengaruhi pori-pori. Kelenjar sebasea pada orang yang terkena jerawat sangat sensitif terhadap kadar hormon tertentu sehingga membuat kelenjar menghasilkan minyak berlebih. Pada saat bersamaan, sel-sel kulit mati yang melapisi pori-pori tidak ditumpahkan dengan baik dan menyumbat folikel.

Setiap orang sebenarnya memiliki bakteri penyebab jerawat. Namun pada beberapa orang penumpukan minyak dapat menciptakan lingkungan yang ideal untuk bakteri berkembang biak. Kondisi inilah yang memicu peradangan dan pembentukan bintik-bintik merah.

Dr Anjali menjelaskan, 2/3 perempuan akan memiliki jerawat menjelang periode menstruasi karena kadar androgen lebih tinggi pada saat itu. 

Untuk mengatasi jerawat karena masalah hormonal, ada tiga pengobatan yang bisa dilakukan yaitu dengan antibiotik, terapi hormon, dan roaccutane. Antibiotik dapat membunuh bakteri yang terkait dengan peradangan. Biasanya antibiotik dikombinasikan dengan pilihan perawatan lain seperti retinoid atau benzoyl peroxide.

Terapi hormon merupakan pilihan pengobatan yang ditawarkan kepada anak dan perempuan dewasa yang telah mengalami menstruasi. Cara yang paling umum dilakukan adalah menggunkanan kombinasi pil kontrasepsi. Pil itu diyakini dapat mengurangi jumlah hormon dalam tubuh yang berkaitan dengan penyebab jerawat. Namun risiko untuk pengobatan ini lebih tinggi seperti masalah gairah, mual, dan perubahan suasana hati.

Sementara itu, roaccutane atau yang sering disebut isotretinoin merupakan pilihan pengobatan terakhir apabila jerawat tidak berhasil juga diatasi. Roaccutane menghentikan kinerja kelenjar sebasea untuk menghasilkan begitu banyak minyak dan meningkatkan penumpahan sel-sel kulit mati. Sayangnya pengobatan ini dapat menyebabkan kulit kering dan pecah-pecah serta baru hanya diterapkan oleh dokter kulit di Inggris. (*)