DIY Editor : Tomi sudjatmiko Jumat, 15 Juni 2018 / 11:23 WIB

Melihat Pasar Tertua Di Kota Yogyakarta

YOGYAKARTA dikenal sebagai kota pelajar dan budaya. Banyak hal yang bisa diulas dari Ibukota Propinsi DI Yogyakarta ini. Salah satunya adalah keberadaan pasar tradisional yang masih bertahan selama ini. Namun, lebih dari itu, tidak banyak yang mengetahui bahwa Pasar Kota Gede meruupakan pasar tertua dibandingkan yang lain.

Pasar Sargede yang kini popular dengan nama Pasar Legi Kotagede dibangun pada abad 16. Konon berdasar catatan sejarah yang ada pasar ini juga lebih dulu ada daripada Kerajaan Mataram Islam yang berpusat di Kotagede. Pasar sebagai pusat ekonomi di anggap jauh lebih penting bagi masyarakat Mataram daripada kerajaan sebagai pusat pemerintahan.

BACA JUGA :

Tradisi Warga Kendal Berburu Bunga di Pasar Kembang Waleri

Situasional, Jika Macet, Arus Kendaraan Depan Pasar Ir Soekarno Dialihkan

 

 

Kala itu Ki Gede Pemanahan mendapat hadiah dari Jaka Tingkir atau Sultan Hadiwijaya setelah dirinya berhasil menahlukan Arya Penangsang. Pasar dianggap bukan hanya sebagai pusat ekonomi semata. Tapi lebih jauh dari itu pasar adalah tempat interaksi warga dimana segala kegiatan bisa terjadi di pasar. Pasar juga tempat berkumpul seluruh kalangan dari rakyat jelata hingga mereka yang kaya.

Seperti kerajaan pada umumnya, tata kota atau wilayah ini pada jaman dulu juga telah menganut konsep Catur Gatra Tunggal. Dimana dalam sebuah pemerintahan itu harus ada 4 hal yakni kraton sebagai pusat pemerintahan, alun-alun sebagai tempat berkumpul dan budaya, masjid sebagai tempat ibadah dan pasar sebagai pusat ekonomi. Dinamakan Pasar Legi karena puncak keramaian ada di hari pasaran legi dalam penanggalan Jawa. Pasaran ini akan terjadi setiap 5 hari sekali, selain legi masih ada pasaran paing, pon, wage dan kliwon.

Pasar Kotagede meski hanya pasar tradisional tapi dari sisi kelengkapan jauh lebih lengkap dari mall. Jadi siapapun yang berkunjung dan ingin cari apapun itu pasti ada terutama pada hari pasaran. Pada hari pasaran jumlah pedangang bisa mengalami peningkatan lebih dari 100 persen. Dimana segala kebutuhan hidup ada disini, mulai dari aneka sayuran, sandang, akesesoris, peralatan keluarga hingga hewan piaraan mulai dari ikan hingga burung ada di sini.

Wajah pasar tidak banyak mengalami perubahan. Renovasi menyeluruh terakhir kali dilakukan pada tahun 1986. Tepat 22 Februari 1986, pasar ini diresmikan oleh Soegiarto, Walikota Yogyakarta pada masa itu. Saat gempa bumi Mei 2006 melanda Yogyakarta, beberapa kerusakan terjadi pada fisik bangunan pasar meski tidak begitu parah. Kerusakan parah justru terjadi pada Babon Anim, gardu listrik di barat laut pasar.

Babon Anim ini merupakan salah satu landmark Kotagede. Ia dibangun di awal tahun 1900-an. Disebut babon karena dulunya merupakan gardu listrik induk. Sementara penambahan kata anim karena gardu pusat kontrol listrik ini merupakan warisan perusahaan listrik Pemerintah Belanda, NV ANIEM (Algemeen Nederlands Indische Electricitiet Maatschappij). Kondisinya saat ini tampak baik karena telah direnovasi.

Untuk menjangkaunya sangatlah mudah, dari Jogja bisa berjalan ke arah tenggara nanti akan ditemukan Jalan Mondorakan 172B, Kotagede. Pasar ini sangat mudah ditemukan karena banyak papan penunjuk yang ada dan letaknya berdekatan dengan makam para raja dan Masjid Agung Kotagede. (*)