Jateng Editor : Danar Widiyanto Selasa, 05 Juni 2018 / 00:50 WIB

Tak Pernah Diperhatikan, Ratusan Karyawan RSIS Pabelan Tuntut Pembayaran THR

SUKOHARJO, KRJOGJA.com - Ratusan karyawan Rumah Sakit Islam Surakarta (RSIS) Pabelan, Kartasura, Sukoharjo menuntut pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) dan gaji, Senin (4/6/2018). Tuntutan diajukan dalam sebuah pertemuan dengan jajaran pimpinan rumah sakit. Sampai akhir pertemuan belum menghasilkan putusan jelas dan membuat karyawan kecewa.

Salah satu karyawan sekaligus perawat RSIS Pabelan, Kartasura Fuadi Aslam mengatakan, para karyawan sudah sangat kecewa dengan sikap pimpinan rumah sakit tempatnya bekerja karena tidak memikirkan nasib karyawannya. Sebab krisis keuangan yang sudah sangat lama akibat masalah hukum sampai sekarang belum terselesaikan.

Kekecewaan karyawan memuncak setelah ada surat edaran berkaitan dengan pembayaran THR akan diutang. Artinya RSIS Pabelan, Kartasura berhutan kepada para karyawan dan belum bisa melakukan pembayaran THR secepatnya.

"Para karyawan jelas kecewa karena tahun lalu saja THR juga diutang dan belum lunas sampai sekarang. Gaji juga diutang dan bahkan beberapa karyawan dirumahkan," ujarnya, Senin (4/6/2018) malam.

Fuadi dihadapan jajaran pimpinan saat pertemuan di lantai II RSIS Pabelan, Kartasura mengatakan, selama ini para karyawan sudah sangat patuh bekerja tanpa mendapatkan hak penuh dari rumah sakit. Para karyawan hanya diberikan janji dan cerita sejarah tentang tanah wakaf yang menyebabkan terjadinya masalah dualisme kepengurusan rumah sakit.

"Para karyawan ini mempunyai keluarga yang harus dihidupi. Tanpa gaji penuh dan bayangan tidak ada THR karyawan jelas resah. Apalagi selama ini karyawan harus banting tulang mencari nafkah dengan bekerja lainnya demi bisa mendapatkan uang untuk keluarga," lanjutnya.

Karyawan RSIS Pabelan, Kartasura Nurul mengatakan, masalah THR dan gaji harus segera diselesaikan. Apabila tidak maka para pimpinan RSIS Pabelan, Kartasura diminta mengundurkan diri. Apabila diperlukan maka jajaran manajemen dan direksi bisa menjual aset untuk menutup hutang membayar gaji dan THR para karyawan.

"Karyawan untuk beli beras saja sulit karena tidak punya uang karena mengandalkan gaji dari RSIS Pabelan, Kartasura. Kalau pimpinan tidak bisa memenuhi tuntutan karyawan maka sebaiknya mengundurkan diri saja," ujarnya.

Salah satu dokter RSIS Pabelan, Kartasura dr Ibrahim mengatakan, sebagai dokter sudah bosan dengan sandiwara membela harta tanah wakaf. Pimpinan rumah sakit harus memperjuangkan nasib para karyawannya yang selama ini telah bekerja.

"Selama ini jangan hanya mengurusi masalah hukum saja. Pimpinan rumah sakit harus membayarkan kewajibannya berupa gaji dan THR pada karyawan. Gaji dan THR itu sudah jadi hak untuk diterima. Jadi tidak perlu ribut ribut seharusnya sudah bisa diselesaikan," ujarnya.

Pimpinan RSIS Pabelan, Kartasura M Djufrie mengatakan, RSIS Pabelan, Kartasura sudah mengeluarkan surat edaran pada para karyawan berkaitan hutang pembayaran THR. Para karyawan belum akan menerima THR dalam waktu dekat karena rumah sakit tidak memiliki uang.

"Kondisi rumah sakit sekarang masih konflik dan proses hukum. Rumah sakit juga tidak memiliki uang untuk membayar THR karyawan jadi harus dihutang dulu. Nanti setelah ada uang maka akan dibayar," ujarnya.

Djufrie menegaskan soal tuntutan karyawan agar dirinya mengundurkan diri langsung ditolak. "Saya tidak akan mengundurkan diri dan tetap memimpin rumah sakit," lanjutnya. (Mam)