Olahraga Editor : Danar Widiyanto Senin, 04 Juni 2018 / 00:30 WIB

Empat Bendera 'Corner' SSA Hilang, Suporter Niat Saksikan Sepakbola?

BANTUL, KRJOGJA.com - Suporter sepakbola seyogyanya datang ke stadion untuk menyaksikan sebuah pertandingan. Dengan pemikiran terbuka, pasukan yang kerap disebut pemain ke-12 ini seharusnya menghargai segala elemen ‘tetek-bengek’ yang membuat pertandingan bisa berjalan.

Namun tampaknya pemikiran menghargai sepakbola sebagai sebuah hal ‘sakral’ dan layak dinantikan tidak bisa dilakukan dua suporter sepakbola Persija dan Persebaya Minggu (3/6/2018). Kerusuhan yang pecah di luar stadion mungkin bisa saja kita abaikan karena terjadi bukan di lokasi tempat pertandingan dilaksanakan.

Baca Juga: Pertandingan Persebaya VS Persija Batal, Kenapa?

Namun ketika kaca stadion dihancurkan, bahkan hingga empat bendera corner ikut-ikutan diambil tanpa permisi. Tentu saja kita semua bisa mempertanyakan bagaimana seseorang bisa menghargai sebuah pertandingan olahraga sepakbola, tidak perlu diperdebatkan.

Setidaknya itulah yang dipikirkan Edi Setiyadi, salah satu staf pengelola SSA saat berbincang dengan KRjogja.com. Ia begitu heran empat bendera corner yang sebenarnya tidak mahal namun sangat penting dalam sebuah pertandingan sepakbola bisa hilang dibawa kabur suporter yang sempat merangsek menguasai area stadion yang seharusnya clear.

Wajah sayu yang terlihat begitu lelah tak bisa lagi berpikir banyak melihat paralon air yang pecah, kaca beberapa ruang pecah, adboard rusak hingga sampah berserakan di lokasi yang seharusnya steril untuk pemain dan perangkat pertandingan. “Saya tidak habis pikir, tiang dan bendera corner saja bisa hilang diambil, apa orang-orang Bonek itu sudah tidak niat nonton sepakbola ya,” keluhnya.

Baca Juga: Bonek-The Jak Rusuh di SSA, Mobil Panpel PS Tira Jadi Korban

Pertandingan Persija kontra Persebaya yang sejatinya merupakan laga klasik di Indonesia akhirnya gagal dilaksanakan. Polisi mencabut rekomendasi ijin pertandingan setelah mendapat keterangan dari panitia pelaksana pertandingan.

Suporter kedua tim tersebut berulah dengan saling lempar di bagian luar stadion bahkan jauh sebelum laga dimulai. Akibatnya, semua pecinta sepakbola gagal menyaksikan partai menarik akibat keegoisan kelompok yang dikatakan pemain ke-12 tersebut.

Mungkin sudah saatnya, siapa saja yang merasa suporter sepakbola mulai introspeksi diri untuk lebih menghargai segala hal yang membuat pertandingan sepakbola bisa terselenggara. Kita tidak mau habit buruk tersebut terus-menerus tersemat sebagai cap yang sulit hilang meski dengan meneteskan air ludah. (Fxh)