KOLOM Editor : Danar Widiyanto Minggu, 03 Juni 2018 / 21:30 WIB

Membumikan Kepemimpinan Rasulullah

KEPEMIMPINAN adalah proses mengarahkan orang dan mempengaruhi aktivitas-aktivitas yang berhubungan dengan tugas dari anggota-anggota kelompok untuk mencapai suatu tujuan. Untuk menjadi seorang pemimpin yang efektif, seorang pemimpin harus dapat mempengaruhi seluruh yang dipimpinnya melalui cara-cara yang positif.

Semua orang adalah pemimpin, "Masing-masing kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Seorang imam (kepala negara) adalah pemimpin dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Seorang laki-laki adalah pemimpin dalam keluarganya dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Setiap perempuan adalah pemimpin di rumah suaminya dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya.
Setiap asisten rumah tangga adalah pemimpin pada harta majikannya dan akan ditanyai tentang kepemimpinannya. Setiap laki-laki juga pemimpin pada harta orangtuanya dan akan ditanya tentang kepemimpinannya. Setiap kalian adalah pemimpin dan akan ditanya tentang kepemimpinannya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Para pemimpin dalam kelompok pada jenis dan tingkat apa pun pastilah akan mengajak yang dipimpinnya ke suatu tujuan tertentu yang baik.

"Pemimpin bukan administrator yang suka mengatur orang lain, tetapi yang membawa air bagi pengikutnya supaya mereka dapat melanjutkan pekerjaan mereka" (Robert Townsend). Pemimpin yang berhasil haruslah seorang pribadi yang baik dan menerapkan kepempinannya dengan baik pula.

Firman Allah, "Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu, yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah," (QS Al Ahzab: 21). Rasulullah SAW mencontohkan, minimal empat hal yang harus ada dan melekat pada diri seorang pemimpin, yaitu: siddiq, amanah, tabligh dan fathonah.

Siddiq mengharuskan seorang pemimpin bertindak secara benar dan berpihak pada kebenaran, kejujuran, dan keadilan. Amanah memiliki arti benar-benar dapat dipercaya. Rasulullah dijuluki gelar 'Al-Amin', karena beliau selalu mengerjakan dengan sebaik-baiknya apa yang menjadi tanggung jawabnya.

Tabligh berarti menyampaikan. Menyampaikan segala sesuatu yang telah diamanahkan kepadanya. Seseorang pemimpin harus menyampaikan kepada yang dipimpinnya sesuatu yang benar dan baik, meski terkadang pahit. Fathonah berarti cerdas, pintar, berwawasan maju, punya motivasi yang tinggi, selalu berinovasi untuk kemajuan, serta punya pemikiran cemerlang untuk memajukan dan menyejahterakan yang dipimpinnya.  

Selanjutnya tentang model kepemimpinan, teori kepemimpinan Barat mengenal lima model, yaitu otokratis, militeristis, paternalistis, kharismatik, dan demokratis. Rasulullah SAW mampu mengkombinasikan kelima model kepemimpinan menjadi model kepemimpinan yang sempurna, dengan mengkombinasikan akhlakul karimah. Dengan kekuatan akhlakul karimah, Rasulullah mampu menciptakan kekuatan baru untuk menegakkan dan menyebarkan ajarannya ke seluruh penjuru dunia.  

Selain karakter dan model kepemimpinan yang istimewa, kepemimpinan Rasulullah SAW selalu mengimplementasikan prinsip-prinsip kepemimpinan yang baik, antara lain, dalam memimpin selalu menggunakan sistem musyawarah, menghargai orang lain baik lawan maupun kawan, sifat ramah, selalu menunjukkan kelembutan, lebih mementingkan umat daripada diri sendiri, cepat menguasai situasi dan kondisi, pemersatu umat, mengembangkan dasar-dasar perdamaian, pembawa rahmat bagi seluruh alam, serta konsisten tidak pandang bulu dan tidak pilih kasih.

Pada sumber lain menerangkan bahwa kunci kesuksesan kepemimpinan Rasulullah, terdapat pada empat kekuatan kepemimpinannya, yaitu inspiratif, motivatif, solutif, dan prediktif. Di samping itu, dalam membumikan kepemimpinannya, Rasulullah sangat dekat dengan orang-orang yang dipimpinnya dengan sebutan 'sahabat', suatu sebutan yang menunjukkan kedekatan pemimpin dengan yang dipimpinnya, yang secara emosional memiliki kekuatan yang saling percaya yang tinggi. (Prof Dr Sutrisna Wibawa, Rektor UNY)