KOLOM Editor : Danar Widiyanto Sabtu, 02 Juni 2018 / 07:10 WIB

Alquran dan Pendidikan

DALAM suasana peringatan Nuzulul Quran, kita dapat menelaah banyak kandungan Alquran yang berkenaan dengan kehidupan manusia, yang salah satunya tersurat dalam QS Al Baqarah, 2:185, bahwa "Bulan Ramadan (adalah bulan) yang di dalamnya diturunkan Alquran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (yang haq dan bathil)". Petunjuk dimaksudkan untuk membimbing umat manusia, baik secara pribadi maupun kelompok, untuk meraih kebahagian hidup di dunia dan akhirat.

Sejalan dengan itu, Rasulullah SAW ditugaskan menyampaikan petunjuk-petunjuk untuk mensucikan dan mengajarkan manusia (QS, Al Jumu'ah, 62:2). M Quraish Shihab (1992) menyatakan, yang dimaksudkan dengan mensucikan adalah mendidik. Karena itu orientasi tugas Rasulullah SAW adalah mendidik dan mengajar manusia untuk menjadi insan bertaqwa (Imam Ghozali) atau insan kamil (Muhammad Iqbal).

Insan kamil dapat digambarkan dengan manusia utuh yang mampu menunjukkan perilaku baik sebagai hamba Allah, wamaa khalaqtu aljinna wa al insa illaa liya'buduun (QS, Al-Dzariyah, 51:56), maupun sebagai khalifah di atas bumi, (Innii jaa'ilun fii al ardzi khaliifah (QS Al Baqarah, 2:30). Menyadari akan eksistensi manusia yang terdiri atas jasmaniah dan ruhaniyah (aqal dan hati), maka Alquran dihadirkan sebagai acuan untuk mendidik dan mengajar (pikiran dan nilai, serta keterampilan), sehingga menjadi insan kamil, yang terbangun dalam suatu kesatuan dan kesimbangan (orientasi dunia dan akhirat, iman dan ilmu, ilmu dan amal, pribadi dan kelompok).

Berkenaan dengan itu, maka sistem pendidikan menurut Alquran tidak sepenuhnya bisa dipisahkan orientasi dan prosesnya, justru perlu dilakukan secara bersamaan, sehingga transfer ilmu seharusnya memiliki kandungan nilai, baik dalam dokumen perencanaan dan pelaksanaan pendidikan maupun pada saat evaluasi pendidikan.

Untuk mewujudkan sistem pendidikan berbasis Alquran, Pendidikan Terpadu (Integrated Education) merupakan model pendidikan yang efektif, akuntabel, dan ideal. Karena itu keterpaduan pendidikan tidak hanya pada pembuatan dokumen kurikulum dan rencana pembelajaran, serta proses pembelajaran saja, melainkan juga evaluasi pendidikannya, sehingga hasil pendidikan ditentukan tidak hanya diukur produk saja, melainkan juga masukan awal dan prosesnya, juga capaian aspek kognitif dan keterampilannya saja, melainkan juga aspek afektif (nilai dan sikap). Bahkan idealnya dalam batas tertentu aspek afektif bisa memberikan poin terhadap hasil aspek lainnya atau  men-zero-kannya.

Satu contoh yang menarik tentang keterpaduan antara keterampilan dengan afektif, kekuasaan Allah SWT, yakni wamaa ramaita idz ramaita, walaakinna Allaaha ramaa", yang artinya "...dan bukanlah engkau yang melempar ketika engkau melempar, akan tetapi Allahlah yang melempar" (QS, Al Anfal, 8:17). Padahal sering kali muncul persepsi bahwa keterampilan tidak harus dikaitkan dengan aspek afektif.

Akhirnya pelajaran yang sangat berharga dari Alquran, adalah ayat pertama dari wahyu pertama, yaitu Iqra bismi rabbika alladzy khalaq (QS Al 'Alaq, 96:1) dan walaakin kuunuu rabbanyyna bimaa kuntum tu'allimuuna al kitaaba wa bimaa kuntum tadrusuun (QS Ali Imran, 3:79). Kedua ayat ini mengisyaratkan pentingnya pendidikan sepanjang hayat (lifelong education). Dengan begitu maka Alquran benar-benar menunjukkan misinya bahwa pendidikan harus menjadi proses humanisasi untuk menjaga dan menjamin kefitrahan manusia. (Prof Dr H Rochmat Wahab MPd MA, Dosen FIP Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Ketua Bidang Pembinaan Keumatan MPP ICMI, dan Ketua Dewan Kehormatan FRI)