Hiburan Editor : Danar Widiyanto Jumat, 01 Juni 2018 / 01:10 WIB

Pengunjung ArtJog 2018, Tetap 'Selfie' Tanpa Merusak Karya

BANYAKNYA kejadian perusakan karya seni secara tak sengaja saat pengunjung mengambil swafoto ternyata tak terjadi di ArtJog 2018. Pengunjung pameran seni mashyur di Jogja National Museum (JNM), Jalan Prof Ki Amri Yahya No 1, Yogyakarta itu juga membaca deskripsi singkat yang ditaruh di samping karya.

Pantauan KRjogja.com, pengunjung ArtJog 2018 tetap melakukan swafoto. Namun, kedatangan mereka ke JNM tidak semata untuk konten media sosial. Sebagian dari mereka bahkan memperhatikan dengan detail karya-karya dari sang seniman.

Seperti yang dilakukan Anggita Dyah dan Hastin Fariha. Dua pengunjung ArtJog itu mencoba mengikuti alur pameran mulai dari pintu masuk, naik ke lantai satu hingga tiga dan turun menuju pintu keluar. Tidak jarang, perjalanan mereka menikmati seni terhenti untuk membaca deskripsi sembari mengagumi kualitas karya para seniman. Perlu diketahui, Anggita dan Hastin merupakan pengunjung asal Magelang yang sengaja meluangkan waktu mengunjungi ArtJog. Bagi mereka, ArtJog adalah pameran seni yang tak bisa dilewatkan, meski masing-masing dikenakan biaya untuk melihat pameran. Setiap tahun, selalu ada tema dan karya baru yang mampu mengolah rasa publik akan kehadiran seni sebagai pelengkap hidup.

"Sebagai orang awam, menurutku karya seniman ArtJog ini bagus. Bukan cuma artistik tapi estetikanya juga bagus," tutur Anggita ketika berbincang dengan KRjogja.com. Ia menilai, setiap seniman memiliki pemikiran yang dalam. Setiap karya dibuat berdasarkan keresahan atau fokus seniman atas suatu fenomena.

"Memang kadang sulit dipahami, tetapi adanya deskripsi di samping-samping itu buat saya jadi paham maknanya apa. Contoh, ada seniman yang membuat jalinan rafia. Itu bagus, tapi maknanya juga dalam, tentang data yang satu sama lain saling terjalin. Itu masuk di ingatan saya," ungkapnya. Tak heran, kurang lebih 2,5 jam keduanya mengitari arena ArtJog. Ditanya mengenai kebiasaan swafoto pengunjung, Hastin menjawab, hal tersebut sudah menjadi lumrah.

"Asal tidak merusak karya tidak masalah sih menurutku. Foto pengunjung yang diunggah ke media sosial itu juga kan bisa menarik lebih banyak orang untuk datang ke pameran. Yang penting hargai karya dan tidak merusaknya," paparnya.

Media Relasi ArtJog 2018, Amelberga Astri P membenarkan perilaku pengunjung tersebut. Menurutnya, sebagian besar penikmat seni tidak hanya berfoto bersama karya, tetapi juga berupaya memahami karya lebih dalam.

"Sebagian besar pengunjung ArtJog mengapresiasi karya dengan cara populer, seperti foto. Akan tetapi, tidak sedikit dari mereka yang kemudian membaca konsep karya, kemudian berdialog dengan gallery sitter, bahkan banyak juga yang ikut program Curatorial Tour (tur bersama kurator) dan Meet The Artist (bincang seniman)," jelasnya kepada KRjogja.com, Kamis (31/5/2018). Ami menuturkan, kegiatan Curatorial Tour tahun ini bahkan digelar lima kali lipat lebih banyak dari tahun lalu, mengingat tingginya permintaan pengunjung.

"Untuk Meet The Artist tetap sama frekuensinya seperti tahun lalu, 4 kali, karena padatnya jadwal seniman partisipan. Sedangkan, kuota per sesi tetap 25 – 30 peserta, karena jika terlalu banyak dikhawatirkan menjadi tidak efektif," tuturnya lebih lanjut. Ditambahkan Ami, seni kini semakin bisa dinikmati masyarakat luas, tidak hanya generasi milenial yang doyan swafoto. Ia menjelaskan, program Curatorial Tour tahun ini didukung oleh Dinas Kebudayaan (Disbud) DIY dan setiap karyawan serta tenaga honorer Disbud bisa mengikuti program tersebut.

"Disbud menjadwalkan khusus sebanyak 4 kali, yang pertama untuk karyawan/karyawati dan tenaga honorer disbud DIY, kedua untuk kelompok pendamping budaya dan seni, yang ketiga untuk edukator dan duta museum DIY dan yang terakhir untuk guru kesenian SMA/SMK," tandasnya. (M-1)