KOLOM Editor : Danar Widiyanto Kamis, 31 Mei 2018 / 20:55 WIB

Peduli Sesami

TIDAK berlebihan ketika kita konsentrasikan pemaknaan kata lita'arafuu, untuk saling memahami (QS-49: 13), kali ini dengan memahami perbedaan antarkelas ekonomi dalam masyarakat, class cleavage dari aneka dimensi keragaman yang diciptakan Allah SWT. Keragaman yang diingatkan oleh ayat tersebut memang sangat multidimensi, mulai dari perbedaan kelamin laki-perempuan, berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, dan aneka perbedaan lain yang tersirat.

Konsentrasi pemaknaan dimaksud sambung dengan upaya penguatan rasa simpati dan empati terhadap kehidupan sang papa dengan segala keterbatasan materialnya, yang diajarkan melalui kewajiban berpuasa Ramadan. Dalam waktu puasa itu pula kita diingatkan betapa pentingnya HAM paling esensial, yaitu Hak Atas Pangan, HAP, yang harus dipenuhi tidak hanya oleh lembaga struktural seperti pemerintah, amil zakat, dan lainnya; tetapi juga oleh setiap manusia yang berpuasa melalui membayar zakat sebagai pelunas puasa atas nama HAP, yang batas pembayarannya adalah qablas shalaah, sebelum shalat Idul Fitri.

Zakat fitrah ini tentu adalah tingkat minimal kewajiban zakat yang harus dibayarkan dalam pemenuhan HAP. Aneka zakat dikenakan pula terhadap seluruh pemilikan: khud min amwalihim shadaqah (QS-9: 103) dengan skema pembayaran beragam menurut jenis kekayaannya. Oleh karena keistimewaan yang dijanjikan oleh Allah dalam bulan Ramadan kepada hamba-Nya yang menjalankan berbagai ibadah di bulan yang disebut sayyidus syuhuur, penghulu bulan, maka banyak yang memilih menempatkan Ramadan sebagai titik pathokan waktu untuk berhitung tentang zakat apapun, tidak hanya zakat fitrah.

Gairah pembayaran zakat pun nampak begitu menggembirakan karena penghayatan orang yang puasa akan peran pembayaran zakat sebagai sarana untuk membersihkan dan mensucikan diri, tuthahhiruhum wa tuzakkiihim biha (QS-9; 103), yang disambung pemahaman publiknya dengan QS-87: 14-15, qad aflaha man tazakka wa dzakara isma Rabbihi fa shalla: sungguh beruntung orang yang mensucikan diri, dan (kemudian) mengingat Tuhannya, lalu dia salat; dengan mengingat bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik: wa al-khiratu khairun wa abqa (QS-87: 16). Juga QS-91:9: qad aflaha man zakkaha, sungguh beruntung orang yang mensucikannya. Mumpung waktunya adalah Ramadan yang sangat mulia, begitu kira-kira.  

Semangat bersegera dan bergairah melakukan pembayaran zakat mumpung Ramadan itupun gayut dengan peringatan Rasulullah SAW tentang waktu terbaik dalam hadits populernya: ightanim khamsan qabla khamsin: manfaatkan yang lima sebelum lima lainnya. Mumpung masih muda-sehat-kaya-sempat-hidup sebelum keburu tua-sakit-miskin-'sebuk'-mati, tentu untuk tidak merugi (QS-103: 1-5). Sunan Kalijaga dalam tembang lir-ilir menyederhanakan nasehat tentang waktu ini dalam kalimat: mumpung padhang rembulane, mumpung jembar kalangane.

Keistimewaan menyisihkan rezeki merupakan kebajikan luar bisa. Ketika tujuan utama puasa Ramadan adalah agar supaya kita semua bertaqwa: la'allakum tattaquun (QS-2: 173), maka Allah juga menegaskan pentingnya membersihkan rezeki sebagai kriteria utama mereka yang bertaqwa: al-ladzina yunfiquna fi as-sarra-i wa al-dharra-i, yaitu mereka yang menafkahkan rezekinya, baik dalam waktu lapang maupun sempit (QS-3: 134).

Kemarakan peduli sesami dalam bentuk beragam gairah membayar zakat dan alokasi pemanfaatan rezeki untuk memenuhi HAP dan lainnya di bulan Ramadan jelas menemukan momentumnya. Mumpung masih dalam bulan Ramadan dan dengan potensi kontribusi yang luar biasa dalam peningkatan ketaqwaan sebagai tujuan utama diwajibkannya puasa. Begitulah semangat pembayaran zakat bagi mereka yang tidak mau ketinggalan kereta.

Sekali lagi, segala gairah dan semangat berzakat dimaksud muncul semata karena senantiasa ingat: mumpung padhang rembulane, mumpung masih bulan Ramadan, dan .... mumpung masih bisa bernafas.... Semoga meningkatlah pula derajat ketaqwaan kita semua... insya Allaah....(Prof Dr KH Mochammad Maksum Machfoedz, Wakil Ketua Umum PBNU dan Guru Besar Agroindustri UGM)