Jateng Editor : Ivan Aditya Selasa, 29 Mei 2018 / 10:45 WIB

Antisipasi Arus Pengungsi, Pemkab Boyolali Maksimalkan Sister Village

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Antisipasi dampak erupsi Merapi yang saat ini berstatus Waspada, Pemkab Boyolali sudah melakukan intervarisir jumlah dan lokasi untuk pengungsian. Selain untuk warga, lokasi pengungsian juga disiapkan untuk hewan ternak yang jumlahnya ribuan ekor.

Kasi Kedaruratan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Boyolali, Kurniawan Fajar Prasetyo menjelaskan, untuk warga Boyolali yang berada di wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III atau wilayah dalam radius 3 km dari puncak Merapi, yakni di Dusun Stabelan, Desa Tlogolele sebanyak sekitar 800 warga. Bila harus mengungsi, mereka akan diungsikan ke wilayah Mertoyudan dan sekitarnya di Kabupaten Magelang, yang secara geografis lebih mudah dijangkau masyarakat Stabelan bila terjadi bencana.

Baca juga :

Suhu Kawah Merapi 147 Derajat, Begini Penjelasan BPPTKG DIY

Dievakuasi, Ternak Milik Warga Merapi Bakal Ditampung di Lokasi Ini

Status Waspada Merapi, Tagana Sleman Adakan Apel

"Kemarin sudah kita inventarisir untuk jumlah pergerakan pengungsian jika aktivitas erupsi Merapi meningkat, misal jumlah warga, armada kendaraan, hingga hewan ternak. Jalur evakuasi juga sudah kita cek," kata kepada KRJOGJA.com, Selasa (29/01/2018).

Sementara untuk wilayah KRB II atau radius 5 km dari puncak, meliputi belasan tujuh desa di Selo dan Musuk, dengan jumlah warga mencapai belasan ribu jiwa, lokasi pengungsian adalah desa sister village masing-masing desa yang sudah disepakati sebelumnya sebagai bagian dari kerja sama antar desa dalam kondisi kebencanaan. Misal Desa Samiran di Kecamatan Selo, akan diungsikan ke Desa Mudal, Boyolali Kota.

Dalam konsep sister village ini, pengungsi akan tinggal di rumah-rumah penduduk yang sudah disepakati sebelumnya. Tak hanya untuk warga, konsep sister village juga mencakup lokasi pengungsian untuk hewan ternak, terutama sapi yang menjadi hewan ternak utama penduduk di wilayah Selo dan Musuk.

"Ada ribuan hewan ternak yang juga harus diungsikan. Sehingga lokasinya juga harus kita persiapkan jika ada arus pengungsian," tambahnya.

Selain melalui sister village, pihaknya juga mulai mendata lokasi-lokasi, terutama di wilayah Kota Boyolali, yang bisa menjadi tempat penampungan pengungsi. Misal gedung-gedung kantor instansi daerah yang mampu menampung hingga 200 pengungsi serta tanah lapang untuk lokasi tenda-tenda pengungsian.

Lokasi tersebut akan diperuntukkan untuk pengungsi yang tak tertampung di sister village. "Kalau terjadi arus pengungsian, gedung-gedung pemerintah yang kosong akan kita gunakan," tandasnya. (Gal)