DIY Editor : Ivan Aditya Sabtu, 26 Mei 2018 / 13:29 WIB

Pemuda Yogya Nekat Jelajahi Trans Papua Seorang Diri

YOGYA, KRJOGJA.com - Hermitianta Prasetya (32) pemuda asal Yogyakarta ini sekilas terlihat biasa saja, namun siapa sangka hasrat menjelajah dan keinginannya untuk tahu lebih dalam tentang kehidupan masyarakat Papua mampu membawanya menjelajah pulau Mutiara Hitam itu. Dengan menggunakan motor trail miliknya, pemuda yang akrab disapa Mimit ini melintasi jalan Trans Papua sepanjang 1.000 kilometer seorang diri.

Berbekal sedikit pengalaman bekerja di tanah Papua, Mimit yang dulu pernah berprofesi sebagai wartawan ini memulai perjalanan panjangnya. Ia membelah daratan Papua di jalan yang juga pernah dilalui Presiden Jokowi saat ‘ngevlog’ menaiki trail.

Sepulang kembali ke Yogyakarta, Mimit menceritakan pengalamannya itu. Berbagai hal menarik pun dikisahkannya untuk mengenalkan lebih dekat wajah asli Papua yang sering luput dari pandangan masyarakat negeri ini.

Perjalanan Mimit dimulai pada 6 Maret 2018 dari Tenambinuan, Sorong Selatan menuju Kumurkek Maybrat. Ia kemudian berlanjut menuju Kota Manokwari, Sausapor Tambrauw dan selesai di Kota Sorong. Tak tanggung-tanggung, perjalanan dengan total 1.188 kilometer berhasil ditempuh hingga usai pada 1 April 2018.

“Awalnya modal ‘selo’ saja karena kebetulan ada motor di Papua dan punya waktu setelah bekerja di Sorong sejak Februari 2017 lalu. Akhirnya saya memutuskan untuk menjelajah jalur darat Trans Papua yang dimulai 6 Maret sampai akhirnya selesai 1 April 2018 di Kota Sorong, total perjalanan sejauh 1.188 kilometer,” kisah Mimit kepada KRJOGJA.com, Sabtu (26/05/2018).

Dari perjalanan yang sebenarnya telah diawali cukup lama dari Kota Sorong tempatnya melakukan penelitian, Mimit pun menemukan banyak hal yang tak pernah diduganya selama ini tentang Papua. Hal-hal yang tak pernah ditemukannya selama ini kini dapat dilihatnya secara langsung dan berinteraksi dengan penduduk sekitar.

“Papua itu luas. Orang tahu Papua hanya sepotong-sepotong saja dari cerita orang, dari media massa, bahkan orang yang sudah mengalami di Papua belum tentu bisa menjelaskan secara utuh Papua itu seperti apa. Jadi bagiku perjalanan 1.000 kilometer kemarin mencerahkanku tentang sebagian Papua yang sudah kujelajahi,” ungkapnya menambahkan.

Dalam perjalanan yang diakuinya tak cukup mudah dan memerlukan persiapan matang ini, Mimit juga mampu menemukan Papua secara lebih mendalam. Bertemu orang-orang hebat yang berjuang untuk masyarakat setempat hingga mendapati fakta pangan berlimpah menjadi hal tak terlupakan yang lantas mengubah pandangannya tentang tanah emas Papua.

“Aku menemui orang-orang yang memang punya perhatian dan perjuangan nyata terhadap masyarakat Papua. Seperti Johanis Sundoy yang memperjuangkan konservasi penyu sampai mengadakan ritual pemanggilan penyu, juga bertemu Hans Mambrasar yang sudah 30 tahun lebih jadi misionaris keluar masuk hutan. Beliau terlibat pelurusan kasus gizi buruk di Suku Jokbi Joker yang terasing,” tambah pria yang kini menekuni hobi bercocok tanam ini.

Di salah satu distrik yakni Tobouw tepatnya Kampung Syukwes, Mimit bahkan menemukan pemandangan yang luar biasa di mana masyarakat tak pernah kekurangan pangan. Sumber daya alam melimpah di sekeliling, nyatanya membuat Papua keliru jika dibilang punya ketahanan pangan rendah.

“Kalau ada orang bilang di Papua itu serba susah, coba tanya ke orang-orang itu. Saya tiba di Kampung Syukwes, Distrik Tobouw, Kabupaten Tambrauw dibilangin begini, ‘Kalau sudah ada makanan, makan. Kalau tidak ada makanan, ya makan (cari pangan di sekitar)’. Itu adalah pernyataan bahwa di Kampung Syukwes itu pangan berlimpah. Sebagian Papua yang itu tidak kekurangan pangan. Jadi, kalau ada yang bilang orang Papua itu kelaparan atau ketahanan pangannya rendah, coba lihat dulu Papua yang sebelah mana dan benar-benar ditelusur penyebabnya,” sambungnya tersenyum.

Dari nilai mendalam yang didapatkan itulah kemudian Mimit mampu mengesampingkan rasa sakit dari perjalanan yang tidak mudah selama melintasi 1.000 kilometer Trans Papua. Jatuh-bangun hingga pergelangan kaki dan tangan terkilir seakan dilupakan setelah melihat luar biasanya bentang alam dan begitu ramahnya masyarakat di tanah Papua.

“Jatuh bangun sampe pergelangan tangan kanan dan kaki kiri terkilir. Siku kiri lecet, sampai keram dan harus mengendarai motor pakai satu tangan. Yang dilewati ada Gunung Pasir yang curam, tanjakan-turunan dengan batu-batu terlepas, lembah sungai tanpa jembatan sampai jalan rusak ya jadi lalapan tiap hari. Tapi di titik ini aku ingin mengajak siapa saja untuk datang ke Papua menyelami, memahami agar tidak terjebak stereotype yang ada selama ini. Papua itu indah dan luar biasa,” ungkapnya memungkasi pembicaraan. (Fxh)