Jateng Editor : Danar Widiyanto Senin, 21 Mei 2018 / 06:10 WIB

Sempat Redup, Antusiasme Petani Tembakau Boyolali Kini Tinggi

BOYOLALI, KRJOGJA.com - Musim tanam tembakau musim kemarau ini di Boyolali kembali bergairah setelah antusiasme petani sempat redup beberapa musim terakhir karena cuaca tak menentu. Petani bibit tembakau pun sempat kewalahan memenuhi permintaan bibit yang tinggi.

Biyanto (70), petani penyedia bibit tembakau asal Dukuh Surobayan, Desa Dukuh, Kecamatan Banyudono, Minggu (20/5/2018) mengungkapkan, tingginya permintaan bibit membuat ia sudah menolak karena keterbatasan bibit. Terlebih cuaca tak menentu beberapa waktu terakhir, dimana terkadang turun hujan, membuat penyiapan bibitnya tak maksimal. Penyiapan bibit tembakau dari awal hingga siap tanam memakan waktu 45 hari.

"Bibit sangat rentan terhadap perubahan cuaca. Sehingga ada bibit yang mati kalau terkena hujan," terangnya.

Menimbang kondisi tersebut, permintaan bibit yang ia layani hanya dari petani yang sudah memesan sejak lama. Sedang permintaan baru terpaksa ia tolak. Rata-rata petani memesan bibit antara 3 ribu sampai 10 ribu batang dengan satu bibit seharga Rp70. Ia sendiri merawat sekitar 500 ribu batang bibit.

"Ada juga yang memesan hingga 15 ribu batang. Sebab musim tembakau musim ini kembali ramai," jelasnya.

Salah satu petani, Suharyono (45) asal Dukuh Pengging, Desa Jembungan, Kecamatan Banyudono mengatakan, optimisme petani tembakau kali ini karena ia dengar, petani tembakau di wilayah lain seperti Magelang, tak terlalu antusias menanam tembakau karena trauma musim yang tak menentu beberapa musim terakhir. Bahkan saat ini, ia dan petani tembakau lain di Banyudono juga sudah ditawari kerja sama pabrikan rokok, dimana satu kuintal tembakau kering akan dibeli seharga Rp 1 juta.

"Namun saya tolak karena lebih bebas jualnya. Sebab sepertinya harga jual tembakau tahun ini bagus. Tahun lalu harga tembakau bagus sehingga bisa untung cukup banyak," tandasnya. (Gal)