Peristiwa Editor : Tomi sudjatmiko Senin, 14 Mei 2018 / 21:30 WIB

DEMI PERBAIKAN BANGSA

Elite Tak Harus Gengsi Belajar 'Legacy' Pak Harto

JAKARTA, KRJOGJA.com - Kepemimpinan Presiden kedua RI, HM Soeharto yang berbasis kepada nilai Pancasila hingga mampu memengaruhi anak bangsa selama 32 tahun perlu diteladani guna menatap masa depan lebih optimistis. Bahkan, nilai ini mampu mendorong, meningkatkan bahkan mempercepat tercapainya keunggulan dan kejayaan Indonesia diantara bangsa-bangsa lainnya.

Demikian benang merah dari pandangan beberapa tokoh yang pernah menjadi pelaku sejarah perjalanan Jenderal Besar Soeharto dalam memberi kontribusi untuk negeri. Utamanya mereka yang kini mengabdikan dedikasinya untuk kemajuan dunia pendidikan melalui Universitas Trilogi, Jakarta, Senin (14/05/2018).

Hadir sebagai pembicara , Prof  Haryono Suyono (Mantan Menko Kesra), Dr. (HC) Subiakto Tjakrawerdaya (mantan Menteri Koperasi dan UKM), Dr Wisnu Suhardono (Mantan Anggota MPR RI dan Bendahara Yappindo) serta tokoh sentral dari perjalanan Bapak Pembangunan yang tak lain putrinya ini,  Siti Hediati Hariyadi SE atau lebih beken disapa Titiek Soeharto. 

Simbol kepemimpinan Pancasila itu dipersembahkan dalam karya patung yang dibuat seniman Yusman berbentuk karya seni rupa tiga dimensi berbentuk wajah Jenderal Besar HM Soeharto yang ditempatkan di lobi utama Universitas Trilogi. 

Titiek Soeharto didampingi Haryono Suyono dan Subiakto Tjakrawerdaya langsung membuka selubung yang menutup patung Pak Harto sebagai tanda peresmian, yang ditempatkan di lobi utama Universitas Trilogi, Jakarta, Rabu (9/5/2018). 

Subiakto Tjakrawerdaya selaku Ketua Yappindo (yayasan yang menaungi Universitas Trilogi) mengatakan peresmian patung Pak Harto bertambah penting karena pada saat ini bangsa Indonesia sedang menghadapi tantangan yang cukup berat, yakni angka kemiskinan yang masih besar, ketimpangan sosial, pengangguran, pertumbuhan ekonomi melambat, tantangan revolusi industri 4.0 agar mampu  berkompetisi global dan berdaya saing. 

"Adalah menjadi tugas dan kewajiban Kita bersama untuk makin percaya dan setia kepada Pancasila serta terus mengamalkannya secara murni dan konsekuen menjawab berbagai tantangan yang makin rumit, luas dan beragam ini. Elit diharapkan tak malu untuk belajar tentang legacy atau kepemimpinan ini," ujar mantan Anggota MPR RI ini.

Tak hendak membela Soeharto, mantan pembantu presiden dalam Kabinet Pembangunan III ini mengingatkan fakta-fakta success story 'The Smiling General' yang juga sejatinya perlu dipahami generasi kekinian.

"Soeharto dalam usia 28 tahun berhasil memimpin pasukan merebut Yogyakarta dari Belanda dikenal sebagai Peristiwa Serangan Umum 1 Maret dan memimpin operasi Trikora untuk pembebasan Irian Barat (1961). penumpasan pengkhianatan G30S/PKI (1965) dan hingga terbitlah Supersemar menjadi awal kepemimpinannya sebagai Presiden RI hingga 32 tahun," urai Subiakto.

Dia menjelaskan Indonesia   mendapatkan pengakuan internasional dengan Lima piagam penghargaan. Salah satu dari Badan Pangan PBB yakni FAO karena Indonesia sukses swa sembada beras, hingga akhir Pelita VI (1997). "Saat itu Indonesia meraih masa kejayaannya hingga melalui TAP MPR, telah menetapkan Pak Harto sebagai 'Bapak Pembangunan'," urai Subiakto. 

Haryono Suyono yang kala itu menjadi pembantu Soeharto sebagai Menko Kesra/Kepala BKKBN juga mengingatkan program KB yang diakui PBB sebagai program kesuksesan pemerintahan order baru.  "Lalu apa yang sudah dipersiapkan pemerintah dengan pengembangan SDM terampil saat Indonesia mendapatkan bonus demografi yang akan dialami Indonesia pada tahun 2020-2030 jika tanpa perencanaan yang terarah, terukur dan sustain," ujar mantan Ketua Yayasan Damandiri ini. 

Sementara itu Titiek Soeharto, mewakili keluarga, menginginkan karya dan prestasi Pak Harto bisa menjadi inspirasi seluruh civitas akademika Universitas Trilogi dapat meneruskan perjuangan Pak Harto dalam menjawab tantangan zaman dan memberi solusi perbaikan bangsa ini menjadi lebih baik dan sejahtera untuk tumpah darah Indonesia. Bukan sekelompok golongan saja. (Ati)