Jateng Editor : Danar Widiyanto Minggu, 13 Mei 2018 / 14:51 WIB

WARGA TIDAK MENDAPAT INFORMASI PERKEMBANGAN MERAPI

Penutupan Radio Komunitas Relawan Disesalkan

KLATEN, KRJOGJA.com - Sangat disesalkan warga, karena Radio Komunitas Relawan Rasta FM di Banjarjo, Panggang, Kemalang, Klaten tidak menyampaikan informasi perkembangan Merapi, ataupun kewaspadaan bencana, sebelum Merapi erupsi, Jumat (11/5/2018).

Radio tersebut diperintahkan untuk off oleh petugas Balai Monitoring (Balmon) Semarang, sekitar seminggu sebelum erupsi Merapi, dengan alasan belum berijin. Padahal sejak pasca erupsi 2010, radio tersebut menjadi sumber rujukan bagi warga lereng Merapi untuk mendapatkan informasi sekitar perkembangan Gunung Merapi, baik hasil pengamatan relawan secara visual maupun informasi-informasi resmi dari pemerintah.

Kendati ada larangan dari Balmon, ketika terjadi erupsi Jumat (13/5/2018) Rasta FM nekad siaran tanpa ijin. “Kami sudah taat perintah untuk off , namun ketika Jumat pagi Merapi erupsi, saya perintahkan teman-teman untuk siaran, apapun yang terjadi. Ini demi keselamtan warga di seputar lereng Merapi,” kata Koordinator Relawan Turawan Awu dan Induk Balerante, Kecik Arjo, di Posko Turahan Awu Minggu (13/5/2018).

Kecik menjelaskan, radio tersebut, awalnya adalah bantuan dari Pemkab Klaten, pasca erupsi Merapi 2010. Radio tersebut didirikan para relawan murni untuk siaran sosial.

Untuk edukasi terkait kebencanaan, memberikan informasi setiap perkembangan Gunung Merapi, menginformasikan kejadian-kejadian bencana yang terjadi di Indonesia, edukasi pengurangan resiko bencana, juga menyiarakan hasil-hasil pembangunan di Klaten.

Rasta FM, murni sebagai radio komunitas sosial, dengan biaya swadaya yang ditopang oleh keluarga Kecik Arjo dalam operasionalnya.

“Radio ini dulu bantuan dari BPBD Klaten pasca erupsi 2010. Karena sudah lama banyak komponen yang rusak, sudah kami ganti. Segala operasional perawatan, listrik hingga penyiar juga kami yang menanggung. Ini demi memberikan informasi pada masyarakat lereng merapi, agar mereka tahu setiap perkembangan,” jelas Kecik Arjo.

Mengingat pentingnya keberadaan radio komunitas relawan di lereng Merapi tersebut, Kecik meminta pihak instansi terkait untuk memberikan legalitas, sehingga radio bisa terus mengudara.

“Sebenarnya kalau suruh off, itu saya juga senang saja kan tidak perlu mengeluarkan operasional, jutaan rupiah per bulan. Terus siapa yang mau bertanggungjawab dengan nasib warga kalau terjadi lagi seperti kemarin. Tiba-tiba Merapi erupsi warga tidak menerima informasi apapun sebelumnya. Padahal sekitar pukul 05.00 WIB, teman-teman penambang sudah menginformasikan kalau puncak Merapi terlihat kuning dan sebagainya,” jelas Kecik Arjo pula.(Sit)