DIY Editor : Agung Purwandono Sabtu, 12 Mei 2018 / 02:53 WIB

Kisah Pendaki Merapi yang Sedang Masak Saat Erupsi

SHOPAN Pangestu (26 tahun) awalnya tak mengira suara gemuruh di puncak Gunung Merapi adalah pertanda akan terjadi erupsi. Kondisi tersebut biasa dirasakan pendaki di Gunung Merapi. Tidak diduga, itu adalah awal dari peristiwa yang membuat ia dan rombongan asal Sukoharjo sempat panik. 

Shopan bercerita, Jumat (11/05/2018) saat shubuh,  11 orang rombongan pendaki asal Sukoharjo berjalan dari Pasar Bubrah mengejar puncak Merapi.

Terdiri dari lima wanita dan enam pria, rombongan ini berangkat dari basecamp Barameru, Selo, Boyolali pada kamis sore pukul 15.30, dan berhasil mencapai Pasar Bubrah pada pukul 21.00 WIB. Sesuai rencana mereka, untuk mendirikan tenda dan beristirahat tepat di bawah puncak Merapi.

"Kami mendirikan tenda, bermalam di Pasar Bubrah, kami ingin mencapai puncak saat sunrise esoknya," ungkap Shopan Pangestu (26 tahun) salah satu rombongan.

Pagi hari pukul kisaran pukul 5.30 di puncak Merapi terdengar gemuruh dari bawah kawah. Memang bukan hal yang aneh, saat kawah Merapi bergemuruh. Rombongan pendaki pun tak mengira nantinya akan terjadi erupsi.

"Pagi sekali, kisaran saat sunrise  di puncak terdengar gemuruh dan asap dari belerang sudah naik keatas. Memang umum seperti itu, kami tak berpikir akan terjadi erupsi," tambah Shopan.

Pukul 07.00 WIB, tujuh dari sebelas rombongan telah sampai di di pasar bubrah kembali. Mereka yang telah kembali memutuskan membuat sarapan sembari menunggu empat rekan yang masih di puncak. Tak berselang lama, pukul 07.43 WIB gemuruh terdengar lebih keras, disertai getaran yang cukup lama. Kepulan asap terlihat membumbung tinggi di atas puncak merapi.

Shopan sempat mengabadikan video detik-detik saat terjadinya erupsi, tergambar disitu ia sedang memasak bersama rekannya. Video yang diunggahnya melalui akun @shopanpangestu di instagram menjadi salah satu video viral yang mendulang banyak komentar.

“Erupsi,erupsi! Astaghfirullah, berlindung,” Suara pendaki saling saut.

Menurut penuturan Shopan, riuh tedengar teriakan para pendaki saling mengabarkan keadaan yang terjadi. Kepanikan sempat terjadi, ia dan enam rekan yang sedang memasak berusaha tenang. Mereka menunggu empat rekan yang terlihat masih menuruni jalan terjal dari puncak merapi.

"Pendaki juga sempat berlari-lari menjauh. Begitu juga kami, sempat berlari, semua barang sempat kami tinggal," tuturnya.

Tak berselang lama, mereka menyadari bahwa angin mengarah ke selatan. Kepulan asap tak berpotensi ke arah pendaki di pasar bubrah. Keadaan sedikit lebih tenang, rombongan dari Sukoharjo ini pun memutuskan kembali ke tenda dan mengemas barang mereka. Begitu pula dengan para pendaki lain yang sempat berlari, mulai kembali mengemasi tendanya.

Sekitar 30 menit setelah awal getaran terjadi, empat rekan mereka telah sampai di camping ground. Mereka terlihat panik namun tak ada luka-luka berarti yang dialami. Segera rombongan itu berkemas dan memutuskan untuk turun dari Pasar Bubrah menuju basecamp.

Perjalanan turun dari puncak menuju basecamp cukup singkat. Mulai turun sejak kisaran jam 9.00 pagi, beberapa dari rombongan ini sampai di basecamp pukul 11.00 wib. Beberapa diantara mereka paling lambat pukul 13.00 telah sampai di basecamp.

"Beberapa dari rombongan, terutama wanita sedikit lama karena masih dalam tahapan menenangkan diri, ada beberapa yang luka ringan juga hingga harus hati-hati," tambah Shopan.

Shopan dan rekan-rekan yang sampai terlebih dahulu sempat berpapasan dengan para relawan dan tim SAR yang sedang menyisir jalur pendakian. Tercatat tak ada korban jiwa dari sekitar 150 pendaki yang berada di sepanjang jalur pendakian saat erupsi. Beberapa mengalami luka ringan, dan ditangani oleh relawan di basecamp barameru, Selo, Boyolali.

"Menurut informasi dari basecamp ada beberapa pendaki yang panik dan shock, namun bisa ditangani," tutup Shopan.(Hammam Izzuddin)

Baca Juga : 

Panik! Pendaki Lari Selamatkan Diri
Mendaki Merapi, Egi Khawatir Saudara Kembarnya Tidak Bisa Dihubungi